Akurat

Mengembalikan Kemuliaan Nuzulul Quran dengan Kesalehan Ritual dan Sosial

Wahyu SK | 19 Maret 2025, 21:51 WIB
Mengembalikan Kemuliaan Nuzulul Quran dengan Kesalehan Ritual dan Sosial

AKURAT.CO Bagi umat Islam, bulan Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai waktu untuk melakukan ibadah puasa, namun juga diperingati sebagai bulan turunnya Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad yaitu Nuzulul Quran.

Turunnya wahyu Ilahi bagi Bani Adam ini ditujukan untuk memperbaiki akhlak manusia, khususnya kaum muslim.

Terasa begitu ironis ketika di bulan Ramadan pula sering kali terdengar pihak-pihak tertentu melakukan kekerasan.

Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Muammar Bakry, menyatakan pentingnya menghayati peristiwa Nuzulul Quran agar tidak hanya menjadi rutinitas tahunan semata.

Seharusnya, hikmah Nuzulul Quran bisa selalu ada pada diri seorang muslim dengan mengamalkan akhlakul karimah, terlepas di mana dan kapan dirinya berada.

"Jika peringatan Nuzulul Quran hanya sekadar berulang sebagai rutinitas formal tanpa memberi efek dalam kehidupan kita sebagai umat Islam, baik secara personal maupun komunal, maka tentu itu tidak sesuai dengan harapan dan pesan dari hikmah Nuzulul Quran itu sendiri. Seharusnya, hikmah Nuzulul Quran itu tidak lagi melihat sekat waktu dan tempat, namun turunnya Al-Qur'an ditunjukkan dengan esensinya yang segera kita amalkan dengan sebaik-baiknya," paparnya,melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (19/3/2025).

Baca Juga: Jadikan Peringatan Nuzulul Quran Kurikulum Diri Menjaga Moralitas

Menurut Prof. Muammar, dalam konteks Indonesia, menjadi pertanyaan besar apakah Al-Qur'an sudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari?

Dengan begitu, barulah terasa bahwa Al-Qur'an benar-benar turun.

Jangan sampai turunnya Al-Qur'an hanya sekadar formalitas pelaksanaan acara yang dilaksanakan di tempat tertentu.

Yang paling mendasar adalah hikmahnya. Apakah Al-Qur'an bisa diamalkan? Itulah arti turunnya Al-Qur'an yang sebenarnya bagi pribadi dan bagi bangsa ini.

Prof. Muammar berpendapat bahwa kepandaian atau kepiawaian secara ritual dalam beragama akan pula meningkatkan kesalehan seorang individu dalam perilaku sosialnya.

Sayangnya, masih banyak orang atau kelompok yang mengaku paling beragama, justru sering membuat kegaduhan di masyarakat dengan memaksakan versi kebenarannya terhadap orang atau kelompok lainnya.

Baca Juga: Puan: Peringatan Nuzulul Quran Menjadi Spirit Membangun Bangsa dan Negara

"Seharusnya ritual ibadah yang dilakukan dengan baik dan memahami hakikat dari ibadah tersebut pasti akan berdampak secara sosial. Jadi, tidak ada orang yang ibadahnya bagus tetapi kemudian menampilkan sikap egois. Itu berarti tidak ada pengaruh dan dampak positif dari ibadah tersebut," katanya.

Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa setiap ibadah, apakah itu haji, salat, zakat dan lain-lain harus dilihat dari efek sosial yang bisa dihasilkan.

"Artinya, puasa atau shalat tarawih misalnya, kita lihat dampak positifnya setelah Ramadan, apakah perilaku sosialnya semakin baik atau justru semakin mengganggu orang lain? Hal ini harus dilihat setelah bulan Ramadan berakhir," ujar Prof. Muammar.

Sebagai seorang akademisi juga ulama yang sering menyoroti isu toleransi dan kerukunan antargolongan, Prof. Muammar berharap agar Ramadan yang juga bertepatan dengan Hari Raya Nyepi bisa memberi hikmah bagi semua umat beragama.

Berdekatannya Hari Raya Idulfitri dengan Hari Raya Nyepi seharusnya membuat umat Islam dan Hindu bisa saling menghargai dalam merayakannya.

"Umat Islam akan lebih nampak syiarnya dengan banyak kegiatan, terutama menjelang Lebaran. Di sisi lain, Hari Raya Nyepi diharapkan bisa menyampaikan pesan untuk membendung diri dari kegiatan-kegiatan yang melibatkan keramaian. Namun intinya, baik Hari Raya Idulfitri maupun Hari Raya Nyepi diharapkan dapat menggugah jiwa spiritual umat beriman untuk berimplikasi positif pada kepedulian sosial mereka. Itulah inti sebenarnya dari kedua hari raya tersebut," papar Prof. Muammar.

Baca Juga: Jalani 7 Sunah Rasul Semasa Hidup, Ustaz Arifin Ilham Wafat di Malam Nuzulul Quran

Lebih lanjut, ia kembali menegaskan pentingnya menjaga kemuliaan Ramadan.

Menurutnya, umat Islam secara keseluruhan perlu lebih mawas diri. Karena sebenarnya banyak tindakan yang merusak makna bulan Ramadan justru datang dari orang Islam itu sendiri.

"Perlu menjadi perhatian bagi kita mengenai kondisi yang ada di Indonesia. Misalnya, dalam bulan Ramadan, lebih banyak sebenarnya orang Islam sendiri yang melakukan tindakan yang merusak kemuliaan Bulan Suci Ramadan. Hampir semua pelaku sabung ayam dan minuman keras itu justru orang muslim," ujar Prof. Muammar.

Di sisi lain, sering kali nonmuslim justru sangat menghargai orang-orang muslim yang berpuasa.

Bahkan, jarang terdengar tindakan-tindakan yang meresahkan masyarakat dilakukan oleh nonmuslim saat bulan Ramadan.

"Jangan sampai umat Islam sendiri yang merusak kemuliaan Bulan Suci Ramadan," demikian Prof. Muammar.

Baca Juga: Menag: Peringatan Nuzulul Quran Momentum Perkuat Kepedulian

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK