Akurat

Johan Rosihan: Idulfitri 1446 H, Kembali ke Fitrah dan Membangun Negeri dengan Akhlak

Oktaviani | 30 Maret 2025, 16:10 WIB
Johan Rosihan: Idulfitri 1446 H, Kembali ke Fitrah dan Membangun Negeri dengan Akhlak

AKURAT.CO Sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Johan Rosihan menyebut bahwa Hari Raya Idulfitri 1446 H segera tiba dengan nuansa sukacita, haru, dan harapan baru.

"Setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan, kita kembali ke fitrah—ke kondisi jiwa yang bersih, penuh kesadaran spiritual, dan semangat memperbaiki diri," ujarnya, Minggu (30/3/2025).

Menurut Johan, Idulfitri bukan sekadar kemenangan pribadi atas hawa nafsu, tetapi juga momentum kolektif untuk membangun negeri dengan akhlak serta menata kembali arah perjalanan bangsa dengan nilai-nilai keteladanan.

"Ramadan adalah pelatihan ruhani dan sosial yang sangat relevan untuk memperkuat bangunan kebangsaan kita," katanya.

Johan, yang juga anggota Komisi IV DPR RI Dapil NTB I, menyoroti beberapa nilai utama Ramadan yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara:

Baca Juga: Mudik Lancar, Ekonomi Berputar: Pesan Lebaran dari Utusan Khusus Presiden

1. Kejujuran sebagai pondasi kepemimpinan yang bermartabat

Kejujuran adalah inti dari ibadah puasa. Ia mengajarkan manusia untuk bertindak benar meski tidak diawasi.

Dalam kehidupan berbangsa, nilai ini harus ditransformasikan menjadi budaya antikorupsi, transparansi, dan akuntabilitas publik.

"Pemimpin yang jujur akan melahirkan kebijakan yang adil, dan masyarakat yang jujur akan menjadi penjaga moral ruang publik. Kita perlu mendorong lahirnya birokrasi dan lembaga negara yang bersih melalui pendidikan karakter sejak dini serta penegakan hukum yang adil," tegas Johan.

2. Kesabaran dalam menghadapi perbedaan dan ujian bangsa

Puasa mengajarkan kesabaran dalam menghadapi rasa lapar, haus, dan berbagai ujian. Bangsa ini pun menghadapi tantangan seperti perbedaan politik, ketimpangan ekonomi, hingga bencana alam.

"Kesabaran mengajarkan kita untuk tidak mudah terprovokasi, tidak menyebarkan kebencian, dan mampu menyikapi dinamika sosial-politik dengan tenang serta dewasa. Kita butuh lebih banyak tokoh publik dan masyarakat yang mampu meredam gejolak, bukan memperkeruh keadaan," ujar Johan.

3. Empati dalam membangun keadilan sosial dan ekonomi

Ramadan melatih empati melalui rasa lapar yang disengaja, agar manusia merasakan derita kaum miskin.

Prinsip ini seharusnya menjadi dasar pembangunan nasional, dengan kebijakan ekonomi yang berpihak pada kelompok rentan, pemerataan layanan publik, dan penguatan jaring pengaman sosial.

"Zakat dan infak bukan hanya amal pribadi, tetapi juga dapat dikelola menjadi gerakan sosial sistemik yang mendukung kesejahteraan dan keadilan sosial sebagaimana amanat sila kelima Pancasila," tambahnya.

4. Disiplin sebagai kunci kemajuan bangsa

Puasa menanamkan disiplin waktu, pengendalian diri, dan konsistensi. Nilai-nilai ini sangat penting dalam kehidupan bernegara, termasuk dalam hal disiplin hukum, pelayanan publik, serta etos kerja produktif.

"Bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh kecerdasan, tetapi juga oleh konsistensi dalam menegakkan aturan dan menghargai waktu. Mulai dari kebiasaan kecil seperti antre, menaati lalu lintas, hingga disiplin lembaga dalam menjalankan amanah," jelas Johan.

5. Kepedulian kolektif dan gotong royong sebagai modal sosial bangsa

Baca Juga: Sambut Lebaran 2025 dengan Percaya Diri! Ini 3 Tips Tampil Glowing dan Fresh

Ramadan membangkitkan semangat berbagi dan kolaborasi. Takmir masjid, relawan sosial, hingga warga biasa aktif dalam berbagai kegiatan seperti buka puasa bersama dan distribusi bantuan. Johan menilai semangat gotong royong ini perlu terus dipertahankan setelah Ramadan.

"Gerakan pembangunan berbasis komunitas, penguatan UMKM, dan solidaritas lintas agama serta budaya adalah modal sosial bangsa yang tak ternilai," imbuhnya.

Johan menegaskan, sesuai Pasal 33 UUD 1945, pengelolaan kekayaan alam dan sumber daya bangsa harus berlandaskan keadilan demi kesejahteraan seluruh rakyat.

Ramadan mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah amanah, dan pembangunan tidak boleh mengorbankan akhlak.

"Idulfitri 1446 H adalah momentum untuk menyatukan niat, memperbaiki arah, dan membangun negeri dengan akhlak yang kuat, baik bagi pemimpin maupun rakyat," ujarnya.

Johan berharap agar setiap kebijakan pemerintah selalu berpihak kepada kepentingan rakyat, berlandaskan keadilan sosial, serta tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Menurutnya, amanah kekuasaan harus dipegang dengan integritas, keberanian moral, dan komitmen membangun negeri secara menyeluruh—dari desa hingga kota, dari pinggiran hingga pusat.

"Kepada seluruh rakyat Indonesia, mari kita jaga semangat kebersamaan, saling menghormati perbedaan, dan menguatkan persaudaraan kebangsaan. Kita semua memiliki peran dalam menjaga Indonesia tetap damai, adil, dan bermartabat. Jadikan semangat Ramadan sebagai energi baru untuk memperkuat etos kerja, gotong royong, dan kesadaran berbangsa. Mari kita jadikan kemenangan ini sebagai awal baru bagi Indonesia yang lebih beradab dan bermartabat," paparnya.

Baca Juga: Apa Itu Croxy Proxy Com? Inilah Perbedaannya dengan Blockaway, DuckDuckGo dan YandexEU yang Akurat

Sebagai penutup, Johan Rosihan menyampaikan ucapan Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Hari Raya Idulfitri 1446 H, Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.