Akurat

Mantan Napiter Ingatkan Ancaman Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme Masih Mengintai di Usia 80 Tahun RI

Wahyu SK | 12 Agustus 2025, 19:58 WIB
Mantan Napiter Ingatkan Ancaman Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme Masih Mengintai di Usia 80 Tahun RI

AKURAT.CO Delapan dekade merdeka, Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam menjaga persatuan dan keamanan bangsa. Ancaman intoleransi, radikalisme dan terorisme, meski tidak selalu tampak di permukaan, tetap mengintai dan beradaptasi dalam bentuk baru.

Peringatan itu disampaikan Ustaz Suryadi Mas'ud, mantan narapidana terorisme yang pernah terlibat dalam penyerangan kawasan Sarinah, Jakarta.

Dia menilai, beberapa daerah, termasuk Makassar, masih menjadi tempat tumbuhnya kelompok radikal yang mengancam stabilitas nasional.

Baca Juga: Prabowo Kutuk Serangan Terorisme di India: Tak Bisa Dibenarkan Apapun Motifnya

"Dari pengalaman saya, sampai sekarang kita belum benar-benar bebas dari tiga hal itu. Dulu di Makassar ada gerakan DI/TII, RPII, Gerakan Andi Azis dan lainnya. Bibit-bibit itu masih ada. Hanya saja kini mereka bertransformasi, misalnya masuk dalam jaringan seperti ISIS," jelas Suryadi, melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (12/8/2025).

Dia mengatakan, kedaulatan sejati baru tercapai jika Indonesia mampu lepas sepenuhnya dari ancaman ideologi yang memecah belah.

Suryadi mengkritisi masih adanya narasi kelompok radikal yang seolah mendapat pembenaran dari sebagian pihak, sehingga membelokkan persepsi masyarakat.

Baca Juga: Membumikan Semangat Kartini: Dari Emansipasi Menuju Partisipasi Perempuan dalam Penanggulangan Terorisme

Baginya, perayaan HUT RI seharusnya menjadi momen untuk mengingat pengorbanan para pahlawan yang berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Dia menyebut banyak orang terjerumus ke paham radikal karena minim pengetahuan sejarah bangsa dan hanya mendengar narasi sepihak.

"Saya dulu hanya menerima narasi keagamaan dan sejarah dari satu sisi, tanpa pembanding. Saat SMA, saya mulai melihat Indonesia sebagai negara yang batil. Saya tidak memikirkan perjuangan para pahlawan," Suryadi mengenang.

Baca Juga: Pentingnya Tata Kelola dan Kolaborasi Global dalam Pemberantasan Ekstremisme dan Terorisme

Dia juga menyoroti masifnya penyebaran propaganda radikal di dunia maya. Generasi muda, khususnya Gen-Z, menjadi target empuk bukan hanya karena isi pesannya tetapi juga kemasannya yang kreatif dan menarik.

Sementara narasi tandingan tentang nasionalisme dan kebhinekaan masih disajikan secara monoton.

"Anak-anak tidak bisa menerima narasi kebangsaan yang membosankan. Gaya penyampaiannya harus sesuai zaman. Kisah para pahlawan harus diangkat agar generasi muda mengerti pentingnya menjaga keutuhan bangsa," kata Suryadi.

Baca Juga: Refleksi 2025, Menihilkan Serangan Terorisme untuk Menjaga Indonesia yang Harmoni

Suryadi mengaku pengalamannya menjadi bukti kegagalan memahami kompromi para pendiri bangsa terkait kemajemukan Indonesia.

Dia mendorong semua pihak yang berkomitmen memberantas intoleransi dan radikalisme untuk bersatu, mengingat para pelaku teror memiliki solidaritas yang kuat.

Seraya mengingatkan pentingnya menyesuaikan pesan pencegahan radikalisme dengan kondisi budaya setempat.

Baca Juga: Hari Santri Nasional Momentum bagi Santri Proaktif Lawan Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme

"Jangan memaksakan narasi umum yang tidak sesuai dengan lingkungan sasaran. Sayang sekali jika sumber daya sudah keluar tapi pesannya tidak mengena," ujar Suryadi.

Suryadi sendiri pernah bergabung dengan Al Qaeda di Moro, Filipina, kemudian terlibat aksi Bom Bali I sebagai pengirim bahan baku, bom McDonald Makassar hingga serangan teroris di Sarinah, Thamrin.

Dia tiga kali keluar masuk penjara hingga titik balik terjadi saat mendekam di Lapas Pasir Putih.

Baca Juga: Geger! Senator AS John Kennedy Tuduh Aktivis Muslim Dukung Terorisme, Respons Berani Maya Berry Curi Perhatian

Di sana, Suryadi ditempatkan di sel isolasi, hanya melihat matahari enam bulan sekali.

Masa sepi itu digunakan Suryadi untuk membaca karya-karya para ulama yang kemudian membuka jalan baginya untuk meninggalkan jalan kekerasan atau terorisme.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

O
Reporter
Oktaviani
W
Editor
Wahyu SK