Akurat

Rekontekstualisasi Semangat Jihad untuk Mengakhiri Gerakan Radikalisme dan Terorisme

Wahyu SK | 12 Juli 2024, 08:39 WIB
Rekontekstualisasi Semangat Jihad untuk Mengakhiri Gerakan Radikalisme dan Terorisme

AKURAT.CO Baru-baru ini kelompok Jamaah Islamiyah (JI) menyatakan telah membubarkan diri.

Namun, pertanyaannya adalah apakah ini benar-benar akhir dari kelompok tersebut atau hanya manuver untuk bergerak di bawah permukaan.

Muhammad Saifuddin Umar atau yang biasa dikenal dengan Abu Fida, adalah salah satu mantan pentolan JI, bahkan pernah ikut deklarasi ISIS, yang kini telah bertobat.

Baca Juga: Setelah PKS dan Golkar, Kaesang Akan Lanjut Safari Politik ke PDIP

Menanggapi kabar bubarnya JI, Abu Fida mengatakan, sebagai seorang muslim, umat diajari untuk menilai sesuatu berdasarkan yang tampak.

Dia menambahkan bahwa hanya Allah yang mengetahui segala perkara yang tidak tampak secara lahiriah.

"Kita sebagai seorang muslim hanya mampu membaca secara zahirnya (yang tampak/lahiriahnya). Nabi Muhammad mengajari kita untuk menilai orang, komunitas atau apapun kelompoknya itu dengan apa yang tampak atau bisa dilihat mata. Jadi secara batin atau niat dari seseorang, hanya Allah yang mau tahu," kata Abu Fida, dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (12/7/2024).

Publik tentu paham bahwa JI (Jamaah Islamiyah) dikenal sebagai kelompok yang berpaham ekstrem dan menghalalkan kekerasan.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Asmara 12 Juli 2024: Leo Bisa Hindari Berkata Kasar pada Pasangannya!

Kelompok ini telah terbukti terlibat pada peristiwa Bom Bali I dan II, serta serangkaian teror bom pada akhir tahun 1990-an sampai awal 2000-an.

Menurut Abu Fida, orang yang memiliki pemahaman atau ideologi yang sarat dengan kekerasan tentu butuh proses yang berkesinambungan untuk membuatnya menjadi normal dan terbuka pada perbedaan.

Ia percaya bahwa menghilangkan pemahaman berbahaya ini memerlukan kerjasama dengan berbagai pihak.

Salah satunya dengan melibatkan masyarakat untuk memperjuangkan keadilan dan kebersamaan, sehingga lingkungan tempat tinggal bisa menerima kembali para mantan napiter, serta kehidupan bermasyarakat bisa berjalan dengan sedia kala.

Baca Juga: Jalan Terjal Dakwah Salafi Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Sempat Dianggap Meresahkan Masyarakat!

Selain itu, mantan napiter juga perlu membentuk kesadaran diri tentang pentingnya toleransi dan moderasi beragama melalui banyak berdiskusi dan berdialog, untuk menemukan kebenaran sejati.

Ini semua dilakukan agar mantan napiter tidak kembali terjebak pada pola kekerasan sebelumnya yang hanya menjadikan agama sebagai pembenaran atas agenda atau tindakan brutalnya.

Abu Fida juga membahas tindakan Siska Nur Azizah, pelaku teror Mako Brimob tahun 2018, yang baru-baru ini secara sukarela berikrar setia pada NKRI.

Terlepas dari kontroversi tentang niat Siska Nur Azizah mengucapkan ikrar setia, Abu Fida menegaskan pentingnya berpikir positif dan menilai sesuatu berdasarkan kondisi lahiriahnya.

Baca Juga: Wimbledon: Barbora Krejcikova Tantang Jasmine Paolini di Final, Siapa Jadi Juara Baru?

"Selama tidak ada bukti otentik bahwa Siska akan kembali ke pemikiran lamanya, kita harus menerima ikrarnya sebagai niat yang tulus," ucapnya.

Mengulas perubahan pola pergerakan terorisme di Indonesia, Abu Fida mengatakan sebenarnya jauh sebelum belakangan ini tersiar kabar bahwa JI dibubarkan, sudah ada banyak napiter yang terafiliasi dengan JI menyatakan insyaf.

"Bahwa tahun 2023 bisa dikatakan sebagai zero attack of terrorism atau tidak adanya serangan teroris. Ini bisa dianggap sebagai implikasi dari pembubaran JI, yang sebenarnya sudah beberapa kali terjadi penangkapan terhadap anggotanya, dan ikrar setia pada NKRI yang diucapkan oleh mantan anggota JI seperti Siska Nur Azizah," jelasnya.

Abu Fida juga menekankan pentingnya rekontekstualisasi atau penafsiran ulang ayat-ayat perintah berjihad dalam ajaran Islam agar sesuai dengan semangat NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Baca Juga: PAN Dukung Gerindra Calonkan Sudaryono di Pilgub Jateng 2024

"Rekontekstualisasi Ini penting untuk merawat kebhinekaan di Indonesia, sehingga ayat-ayat jihad tidak dimaknai dengan kondisi yang tidak sesuai kenyataan," tuturnya.

Pemelintiran tafsir dalil agama sering kali disebabkan oleh seseorang yang tertekan atau dipolitisasi oleh pihak tertentu.

Menurut Abu Fida, penafsiran firman Allah SWT dan sabda Rasulullah harus dikembalikan kepada ulama-ulama yang kompeten.

"Sebagai manusia, kita hanya mampu menilai yang terlihat dan hanya Allah yang mengetahui yang tidak terlihat. Indonesia dengan segala kebhinekaannya harus terus dirawat dan dijaga dengan segenap kekuatan bangsa, termasuk umat Islam. Sinergi semua pihak dalam mencapai ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah kunci untuk mewujudkan Indonesia yang damai dan harmonis," paparnya.

Baca Juga: Olimpiade Paris: Fadil Imran Sebut Menjadi Pahlawan Lebih Penting Ketimbang Bonus Bagi Pebulutangkis

Mengakhiri penjelasannya, Abu Fida berpesan agar melalui pendekatan yang holistik, melibatkan seluruh stakeholders, serta rekontekstualisasi ayat-ayat jihad, pasti akan dapat merawat kebhinekaan dan menjaga Indonesia dari ancaman radikalisme dan terorisme.

"Komitmen ikrar setia pada NKRI oleh mantan pelaku teror seperti Siska Nur Azizah adalah langkah positif yang perlu didukung oleh seluruh elemen masyarakat," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK