Kisah Inspiratif Pemilik Produk Tas Lokal 'Hody', Berbisnis Sambil Memberdayakan Perempuan

AKURAT.CO Berbisnis tak selamanya bertujuan untuk mencari keuntungan. Namun, terkadang ada tujuan mulia yang ingin dicapai dari bisnis tersebut. Hal ini lah yang dilakukan oleh produk lokal, Hody.
Mira Nur Gandaniati mengatakan, Hody tak hanya sekadar bisnis, namun juga ruang pemberdayaan perempuan. Dia ingin agar setiap perempuan, terutama ibu rumah tangga, bisa memiliki pendapatan dan membantu ekonomi keluarga.
"Hody ini bukan cuma tempat jualan, ini tempat tumbuh, tempat para ibu rumah tangga belajar dapat penghasilan, belajar digital marketing, bahkan belajar percaya diri," kata Mira.
Baca Juga: Jangan Sampai Kena! Kenali 5 Modus Penipuan Atas Nama Shopee, Lengkap Berikut Cara Menghindarinya
Sebelum mendirikan Hody, Mira sempat menjual jam tangan lewat sistem reseller di platform BlackBerry Messenger (BBM) sejak 2011. Sayangnya, usaha ini tak berjalan lancar saat bisnis suaminya bangkrut dan menyisakan utang hingga Rp8 miliar pada 2014.
Tak ingin menyerah, Mira bersama suami mendirikan produk tas kulit bernama Zola Leather. Brand ini menyediakan produk tas premium yang terbuat dari kulit sapi dan menyasar pasar menengah atas.
"Ini brand tas pertama saya sebelum Hody. Zola Leather ini bahan bakunya kulit sapi asli secara harga di atas Rp700.000-an," ungkap wanita yang akrab disapa Teh Mira ini.
Namun lagi-lagi bisnisnya harus menghadapi badai besar. Pandemi Covid-19 yang terjadi pada 2019 menganggu bisnis Zola Leather, bahkan penghasilan dari Zola Leather tak mampu menutupi utang.
Akhirnya, dengan sisa modal yang dimiliki, Mira dan Suami memutuskan untuk mendirikan Hody, brand tas fungsional dengan harga terjangkau. Tas Hody berbahan sintetis, dan dijual dengan harga mulai dari Rp100.000-an.
Awalnya, Mira memasarkan produk Hody melalui Instagram dengan sistem reseller dan pre-order. Ternyata, bisnis ini berkembang pesat, baik dari jumlah pemesanan hingga jumlah reseller.
Baca Juga: Dorong Perlindungan Hak Cipta, Shopee Akan Tutup Toko yang Jual Buku Bajakan
Selain itu, Mira juga aktif memberikan bimbingan kepada para reseller yang merupakan wanita dan ibu-ibu, agar bisa mendapatkan penghasilan namun tetap menjalankan fungsi sebagai istri dan ibu.
"Waktu itu kami bikin campaign Recovery Together, jadi yuk ibu-ibu yang ingin berpenghasilan dari rumah itu bisa jadi resellernya Hody. Ternyata ada yang bisa jadi succes story di reseller ada yang hasilin omset lumayan dari hasil jualan Hody," jelasnya.
Namun, pasca-pandemi membuat jumlah penjualan dan reseller menurun. Dia pun memutar otak dengan mengambil langkah strategis dengan masuk ke marketplace.
Hingga akhirnya, Mira resmi membuka toko Hody di Shopee, dan membentuk tim digital marketing dari nol. Dipilihnya Shopee sebagai toko online pertama Hody, karena target market Hody sesuai dengan Shopee, yakni perempuan berusia 25-45 tahun.
"Sebagai leader harus memikirkan strategi dong. Bagaimana caranya penjualan kami masih tetap bagus. Akhirnya kamu mulai bukan channel di marketplace. Channel pertama yang kami buka adalah Shopee, jadi 2023 kami officially store di Shopee," jelasnya.
Kini, Mira mempekerjakan 60 orang, termasuk host live dan advertiser khusus Shopee. Bahkan, penjualan dari Marketplace menyumbang 70 persen dari total omzet Hody.
Tak hanya itu, produk Hody pun sudah diekspor ke berbagai negara, seperti Malaysia, Brunei, dan Australia. Tentunya, hal ini tak terlepas dari peran Shopee dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM).
Baca Juga: Kampanyekan Perlindungan Hak Cipta, Shopee Gelar Festival Penulis Lokal
"Hody bisa sampai titik ini karena kami adaptif, dulu cukup upload barang, sekarang harus ngerti fitur live, afiliasi, dekorasi toko. Kalau enggak agile, kita akan tertinggal," tuturnya.
Di samping berbisnis, Mira tak melupakan tujuan utamanya, yakni memberdayakan perempuan. Untuk itu, dia membangun sebuah komunitas pelanggan bernama Hodyctiv.
Anggota Hodyctiv dibagi ke dalam level silver, gold, dan platinum. Menariknya selain bisa mengikuti kelas pengembangan sebulan sekali, para anggota program afiliasi, mendapatkan komisi, dan mengikuti kelas pengembangan diri sebulan sekali.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









