Akurat

Mantan Ketum PBNU Said Aqil Siroj Prihatin NU Semakin Diremehkan Sebab Urusan Tambang

Fajar Rizky Ramadhan | 11 Desember 2025, 07:30 WIB
Mantan Ketum PBNU Said Aqil Siroj Prihatin NU Semakin Diremehkan Sebab Urusan Tambang

AKURAT.CO Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj menyampaikan keprihatinannya melihat citra NU yang menurutnya semakin diremehkan publik setelah muncul isu konsesi tambang untuk organisasi keagamaan. Ia menilai pemberian izin tambang kepada NU justru membawa lebih banyak masalah daripada manfaat.

Dalam siniar Madilog Forum Keadilan yang tayang di YouTube pada Rabu (10/12/2025), Said menjelaskan bahwa pada awalnya ia mengira izin tambang dari Presiden Joko Widodo merupakan bentuk penghargaan kepada ormas yang berjuang sebelum kemerdekaan.

Namun setelah menelaah dampaknya, ia menilai keputusan tersebut justru merugikan. “Setelah melihat, dengan betul-betul saya merenung dengan objektif, saya menyimpulkan mudaratnya lebih besar,” katanya.

Said menyebut bahwa penerimaan konsesi tambang menimbulkan dinamika baru di tubuh PBNU, termasuk memicu ketegangan antara Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf dan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf. Ia menilai isu tambang telah menjadi sumber friksi yang tidak perlu di dalam organisasi.

Baca Juga: Soal Izin Tambang untuk NU, Said Aqil Siroj: Agar Ormas Lumpuh dan Tidak Kritis pada Pemerintah

Lebih jauh, Said menilai urusan tambang telah mempengaruhi cara publik memandang NU. Ia mengaku sedih ketika membaca komentar warganet yang menurutnya semakin sinis terhadap NU. “Warganet bahkan sudah menganggap NU bukan lagi ormas agama,” ujarnya.

Ia memperingatkan bahwa orientasi NU bisa bergeser jika elite organisasi terlalu terlibat dalam pengelolaan tambang. Menurutnya, perhatian kepemimpinan bisa terpusat pada bisnis, bukan pada misi sosial dan keagamaan.

“Nanti kalau sudah ada tambang, dan komisaris utamanya itu Rais Aam, dirutnya itu ketua umum, nanti 90 persen pikirannya ke sana semua. Agama, persaudaraan, budaya, sosial, hilang semua nanti,” kata Said.

Said juga mengaitkan fenomena ini dengan pengalaman sejumlah negara yang dilanda konflik akibat perebutan sumber daya alam. “Kalau kita lihat, di negara Bolivia, Venezuela, Nigeria, yang tadinya bersatu, kompak, perang saudara gara-gara tambang,” ujarnya.

Ia menyebut ada dua kemungkinan motif pemberian izin tambang kepada ormas. “Secara positive thinking, barangkali itu merupakan tanda penghargaan negara kepada ormas yang berjuang sebelum kemerdekaan Indonesia. Tapi secara negative thinking, bisa dikatakan jebakan. Jebakan sehingga ormas ini akhirnya nanti lumpuh, tidak mampu memberikan kritik,” ujarnya.

Baca Juga: Mantan Ketum PBNU Said Aqil Siroj: Izin Tambang dari Jokowi untuk NU adalah Kutukan

Said menegaskan bahwa sejak didirikan para kiai, NU tidak pernah menjadikan bisnis sebagai orientasi utama. Ia mengakui kebutuhan finansial organisasi, tetapi menolak gagasan bahwa NU harus masuk ke sektor tambang. Ia juga menyinggung bahwa sejak isu tambang mencuat, PBNU dipersepsikan tak lagi kritis terhadap pemerintah.

“Saya dulu kerap mengkritik Jokowi, salah satunya tentang Omnibus Law,” katanya.

Kritik Said menutup dengan keprihatinan bahwa konsesi tambang, yang awalnya dimaknai sebagai peluang, justru berubah menjadi beban moral bagi NU di mata masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.