Akurat

Rais Aam Alpa di Musyawarah Kubro Lirboyo, Ini Alasannya

Fajar Rizky Ramadhan | 22 Desember 2025, 06:45 WIB
Rais Aam Alpa di Musyawarah Kubro Lirboyo, Ini Alasannya

AKURAT.CO Musyawarah Kubro Nahdlatul Ulama yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Minggu (21/12/2025), kembali berlangsung tanpa kehadiran Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Absennya Rais Aam dalam forum yang digagas para Mustasyar dan sesepuh NU tersebut menjadi sorotan, di tengah upaya mencari jalan islah atas konflik internal PBNU.

Rais Syuriyah PBNU KH Muhibbul Aman Aly menjelaskan bahwa Musyawarah Kubro Lirboyo sejak awal tidak dimaksudkan sebagai forum pembelaan ataupun penghakiman terhadap pihak mana pun. Forum tersebut digelar semata-mata untuk membuka ruang komunikasi langsung antara Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Rais Aam PBNU, yang hingga kini belum terbangun.

“Forum Lirboyo ini tidak membela dan tidak menghukumi siapa pun. Ini semata-mata untuk membangun komunikasi dua belah pihak. Karena sepengakuan Gus Yahya, beliau belum bisa berkomunikasi langsung dengan pihak Rais Aam,” ujar KH Muhibbul Aman Aly, Minggu (21/12/2025).

Baca Juga: Kiai Said Aqil Siroj: Konflik PBNU Memalukan, Jadi Bahan Omongan Banyak Orang

Menurutnya, Rais Aam pada awalnya menyatakan kesediaan untuk hadir dalam Musyawarah Kubro dengan sejumlah syarat. Di antaranya, forum hanya dihadiri para Mustasyar, diupayakan dihadiri Ketua Umum PBNU dan KH Ma’ruf Amin, dilaksanakan secara tertutup tanpa kehadiran wartawan, serta tidak membatalkan keputusan Rais Aam yang telah diambil sebelumnya. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.

“Nampaknya ada pihak yang tidak menginginkan kehadiran KH Miftach ke Lirboyo. Karena itu, menurut saya konflik ini harus diselesaikan melalui muktamar yang benar-benar diakui, bukan muktamar yang justru melahirkan konflik baru,” ujarnya, seraya menyampaikan permohonan maaf karena belum berhasil menghadirkan Rais Aam.

Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, turut menyampaikan keprihatinannya atas dinamika yang berkembang di tubuh PBNU. Ia menilai terdapat sejumlah kejanggalan sejak pertemuan di Hotel Aston, Jakarta, yang kemudian memunculkan prasangka di kalangan warga NU.

Ia mengingatkan bahwa langkah-langkah sepihak berpotensi membawa NU ke arah perpecahan. Menurutnya, jika konflik tidak segera menemukan jalan tengah, NU terancam menghadapi dua muktamar.

“Kalau ulama cekcok, yang rugi adalah umat. Artinya kita semua sepakat islah, tinggal caranya bagaimana. Kalau ini tidak bisa ditempuh, jalan satu-satunya adalah muktamar sebagai jalan akhir,” tegasnya.

Musyawarah Kubro Lirboyo juga diikuti oleh Mantan Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin secara daring. Ia menegaskan bahwa forum tersebut merupakan Musyawarah Kubro ketiga setelah sebelumnya digelar di Ploso dan Tebuireng. Menurutnya, pertemuan ini seharusnya menjadi momentum penting untuk mengakhiri konflik agar tidak terus berlarut-larut.

“Pertama, mendahulukan kemaslahatan jam’iyah daripada kepentingan pribadi. Sejak awal, NU selalu menyelesaikan persoalan melalui musyawarah mufakat atau keputusan muktamar, bukan kehendak mandataris semata,” ujar KH Ma’ruf Amin.

Ia juga mengingatkan bahwa dalih menghilangkan potensi bahaya yang belum nyata justru dapat melahirkan bahaya yang lebih besar, yakni perpecahan jam’iyah. Karena itu, menurutnya, islah dan kembali pada mekanisme muktamar merupakan jalan yang paling maslahat.

Bahkan, jika seluruh upaya tersebut tidak berhasil, KH Ma’ruf Amin mengusulkan agar mandat dikembalikan kepada jam’iyah hingga cabang-cabang menarik mandatnya demi menyelamatkan NU dari perpecahan yang lebih dalam.

Baca Juga: Tokoh NU Desak Rais Aam dan Ketum PBNU Serahkan Mandat kepada Ahlul Halli Wal Aqdi

Di tengah mengerasnya situasi, sejumlah PCNU dan PWNU mulai menyuarakan tuntutan agar segera digelar muktamar yang dinilai legitimate. Bahkan muncul ultimatum bahwa jika dalam waktu tiga hari tidak terjadi pertemuan langsung antara Ketua Umum PBNU dan Rais Aam, dorongan pelaksanaan muktamar akan semakin menguat.

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf sendiri telah menyampaikan jawaban tertulis atas berbagai tudingan yang diarahkan kepadanya. Dalam keterangannya, Gus Yahya menyatakan bahwa tudingan tersebut dapat dipatahkan dengan kondisi riil di lapangan. Ia juga mengenang pesan mendiang KH Maimun Zubair yang menurutnya akan bergembira apabila NU kembali menyelenggarakan muktamar.

“Sebagaimana harapan Mbah Maimun, Muktamar NU digelar di Sarang, Rembang,” ujar Gus Yahya.

Musyawarah Kubro Lirboyo pun ditutup dengan satu pesan utama, yakni islah tetap menjadi jalan penyelesaian yang diutamakan, dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama sebagai rujukan bersama.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.