Akurat

Di Depan Menlu AS, Sugiono Desak Kebijakan Visa Pelajar yang Lebih Inklusif

Atikah Umiyani | 13 Juli 2025, 12:26 WIB
Di Depan Menlu AS, Sugiono Desak Kebijakan Visa Pelajar yang Lebih Inklusif

AKURAT.CO Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, mendorong penguatan kemitraan strategis ASEAN dengan Amerika Serikat (AS). Tidak hanya dalam menjaga stabilitas kawasan, tapi juga dalam mendorong pertumbuhan inklusif berbasis nilai.

Dalam forum ASEAN–US Post-Ministerial Conference (PMC) yang turut dihadiri oleh Menlu AS Marco Rubio, dia menekankan bahwa AS adalah mitra pertumbuhan dan mitra perdamaian bagi ASEAN.

Dia menyoroti capaian konkret yang telah berdampak langsung bagi masyarakat, termasuk melalui pendirian ASEAN–US Center di Washington DC pada 2023 guna memperkuat visibilitas ASEAN di AS.

Baca Juga: China Resmi Berlakukan Bebas Visa Transit 10 Hari untuk WNI, Berlaku di 24 Wilayah

Untuk melanjutkan momentum tersebut, Indonesia juga mengapresiasi dukungan bipartisan yang kuat dari Parlemen AS terhadap ASEAN Act, yang semakin memperkuat komitmen jangka panjang AS terhadap kawasan.

Bersamaan dengan itu, Sugiono juga menekankan bahwa kerja sama pendidikan tetap menjadi pilar penting dalam hubungan antar masyarakat. Saat ini, lebih dari 8.000 pelajar Indonesia menempuh studi di AS.

"Para pelajar ini bukan hanya penimba ilmu, tetapi juga jembatan strategis kemitraan kita. Kami berharap kebijakan visa yang lebih inklusif dapat mendukung investasi jangka panjang ini," ucap Sugiono, di Kuala Lumpur, Malaysia, dikutip Minggu (13/7/2025).

Di sisi lain, Sugiono juga menyampaikan harapan ASEAN agar AS terus mendukung perdagangan yang terbuka dan adil, termasuk melalui ASEAN–US Trade and Investment Framework Arrangement (TIFA).

Baca Juga: DPR Kawal Kasus Gagalnya Visa Haji Furoda, Puan: Akan Didalami Serius

Sebagai mitra perdamaian, Sugiono menekankan bahwa penghormatan terhadap hukum internasional harus menjadi landasan bersama dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang terus memanas.

Secara khusus, dia menyoroti krisis kemanusiaan di Gaza sebagai konsekuensi dari pelanggaran prinsip hukum internasional.

"Tragedi kemanusiaan di Gaza harus menjadi penggerak bagi kita semua. Indonesia kembali menyerukan gencatan senjata permanen, akses kemanusiaan tanpa hambatan, dan jalan kredibel menuju solusi dua negara sesuai resolusi PBB," tegas Sugiono.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.