Duel Manusia Dan Singa Pernah Terjadi Di Indonesia, Stadion GBK Jadi Saksinya
| 23 September 2023, 09:39 WIB

AKURAT.CO Dalam dunia hiburan, terdapat banyak pertunjukan yang menciptakan sensasi dan kontroversi, tetapi salah satu yang paling mengesankan adalah duel antara gladiator manusia dan singa. Pertarungan ini merupakan peristiwa yang penuh drama, ketegangan, dan intrik, menciptakan pengalaman yang tak terlupakan untuk penonton.
Baru-baru ini viral kabar duel antara gladiator manusia dan singa ternyata pernah digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Duel maut ini berlangsung pada 1968. Duel gladiator manusia dan singa ini mendadak viral usai akun Potret Lawas mengunggah rekaman pertarungan tak biasa itu di Twitter. Dalam keterangannya disebutkan bahwa pertarungan itu ditonton 100 ribu orang.
Duel itu mempertemukan antara Bandot Lahardo, juara gulat asal Jawa Barat dengan seekor singa. Pertarungan ala gladiator ini pertama kali digelar di Tanah Air pada waktu itu. Di tengah desakan penonton yang memadati SUGBK, Bandot yang juga pemilik kelompok sirkus ini terlihat berhadap-hadapan dengan seekor singa dewasa.
Ia pun dalam video yang diunggah di sosial media terlihat mencoba memprovokasi singa tersebut agar berduet dengannya. Namun sayang, singa tersebut enggan bertarung. Alhasil, aksi tak biasa yang ditunggu-tunggu penonton dan tamu negara yang hadir gagal memberikan hiburan yang diharapkan.
Dalam pertarungan itu juga disebutkan sang gladiator, Bandot Lahardo, adalah seorang pegulat dan pemain sirkus yang sudah berpengalaman masuk kedalam krangkeng di tengah lapangan Stadion Gelora Bung Karno.
Di pertarungan gladiator melawan singa itu juga ada perjanjian jika tidak boleh menuntut apa-apa jika mati atau gagal.
Baca Juga: Duel Ala Gladiator Kembali Terjadi di Bogor, Seorang Tewas Tertancap Celurit
"Kalau saja mati atau gagal melawan banteng dan harimau tersebut, keluarga saja tidak berhak menuntut apa apa kepada panitia", bunji satu dari sekian pasal perdjandjian Bandot Lahardo dengan panitia pertarungan Senajan di tahun 1968," tulisnya.
"Kalau saja mati atau gagal melawan banteng dan harimau tersebut, keluarga saja tidak berhak menuntut apa apa kepada panitia", bunji satu dari sekian pasal perdjandjian Bandot Lahardo dengan panitia pertarungan Senajan di tahun 1968," tulisnya.
Dalam dunia hiburan Romawi Kuno, ada pertunjukan yang menciptakan ketegangan dan sensasi yang tak terlupakan di antara penonton, yaitu duel antara gladiator manusia dan singa. Pertarungan epik ini adalah salah satu aspek yang paling mengesankan dari budaya hiburan Romawi dan telah menciptakan warisan budaya yang kaya. Tradisi gladiator manusia berasal dari Romawi Kuno, yang seringkali dianggap sebagai puncak kejayaan budaya hiburan mereka.
Gladiator adalah pejuang yang secara khusus dilatih untuk berpartisipasi dalam pertarungan hiburan di arena khusus yang dikenal sebagai amfiteater. Mereka adalah sosok penting dalam hiburan publik Romawi.
Pertarungan gladiator manusia melawan singa biasanya terjadi di tempat yang monumental, seperti Colosseum di Roma yang terkenal. Amfiteater ini dirancang untuk menampung ribuan penonton yang datang untuk menyaksikan pertunjukan dengan gairah yang luar biasa. Keberadaan seorang gladiator yang akan menghadapi singa di arena ini akan menciptakan kegembiraan dan antisipasi yang mendalam di antara penonton.
Sebelum pertarungan dimulai, gladiator manusia yang akan bertarung melawan singa akan menjalani pelatihan intensif. Mereka dilatih dalam seni bela diri, teknik bertahan hidup, dan taktik khusus yang mereka perlukan untuk bertahan hidup dalam pertarungan melawan binatang buas. Meskipun senjata dan perlengkapan pelindung digunakan, pertarungan melawan singa tetap menjadi situasi yang sangat berbahaya.
Meskipun pertarungan gladiator manusia melawan singa menciptakan sensasi di zaman Romawi, praktik ini sekarang dianggap tidak etis dan tidak pantas dalam budaya modern. Perlindungan hewan dan pemahaman etika telah mengubah pandangan kita terhadap pertunjukan semacam itu, dan banyak negara telah melarang praktik tersebut.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor
Herry Supriyatna
Berita Terkini




