Akurat Logo

Frans Magniz: Toleransi Di Indonesia Sebetulnya Amat Baik

| 14 Juni 2023, 15:33 WIB
Frans Magniz: Toleransi Di Indonesia Sebetulnya Amat Baik

AKURAT.CO Dari realitas di Indonesia, harus diakui masih ada intoleransi, ketakutan keterpisahan antara umat-umat beragama, dan kerap terjadi insiden-insiden yang memalukan.

Guru Besar STF Driyarkara, Jakarta, Prof Dr. Frans Magniz Suseno mencontohkan pembakaran 1.500 pemukiman umat berbeda di satu wilayah. 

Tapi, ia melihat sebenarnya toleransi di Indonesia amat baik. Umat Katolik di Jawa hanya 1 persen, namun merasa aman dan tidak bermasalah. Demikian pula mahasiswa Universitas Muhammadiyah di Kupang 90 persen beragama Kristen dan Katolik. 

Bahkan, menurut Frans, dalam 30 tahun terakhir hubungan NU dan Muhammadiyah semakin akrab. 

"Saling menghargai, dan jika ada masalah maka umat katolik dapat berkomunikasi dengan NU dan Muhammadiyah," ujar Frans dalam acara seminar internasional, dikutip di Jakarta, Rabu (14/6/2023).

Seminar internasional bertajuk 'Merawat Toleransi Beragama ini diiniasi Universitas Paramadina bekerja sama dengan Al-Musthafa International University (Iran) & STAI Sadra didukung Paramadina Graduate School of Islamic Studies & Asosiasi Aqidah & Filsafat Islam, pada Selasa (13/5/2023).

Dalam sejarah, Islam selalu dinilai lebih toleran daripada Kristianitas. 

"Ada kisah di mana Nabi Muhammad kedatangan tamu Kristiani dari Yaman lalu karena hari Ahad umat kristiani itu bertanya di mana mereka dapat beribadah, dan nabi Muhammad menyuruh beribadah di dalam masjid nabi. Itu luar biasa," tutur Frans.

Khalifah Umar juga di Yerusalem memastikan bahwa Katedral Kristiani tetap bisa dipakai oleh umat Kristiani. Tapi sekarang situasi di Timur Tengah kacau. Padahal lebih dari 1.000 tahun, minoritas kecil Yahudi dan 9 persen kristiani dari Mesir, Palestina, Yordan, Syria, Irak, hidup dengan damai bekerja tanpa kesulitan di dalam masyarakat dan pemerintahan Islami. Hal ini adalah fakta penting. 

Menurut Frans, Katolik Kristiani perlu suatu proses untuk menjadi lebih toleran. 

Meski dalam sejarah umat Katolik ditindas oleh Romawi karena menolak menyembah Kaisar Romawi. Namun akhirnya abad ke-4 Romawi menjadikan kristiani sebagai agama resmi. 

Frans lantas membagi intoleransi dalam dua kategori. Pertama, intoleransi biasa yang sebetulnya tiada berkaitan dengan agama. 

"Tapi dengan kepicikan alami manusia yang curiga terhadap yang berbeda, menganggap saingan dan sebagainya. Perbedaan dirasakan sebagai ancaman," terangnya. 

Intoleransi yang lebih serius menurut Frans, berdasarkan pada ajaran agama sendiri. Di mana penolakan bahkan menyuruh tindak kekerasan terhadap penganut agama lain. 

"Kritik terhadap buku Yan Asman 20 tahun lalu. Dia menuduh monoteisme menjadi biang keladi kepicikan, intoleransi dan kekerasan pada umat manusia," ulas Franz.

Menurut Yan Asman, monoteisme bermula di gunung Sinai, ketika Musa membawa perjanjian Tuhan dengan bangsa Israil dan diajarkan pasal pertama jangan ada Tuhan lain selain daripada-Ku. 

Tuhan akan menjaga bangsa Israil sebagai bangsa terpilih, asal setia kepada Tuhannya Musa.

"Itu berarti Israil hanya mengakui Yahwe sebagai Allah," imbuh Frans.  

Dari itu, Asman pun menuduh monoteisme menyebabkan satu distingsi yang sebelumnya tidak ada. 

"Distingsi antara Allah yang benar dan segala macam dewa dewi dan ilah lain yang tidak benar. Juga distingsi antara agama yang benar yang mengakui Allah dan agama-agama yang tidak benar antara orang beriman dan kafir atau ajaran benar dan ajaran sesat," urainya lebih lanjut. 

Asman juga katakan sebelum ada monoteisme tidak ada agama yang lebih benar dari yang lain. Sebab, agama menjadi bagian dari kebudayaan masing-masing. Budaya yang berbeda bisa diterima termasuk letak geografis. 

"Dengan mengakui Allah satu-satunya yang benar, menurut Asman monoteisme membawa keluar agama dari budaya masing-masing dan memisahkan agama menjadi sistem tersendiri," lanjut Frans. 

"Dengan itu Asman kemudian menuduh monoteisme menjadi misionaris, dan intoleran karena antara yang benar dan salah tidak ada tempat bagi toleransi," tukasnya.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.