AKURAT.CO Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan green economy atau ekonomi berkelanjutan, salah satunya dengan memanfaatkan bonus demografi.
Bonus demografi yang terjadi dapat dimanfaatkan dengan modal strategis mengembangkan green economy dari kekayaan laut dan darat, serta potensi energi terbarukan seperti angin, matahari, geotermal dan ombak laut, serta sumber daya bio seperti kelapa sawit.
Baca Juga: BKKBN: Bidan Kunci Bonus Demografi 2045, Tapi Gizi Buruk Jangan Diabaikan
"Kuncinya adalah making the best of atau memanfaatkan sebaik-baiknya potensi yang kita miliki (termasuk bonus demografi)," kata Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno, saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat I, Angkatan LXIII Tahun 2025 yang diselenggarakan Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI pada Selasa (10/6/2025).
Menurutnya, transisi menuju ekonomi hijau membutuhkan kesadaran kolektif, dan salah satu cara yang efektif adalah melalui penguatan gerakan sosial di masyarakat.
Baca Juga: Kemendukbangga Luncurkan Program Quick Win Persiapkan SDM Menuju Bonus Demografi
"Gerakan lingkungan bisa dibentuk melalui tradisi di sekolah, peran tokoh agama, budaya lokal. Bahkan lewat hobi anak muda seperti olahraga dan musik," kata Pratikno.
Dia juga menekankan bahwa pemanfaatan bonus demografi harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam menghadapi era disrupsi yang bergerak sangat cepat akibat perkembangan teknologi.
Baca Juga: Efisiensi Anggaran Sektor Pendidikan Dikhawatirkan Hambat Bonus Demografi
Menurut Pratikno, ke depan, banyak jenis pekerjaan dan keterampilan akan tergantikan oleh kebutuhan akan future skills dan future knowledge.
"Skill yang paling fundamental menghadapi disrupsi adalah menjadi agile learner, yaitu pembelajar yang adaptif dan terus berkembang," ujarnya.
Baca Juga: Kosgoro 1957 Siap Kawal Bonus Demografi demi Indonesia Emas 2045
Pratikno berpesan agar tidak hanya meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga mampu memperbaiki sistem birokrasi secara menyeluruh.
"Birokrat ke depan bukan hanya dituntut meningkatkan kapasitas tetapi juga membenahi sistem birokrasi. Jangan sampai birokrat hebat hanya berlari dalam kandang hamster, lari cepat, berkeringat tapi terjebak dalam lingkaran," jelasnya.
Baca Juga: Hadapi Bonus Demografi, Jokowi Ingin Dokter Spesialis di Indonesia Meningkat dan Merata
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 7Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 8Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi









