Akurat

Jelang Muktamar NU, PBNU Dinilai Butuh Pemimpin yang Teduh dan Mengakar

Fajar Rizky Ramadhan | 8 Februari 2026, 08:21 WIB
Jelang Muktamar NU, PBNU Dinilai Butuh Pemimpin yang Teduh dan Mengakar

AKURAT.CO Kondisi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam setahun terakhir mendapat sorotan dari kalangan internal NU. Sejumlah kontroversi yang muncul dinilai perlu disikapi serius agar tidak berdampak lebih luas terhadap jam’iyyah.

Sorotan tersebut disampaikan mantan Koordinator Bidang Pengkaderan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Ahmad Samsul Rijal. Ia menilai warga Nahdliyyin merindukan kepemimpinan PBNU yang lebih teduh, mengakar, dan mampu menjaga marwah organisasi.

“Publik NU merindukan kepemimpinan yang teduh, mengakar dan kharismatik dengan kualitas pemimpin yang berkarakter serta bisa membangkitkan kebanggaan terhadap organisasi,” ujar Ahmad, Kamis (5/2/2026).

Menurutnya, NU seharusnya tampil sebagai organisasi keagamaan yang menerangi masyarakat dan dijauhkan dari polemik yang berlarut-larut. Ia menyinggung sejumlah isu yang dinilai mencoreng citra PBNU, termasuk tudingan zionisme yang muncul setelah pernyataan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf terkait dukungan terhadap keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) yang digagas mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

“Belitan masalah di PBNU merupakan buah dari kepemimpinan yang melompat-lompat bagai politisi, membawa NU di luar arena khidmat yang semestinya,” kata Ahmad.

Baca Juga: Jelang Muktamar NU, PKB Disebut Siapkan Figur Alternatif Pengaruh Kepemimpinan PBNU

Ia menilai, fokus utama PBNU justru belum tergarap optimal, seperti penguatan ekonomi warga Nahdliyyin, solidaritas di bidang kesehatan, sosial-budaya, serta penguatan spiritualitas umat.

Ahmad berharap Muktamar ke-35 NU dapat menjadi momentum perbaikan kepemimpinan di tubuh PBNU. Ia menilai pergantian kepemimpinan diperlukan agar NU kembali pada jati diri dan khittah perjuangannya.

“Nahdliyyin berharap pengganti pemimpin PBNU nanti, adalah figur-figur yang bisa mengembalikan jati diri NU, menguatkan peran secara efektif, dan menjawab tantangan zaman,” jelasnya.

Dalam pandangannya, Ahmad menyebut beberapa tokoh yang dinilai memiliki ketokohan dan kapasitas untuk memperbaiki kondisi PBNU, di antaranya mantan Wakil Presiden Ma’ruf Amin serta Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, KH Abdussalam Shohib.

“Beliau berdua bisa mengembalikan jati diri NU yang dibanggakan Nahdliyyin, menguatkan akar jam’iyyah, dan menjawab tantangan zaman dengan peran PBNU yang lebih efektif,” tandasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.