Akurat

Berkaca dari Konflik Iran-Israel, DPR Minta Tinjau Ulang Sistem Pertahanan Nasional

Paskalis Rubedanto | 23 Juni 2025, 21:40 WIB
Berkaca dari Konflik Iran-Israel, DPR Minta Tinjau Ulang Sistem Pertahanan Nasional

AKURAT.CO Komisi I DPR mempertanyakan kembali konfigurasi sistem pertahanan nasional menyusul meningkatnya intensitas perang berteknologi tinggi di Timur Tengah. 

Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto, mengatakan serangan militer AS ke fasilitas nuklir Iran yang menggunakan bomber siluman B-2 baru-baru ini, menjadi peringatan bahwa peperangan modern tak lagi mengandalkan jumlah personel semata.

"Perang saat ini sudah pakai alat-alat canggih. Mohon maaf, nanti Panglima, Menhan, para kepala staf, masih perlukah konfigurasi personel seperti itu? Sekarang Angkatan Darat 370.000 orang, Angkatan Udara 40.000 orang, dan Angkatan Laut 70.000 orang," kata Utut kepada wartawan, di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Senin (23/6/2025).

Baca Juga: Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, DPR RI Minta Pemerintah Gerak Cepat Siapkan Alternatif

Serangan AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran, disebutnya sebagai bentuk transformasi wajah peperangan masa kini yang didominasi teknologi presisi dan stealth. 

Hal ini tentunya menuntut Indonesia, untuk memperkuat sumber daya manusia berbasis keilmuan tinggi, bukan hanya jumlah. "Jadi kita harus perbanyak ahli metalurgi, ahli ilmu IT, ahli radar. Dia punya material," tegasnya.

Utut menilai, fokus modernisasi pertahanan ke depan harus menyasar kompetensi teknologi dan digitalisasi alutsista. Dalam konteks itu, pembangunan kualitas SDM pertahanan menjadi prioritas yang tak bisa ditawar.

Meski demikian, dia tetap menyerukan pentingnya menahan diri dalam merespons konflik. Dia mengingatkan agar seluruh pihak, termasuk elite, tidak menambah panas suasana yang sudah genting.

"Kita menahan dirilah. Kita juga berkomentar yang tidak memancing suasana tambah panas sebab kalau udah panas ini bahaya sekali," tutup Utut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.