Akurat

Prabowo: Pemimpin Tidak Boleh Punya Rasa Dengki dan Dendam demi Persatuan

Moehamad Dheny Permana | 8 Februari 2026, 14:52 WIB
Prabowo: Pemimpin Tidak Boleh Punya Rasa Dengki dan Dendam demi Persatuan

AKURAT.CO Presiden RI, Prabowo Subianto, kembali menegaskan bahwa kepemimpinan harus dibangun di atas keadilan, persatuan, dan kejernihan hati tanpa diselimuti rasa dendam. 

Pesan itu disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan pada acara Mujahadah Kubro 100 Tahun Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2/2026).

Di hadapan ratusan ribu warga nahdliyin dari berbagai daerah, Prabowo mengingatkan bahwa seorang pemimpin wajib menanggalkan kebencian dan dengki demi menjaga keutuhan bangsa.

Baca Juga: Prabowo: Saya Tidak Akan Mundur Setapak pun Melawan Korupsi

"Tidak boleh pemimpin punya dendam, tidak boleh pemimpin punya rasa benci, tidak boleh pemimpin punya rasa dengki, tidak boleh pemimpin selalu mencari-cari kesalahan pihak lain," kata Prabowo.

Dia menuturkan bahwa nilai tersebut bukanlah hal baru, melainkan ajaran yang diwariskan para ulama dan leluhur bangsa. Menurutnya, perbedaan adalah keniscayaan, namun tidak boleh menjadi alasan untuk saling memecah belah.

"Guru-guru kita, kiai-kiai kita, leluhur kita mengajarkan selalu, tidak boleh ada rasa benci, tidak boleh ada rasa dendam. Berbeda tidak masalah, sesudah berbeda cari persatuan, cari kesamaan," jelas Prabowo.

Presiden juga mengingatkan bahwa musyawarah untuk mufakat merupakan jati diri bangsa Indonesia. Tradisi musyawarah mufakat telah lama dicontohkan oleh NU dalam menjaga harmoni sosial.

"NU selalu memberi contoh, NU selalu berusaha menjaga persatuan. Dan memang itulah pelajaran sejarah," paparnya.

Baca Juga: Presiden Prabowo: Indonesia Jadi Pelopor, Negara Lain Ikut Bangun Kampung Haji di Mekah

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo kembali mengingatkan bahwa bangsa yang kuat hanya bisa terwujud jika para pemimpinnya hidup rukun. Tidak ada bangsa yang kuat, tidak ada bangsa yang bisa maju, kalau pemimpin-pemimpinnya tidak rukun.

"Karena itu saya selalu mengajak semua unsur, mari kita bersatu," tegasnya.

Menurutnya, perbedaan pendapat dalam demokrasi adalah hal wajar, namun tidak boleh menghilangkan semangat persaudaraan.

"Boleh kita bertanding, boleh kita bersaing, boleh kita berbeda, boleh kita berdebat. Tapi di ujungnya semua pemimpin Indonesia, semua pemimpin masyarakat harus rukun, harus menjaga persatuan dan kesatuan," ucapnya.

Dia menambahkan, tujuan besar Indonesia merdeka adalah mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat. Karena itu, persatuan menjadi syarat mutlak untuk menghapus kemiskinan dan membangun masa depan yang lebih baik.

"Bahwa Indonesia yang merdeka harus Indonesia yang adil, harus Indonesia yang makmur. Kita harus bersatu, kita harus bertekad untuk menghilangkan kemiskinan dari bumi Indonesia," katanya. 

Di akhir pidatonya, Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat doa dan ikhtiar bersama agar Indonesia terhindar dari perpecahan dan bencana.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.