AKURAT.CO Dari realitas di Indonesia, harus diakui masih ada intoleransi, ketakutan keterpisahan antara umat-umat beragama, dan kerap terjadi insiden-insiden yang memalukan.
Guru Besar STF Driyarkara, Jakarta, Prof Dr. Frans Magniz Suseno mencontohkan pembakaran 1.500 pemukiman umat berbeda di satu wilayah.
Tapi, ia melihat sebenarnya toleransi di Indonesia amat baik. Umat Katolik di Jawa hanya 1 persen, namun merasa aman dan tidak bermasalah. Demikian pula mahasiswa Universitas Muhammadiyah di Kupang 90 persen beragama Kristen dan Katolik.
Bahkan, menurut Frans, dalam 30 tahun terakhir hubungan NU dan Muhammadiyah semakin akrab.
"Saling menghargai, dan jika ada masalah maka umat katolik dapat berkomunikasi dengan NU dan Muhammadiyah," ujar Frans dalam acara seminar internasional, dikutip di Jakarta, Rabu (14/6/2023).
Seminar internasional bertajuk 'Merawat Toleransi Beragama ini diiniasi Universitas Paramadina bekerja sama dengan Al-Musthafa International University (Iran) & STAI Sadra didukung Paramadina Graduate School of Islamic Studies & Asosiasi Aqidah & Filsafat Islam, pada Selasa (13/5/2023).
Dalam sejarah, Islam selalu dinilai lebih toleran daripada Kristianitas.
"Ada kisah di mana Nabi Muhammad kedatangan tamu Kristiani dari Yaman lalu karena hari Ahad umat kristiani itu bertanya di mana mereka dapat beribadah, dan nabi Muhammad menyuruh beribadah di dalam masjid nabi. Itu luar biasa," tutur Frans.
Khalifah Umar juga di Yerusalem memastikan bahwa Katedral Kristiani tetap bisa dipakai oleh umat Kristiani. Tapi sekarang situasi di Timur Tengah kacau. Padahal lebih dari 1.000 tahun, minoritas kecil Yahudi dan 9 persen kristiani dari Mesir, Palestina, Yordan, Syria, Irak, hidup dengan damai bekerja tanpa kesulitan di dalam masyarakat dan pemerintahan Islami. Hal ini adalah fakta penting.
Menurut Frans, Katolik Kristiani perlu suatu proses untuk menjadi lebih toleran.
Meski dalam sejarah umat Katolik ditindas oleh Romawi karena menolak menyembah Kaisar Romawi. Namun akhirnya abad ke-4 Romawi menjadikan kristiani sebagai agama resmi.
Frans lantas membagi intoleransi dalam dua kategori. Pertama, intoleransi biasa yang sebetulnya tiada berkaitan dengan agama.
"Tapi dengan kepicikan alami manusia yang curiga terhadap yang berbeda, menganggap saingan dan sebagainya. Perbedaan dirasakan sebagai ancaman," terangnya.
Intoleransi yang lebih serius menurut Frans, berdasarkan pada ajaran agama sendiri. Di mana penolakan bahkan menyuruh tindak kekerasan terhadap penganut agama lain.
"Kritik terhadap buku Yan Asman 20 tahun lalu. Dia menuduh monoteisme menjadi biang keladi kepicikan, intoleransi dan kekerasan pada umat manusia," ulas Franz.
Menurut Yan Asman, monoteisme bermula di gunung Sinai, ketika Musa membawa perjanjian Tuhan dengan bangsa Israil dan diajarkan pasal pertama jangan ada Tuhan lain selain daripada-Ku.
Tuhan akan menjaga bangsa Israil sebagai bangsa terpilih, asal setia kepada Tuhannya Musa.
"Itu berarti Israil hanya mengakui Yahwe sebagai Allah," imbuh Frans.
Dari itu, Asman pun menuduh monoteisme menyebabkan satu distingsi yang sebelumnya tidak ada.
"Distingsi antara Allah yang benar dan segala macam dewa dewi dan ilah lain yang tidak benar. Juga distingsi antara agama yang benar yang mengakui Allah dan agama-agama yang tidak benar antara orang beriman dan kafir atau ajaran benar dan ajaran sesat," urainya lebih lanjut.
Asman juga katakan sebelum ada monoteisme tidak ada agama yang lebih benar dari yang lain. Sebab, agama menjadi bagian dari kebudayaan masing-masing. Budaya yang berbeda bisa diterima termasuk letak geografis.
"Dengan mengakui Allah satu-satunya yang benar, menurut Asman monoteisme membawa keluar agama dari budaya masing-masing dan memisahkan agama menjadi sistem tersendiri," lanjut Frans.
"Dengan itu Asman kemudian menuduh monoteisme menjadi misionaris, dan intoleran karena antara yang benar dan salah tidak ada tempat bagi toleransi," tukasnya.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Unggah Video Veda Ega Pratama Salip David Munoz, Akun Resmi MotoGP 'Diserbu' Netizen
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Kalender Jawa 19 September 2026: Watak Weton Sabtu Wage, Setia dan Berpendirian Kuat
- 4Komposisi Pemain Asing Persija Belum Penuh, Manajer Minta Soal Skuad Percayakan ke Shin Tae-yong
- 5Soal Dualitas Alumni Universitas Trisakti, Menteri Maman: Hanya Ada Satu Ikatan yakni IKA Trisakti
- 6Kalender Jawa 21 September 2026: Watak Weton Senin Legi, Sopan dan Mudah Bergaul
- 7Cuaca Hari Ini 19 September 2026: BMKG Peringatkan Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah
- 8Asian Games: Pebulutangkis Juara Dunia Junior Thailand Dinyatakan Positif Doping
- 9Utang BLBI Warisan 98 Lunas, Menkeu: Presiden Prabowo Sambut Baik Penyelesaian Ini
- 10OTT Lagi, KPK Amankan Bupati Bolaang Mongondow Utara Bersama 13 Orang Lainnya



