Kajol Dukung Skema Potongan Ojol Tetap 20 Persen: Kita Pikirkan Ekosistem Bisnis

AKURAT.CO Komunitas Angkutan Ojek Online (Kajol) menyatakan menolak pemotongan 10 persen dan tetap mendukung skema potongan 20 persen. Hal ini agar pengemudi ojek online (ojol) dan aplikator bisa sama-sama hidup.
"Kita memikirkan juga ekosistem bisnis. Bagaimana ketika nanti dipotong akhirnya turun 10 persen, tapi aplikator ini tidak bisa eksis. Akhirnya aplikatornya bangkrut, kolaps. Akhirnya tingkat pengangguran akan tinggi juga," kata Juru Bicara Kajol, Risnandar, dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama Kementerian Perhubungan, Kamis (24/7/2025).
Dia menjelaskan, dalam potongan 20 persen tersebut, ada hak-hak yang diberikan untuk konsumen dan pengemudi. Seperti beasiswa untuk anak pengemudi, asuransi, dan layanan tombol darurat yang bisa dipakai penumpang dan juga pengemudi selama 24 jam.
Baca Juga: Di FGD Bersama Kemenhub, Pengemudi Ojol Dukung Kenaikan Tarif Transportasi Online
"Itu kan tidak ada di aplikasi yang tidak menerapkan 20 persen itu. Jadi bagi kami selama itu tidak melanggar, itu harusnya sudah sewajarnya, kita tidak bisa menuntut. Karena tidak ada yang dilanggar," jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga menolak perubahan sistem dari kemitraan menjadi buruh. Menurutnya, sistem kemitraan akan membuat para pengemudi ojol bekerja lebih fleksibel.
Dengan sistem kemitraan, para pengemudi akan mendapatkan penghadilan lebih banyak karena tidak terpaku hanya pada satu wadah. Namun jika berubah menjadi buruh, maka para pengemudi hanya boleh bernaung di satu perusahaan.
Baca Juga: Demo Ojol 21 Juli Sepi, URC Tegaskan Tolak Status Buruh dan Dukung Skema Potongan 20 Persen
"Banyak driver, rata-rata mayoritas driver itu punya aplikasi lebih dari satu. Ketika kita menjadi karyawan kita tidak boleh seperti itu. Karena harus satu perusahaan. Akhirnya fleksibilitas itu menjadi hilang," katanya.
Hal senada juga dikatakan Lady Grab Jakarta Barat, Riska. Menurutnya, banyak pengemudi ojol yang merupakan ibu tunggal atau single parent. Selain bekerja sebagai ojol, mereka juga harus tetap merawat anaknya.
"Banyak lady Grab kita yang single. Ketika nanti dia ingin mengantar sekolah, kalau sudah statusnya karyawan kan jam kerjanya harus ditetapkan. Itulah yang menurut kami, status pekerja itu tidak tepat untuk teman-teman driver ojol," ujar Riska.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 7Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 8Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi








