Akurat

SWI dan IPR Luncurkan Recycling Rate Index: Mendorong Transformasi Daur Ulang Plastik Nasional

Herry Supriyatna | 30 April 2025, 16:38 WIB
SWI dan IPR Luncurkan Recycling Rate Index: Mendorong Transformasi Daur Ulang Plastik Nasional

AKURAT.CO Sustainable Waste Indonesia (SWI) bersama Indonesian Plastic Recyclers (IPR) resmi meluncurkan hasil studi Recycling Rate Index (RRI), yang menghadirkan data terkini terkait capaian daur ulang plastik nasional.

Acara diseminasi ini digelar di Menara Caraka, Jakarta, dengan kehadiran tokoh penting seperti Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK, Ade Palguna Ruteka hingga Direktur Industri Kimia Hilir & Farmasi Kemenperin, Tri Ligayanti.

Sampah plastik masih menjadi tantangan besar dalam pengelolaan lingkungan di Indonesia.

Melalui Permen LHK No. 75 Tahun 2019, pemerintah menargetkan pengurangan sampah dari produsen sebesar 30 persen pada 2029.

Target ini mendorong penguatan upaya daur ulang, penarikan kembali kemasan, dan pemanfaatan ulang.

Namun, industri daur ulang menghadapi sejumlah tantangan: infrastruktur pengumpulan yang belum merata, ketidakseimbangan geografis, fluktuasi harga global, ketergantungan impor plastik, hingga keterbatasan teknologi untuk mendaur ulang jenis plastik tertentu. Kurangnya data akurat juga menjadi hambatan dalam menyusun kebijakan yang efektif.

Baca Juga: PIK Nite Run 2025: Siap Jadi Event Lari Malam Terbesar dan Terspektakuler di Indonesia

Menjawab kebutuhan tersebut, SWI dan IPR menyusun studi Recycling Rate Index (RRI) sebagai landasan berbasis data untuk memahami kondisi riil industri daur ulang di Indonesia.

Dilaksanakan pada Juli–Desember 2024 dengan pendekatan hulu-hilir, studi ini melibatkan sekitar 700 pelaku rantai nilai plastik melalui wawancara langsung dan pengumpulan data sekunder dari pemerintah, BPS, dan literatur.

Salah satu temuan penting adalah bahwa tingkat daur ulang plastik pasca konsumsi (PCR) di Indonesia berada dalam kategori moderat hingga tinggi:

- PET botol: tingkat daur ulang mencapai 71 persen.
- HDPE rigid: mencapai 60 persen.

Kontribusi daur ulang terhadap produksi resin plastik nasional juga sudah mencapai 19 persen, dengan total nilai ekonomi dari pengumpulan hingga daur ulang diperkirakan mencapai Rp19 triliun per tahun.

"Data yang akurat adalah kunci untuk merancang kebijakan efektif," ujar Director SWI sekaligus peneliti utama, Dini Trisyanti.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor—termasuk edukasi konsumen, transparansi pelaporan daur ulang nasional, dan inovasi teknologi—adalah kunci untuk memperkuat kontribusi daur ulang terhadap ekonomi sirkular Indonesia.

Ade Palguna Ruteka mengapresiasi studi RRI sebagai kontribusi konkret dari sektor non-pemerintah, melengkapi upaya yang selama ini dilakukan pemerintah.

Baca Juga: Tuduhan Ijazah Palsu Jokowi Kejam dan Tanpa Dasar

“Melalui Perpres No. 12 Tahun 2025 tentang RPJMN, kami menargetkan penyelesaian 100 persen permasalahan sampah pada 2029. Ini menuntut penerapan prinsip ekonomi sirkular dan penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) yang kuat," tegasnya.

Ade juga menekankan bahwa keterbukaan data dan insentif kebijakan akan sangat menentukan keberhasilan industri daur ulang nasional.

Diskusi juga diwarnai kehadiran perwakilan industri pengguna plastik, seperti Unilever Indonesia, Nestlé Indonesia, dan AQUA, yang menegaskan komitmen aktif mereka:

- Maya Tamimi, Head of Division Environment & Sustainability Unilever Indonesia Foundation, menyampaikan bahwa perusahaan berhasil mengumpulkan dan mengelola 90.000 ton sampah plastik pada 2024, melebihi volume plastik yang digunakan untuk produk mereka.

“Kami percaya kolaborasi adalah kunci menuju masa depan bebas sampah,” ujarnya.

- Maruli Sitompul, Sustainability Delivery Lead Nestlé Indonesia, menekankan transformasi mereka lewat:

- Penggunaan sedotan kertas untuk produk RTD
- Monomaterial packaging
- Pembangunan 10 MRF/TPS3R di Karawang yang melayani hingga 6.000 rumah tangga.

 “Sustainabilitas dan keamanan produk bisa berjalan seiring dengan dukungan semua pihak,” tegasnya.

- Astri Wahyuni, Public Affairs and Sustainability Director AQUA, menyebut bahwa 75 persen produk AQUA sudah sirkular melalui galon guna ulang, dan lebih dari 96 persen kemasannya kini dapat didaur ulang.

“Kami berharap pemerintah memperkuat solusi sistemik dan menciptakan kesempatan setara untuk industri daur ulang,” katanya.

Dengan hasil studi ini, SWI berharap mendorong penguatan ekosistem daur ulang plastik yang terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan, demi mewujudkan ekonomi sirkular nasional yang nyata dan berdampak.

Baca Juga: Peluncuran BUMA: Langkah Strategis GP Ansor Menuju Kemandirian Ekonomi Nasional

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.