Akurat

Kemenangan HTS Adalah Milik Rakyat Suriah, Bukan Umat Islam Semata

Wahyu SK | 22 Desember 2024, 09:05 WIB
Kemenangan HTS Adalah Milik Rakyat Suriah, Bukan Umat Islam Semata

AKURAT.CO Kemenangan Hayat Tahrir Al-Sham (HTS) di Suriah bukanlah milik mujahidin khilafah atau negara Islam, melainkan kemenangan warga Suriah yang majemuk.

Hal itu disampaikan mantan narapidana terorisme, Iskandar alias Abu Qutaibah alias Guru Kendo alias Alex, mengungkapkan pandangannya tentang kejatuhan rezim Bashar Al-Assad.

Iskandar mengatakan bahwa di Suriah terdapat banyak faksi yang juga berjuang untuk kemerdekaan Suriah dari belenggu rezim Bashar Al-Assad.

Baca Juga: Apa yang Terjadi di Suriah Dampak Konflik Politik Lama, Bukan Masalah Agama

Menurutnya, di akar rumput HTS tidak hanya didukung oleh kelompok Islam saja, bahkan semua etnis dan kelompok agama yang ada di Suriah mendukung pergerakan organisasi itu.

Tidak hanya kelompok muslim yang menderita, bahkan kelompok agama lain, kelompok Kristen Ortodoks turut menjadi korban dari pemerintahan Bashar Al-Assad.

"HTS ini tidak terbentuk secara langsung, melalui proses-proses yang sangat panjang, maka terbentuklah kelompok HTS. Kelompok HTS terdiri dari berbagai macam kelompok perjuangan yang ada di Suriah," ujar Iskandar, melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (22/12/2024).

Baca Juga: Waspada Terseret Kepentingan Politik Praktis di Balik Ajakan Berjihad ke Suriah

Iskandar yang kini aktif menjadi pembicara dalam pencegahan ekstremisme dan radikal-terorisme ini berpendapat, HTS cukup moderat dan mengakomodir kelompok atau agama lain.

Untuk bisa kembali membangun Suriah dan hidup berdampingan.

Oleh itu, HTS mendapat dukungan dari masyarakat Suriah karena memiliki tujuan untuk menggulingkan pemerintah diktator dan kejam, yaitu Bashar Al-Assad.

Baca Juga: DPR Desak Perlindungan Maksimal untuk WNI di Suriah Pasca Tumbangnya Bashar Al Assad

Hal ini juga dibuktikan dengan munculnya negara-negara lain yang mulai menjalin hubungan diplomatik dengan pemerintahan baru di Suriah, seperti Inggris, Amerika, Qatar dan Turki.

Namun, Iskandar mengingatkan, untuk tetap waspada terhadap bangkitnya kelompok ekstrem.

Mereka membangun propaganda dan menyebarkan berita bohong dan disinformasi terkait Suriah untuk menciptakan konflik dan teror.

Baca Juga: Indonesia Berharap Rakyat Suriah Memulai Kehidupan Baru

Ia khawatir bahwa kelompok ini dapat membawa situasi konflik yang ada di Timur Tengah ke Indonesia.

"Tetapi bisa saja bahwa kelompok-kelompok ekstrem ini memanfaatkan situasi kemenangan HTS ini untuk kembali ke Suriah," ucap Iskandar.

Pimpinan Yayasan Cahaya Ukhwah Gemilang di Bima, Nusa Tenggara Barat, itu menyerukan pentingnya memberikan edukasi dan literasi kepada masyarakat tentang apa yang sebenarnya terjadi di Suriah.

Baca Juga: Inggris Sambut Runtuhnya Rezim Assad di Suriah

Misalnya, mengadakan forum diskusi dan seminar terkait persoalan tersebut untuk meluruskan informasi yang berkembang di media sosial.

"Karena banyak di kalangan masyarakat yang tidak mengerti persoalan ini dan mudah terpengaruh dengan isu-isu tentang jihad global dan pembentukan khilafah," ungkap Iskandar.

Ia mengaku prihatin, banyak warga Indonesia yang terdampar di Suriah.

Baca Juga: Bashar al-Assad adalah Siapa? Mengenal Presiden Suriah yang Jadi Pembicaraan

Banyak dari mereka yang berada di penjara dan di kamp-kamp pemerintah karena pernah menjadi bagian dari ISIS.

"Jumlah mereka tidak sedikit, tercatat hampir 600 orang dan semua itu adalah warga Indonesia. Banyak di antara mereka yang menyatakan penyesalannya karena pergi ke Suriah," kata Iskandar.

"Jangan sampai narasi hijrah dan khilafah Islam di Suriah ini kembali menguat dan memperdaya masyarakat seperti munculnya ISIS," tandasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK