Estimasi Total Kasus Keracunan Makanan Bergizi Gratis sejak Awal Program Berdiri Beserta Rinciannya

AKURAT.CO Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah di Indonesia. Namun, sejak awal program berjalan pada Januari 2025, sejumlah kasus keracunan mulai muncul di berbagai daerah. Hingga pertengahan September 2025, tercatat 556 siswa dari SD, SMP, hingga SMA mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu MBG. Dari kasus-kasus ini, mayoritas gejala ringan, sementara beberapa siswa membutuhkan perawatan intensif di fasilitas kesehatan.
Kasus terbaru terjadi di Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang kembali menyorot perhatian publik tentang keamanan makanan dalam program ini. Berikut rangkaian kronologi dan fakta pentingnya.
Kronologi Kasus Keracunan MBG di Indonesia
Sejak program MBG resmi berjalan, sejumlah kasus keracunan dilaporkan di berbagai wilayah:
-
13 Januari 2025 – Nunukan Selatan, Kalimantan Utara: Sebanyak 59 siswa mengalami mual dan diare setelah mengonsumsi MBG.
-
16 Januari 2025 – Sukoharjo, Jawa Tengah: 50 siswa mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi ayam MBG.
-
18 Februari 2025 – Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan: 8 siswa keracunan setelah makan ikan MBG.
-
21 April 2025 – Kabupaten Cianjur, Jawa Barat: 165 siswa dilaporkan menderita keracunan setelah menyantap nasi, mi goreng, ayam suwir, tempe mendoan, dan semangka MBG. Beberapa siswa membutuhkan perawatan singkat di fasilitas kesehatan.
-
2 September 2025 – Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan: 80 siswa mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi MBG.
-
16–17 September 2025 – Kabupaten Garut, Jawa Barat: 194 siswa dari SD, SMP, hingga SMA mengalami gejala keracunan. Dari total ini, 177 mengalami gejala ringan, sementara 19 lainnya membutuhkan perawatan intensif di Puskesmas Kadungora. Mayoritas korban berasal dari Kecamatan Kadungora, dengan menu yang disajikan berupa nasi putih, ayam woku, tempe orek, lalapan sayur, dan stroberi.
Jika dijumlahkan, total korban keracunan MBG hingga pertengahan September 2025 mencapai 556 siswa.
Kasus Garut: Gejala, Penanganan, dan Investigasi
Peristiwa di Garut menjadi perhatian khusus karena melibatkan banyak siswa dari berbagai jenjang sekolah. Beberapa fakta penting:
-
Sebagian besar siswa merasakan mual, muntah, pusing, dan lemas setelah mengonsumsi MBG.
-
Kepala Seksi Humas Polres Garut, Ipda Adi Susilo, menjelaskan:
“19 korban yang membutuhkan perawatan intensif terdiri atas 12 siswa MA Maarif Cilageni, 3 siswa SMP Siti Aisyah, 1 siswa SMA Siti Aisyah, dan 3 siswa SDN 2 Mandalasari.”
-
Kepala SMA Siti Aisyah, Hari Triputuharja, menambahkan bahwa sekitar 30 siswa terdampak di sekolahnya, dengan empat di antaranya harus dirujuk ke Puskesmas.
-
Wakil Bupati Garut, Luthfianisa Putri Karlina, meninjau langsung para siswa yang menjalani perawatan dan memastikan bahwa biaya pengobatan seluruh siswa akan ditanggung Pemkab Garut.
-
Dinas Kesehatan Garut mengambil sampel makanan yang diduga memicu keracunan, meski hasil uji laboratorium belum keluar. Kepala Bidang P2P Dinkes Garut, Asep Surachman, menegaskan bahwa mereka menyiapkan formulir daring untuk mendata kemungkinan adanya korban tambahan.
Kasus Garut ini menegaskan pentingnya pengawasan kualitas makanan MBG, meski tujuan program secara umum tetap positif untuk meningkatkan gizi anak sekolah.
Dampak Program MBG dan Langkah Pemerintah
Program MBG sendiri menjangkau sekitar 3 juta siswa di seluruh Indonesia. Meski sejumlah kasus keracunan muncul, pemerintah menekankan bahwa tingkat keberhasilan program tetap tinggi, dengan sebagian besar penerima manfaat aman dari keracunan. Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa dari 3 juta penerima, hanya sekitar 200 kasus yang dilaporkan, dan mayoritas gejalanya ringan, sementara hanya 5 siswa yang memerlukan perawatan inap.
Namun, kejadian berulang seperti di Garut menunjukkan bahwa kualitas dan keamanan makanan harus terus ditingkatkan. Pemerintah daerah dan pihak sekolah bekerja sama untuk memastikan prosedur distribusi, penyimpanan, dan penyajian makanan dilakukan sesuai standar kesehatan.
Kesimpulan
Program MBG membawa manfaat besar bagi anak-anak Indonesia dengan meningkatkan gizi mereka, tetapi beberapa kasus keracunan menunjukkan perlunya evaluasi lebih lanjut. Dari total 556 siswa yang mengalami keracunan, mayoritas gejalanya ringan, namun beberapa siswa membutuhkan perawatan intensif. Pemerintah dan pihak terkait terus melakukan investigasi untuk memastikan keamanan makanan, sambil menjaga agar program tetap berjalan dan memberi manfaat bagi penerima.
Baca Juga: 5.000 Dapur MBG Diduga Fiktif, Komisi IX DPR Minta Pemenuhan Gizi Anak Tak Terhambat
Baca Juga: Anggaran di 2026 Naik, BGN Pastikan Biaya MBG Tetap Rp10 Ribu per Porsi
FAQ
1. Apa itu Program Makan Bergizi Gratis (MBG)?
Program MBG adalah inisiatif pemerintah yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan gizi anak sekolah di Indonesia melalui penyediaan makanan bergizi di SD, SMP, dan SMA.
2. Berapa total siswa yang mengalami keracunan akibat MBG hingga saat ini?
Hingga pertengahan September 2025, tercatat 556 siswa mengalami keracunan setelah menyantap MBG di berbagai wilayah di Indonesia.
3. Di mana saja kasus keracunan MBG terjadi?
Kasus dilaporkan di beberapa daerah, termasuk Nunukan Selatan (Kaltara), Sukoharjo (Jateng), Empat Lawang dan Ogan Komering Ilir (Sumsel), Cianjur dan Garut (Jabar).
4. Apa gejala yang dialami siswa yang keracunan MBG?
Mayoritas siswa mengalami mual, muntah, pusing, sakit perut, dan lemas. Beberapa siswa yang gejalanya lebih berat harus dirawat di Puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya.
5. Bagaimana pemerintah menangani kasus keracunan MBG?
Pemerintah daerah dan pihak kepolisian menindaklanjuti kasus dengan mendata korban, meninjau lokasi, mengirim sampel makanan dan muntahan ke laboratorium, serta menanggung biaya pengobatan siswa.
6. Apa penyebab keracunan MBG?
Penyebab pasti masih dalam investigasi. Dinas Kesehatan mengambil sampel makanan untuk uji laboratorium. Dugaan sementara menunjukkan adanya kontaminasi, namun jenis kontaminasi belum dipastikan.
7. Apakah program MBG tetap berjalan meski ada kasus keracunan?
Ya, program tetap berjalan. Pemerintah menekankan bahwa mayoritas penerima manfaat aman, dan langkah pengawasan kualitas makanan terus ditingkatkan.
8. Berapa siswa yang mengalami gejala berat di kasus terbaru Garut?
Di Garut, dari 194 siswa yang terdampak, 19 siswa memerlukan perawatan intensif di Puskesmas Kadungora, sementara 177 lainnya mengalami gejala ringan.
9. Bagaimana orang tua bisa memastikan anak aman saat MBG?
Orang tua dapat berkoordinasi dengan sekolah untuk memastikan penyajian makanan dilakukan sesuai standar kebersihan dan kualitas, serta melaporkan segera bila anak mengalami gejala keracunan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









