Akurat

Green Financing dan Masa Depan Perbankan Berkelanjutan

Ratu Tiara | 3 Februari 2026, 16:26 WIB
Green Financing dan Masa Depan Perbankan Berkelanjutan

AKURAT.CO Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan kini tidak lagi berhenti pada slogan. Perubahan iklim, krisis energi, hingga pencemaran lingkungan mendorong banyak pihak mulai dari individu, pelaku usaha, hingga pemerintah untuk mengubah cara pandang dalam membangun ekonomi.

Di tengah arus perubahan itu, sektor perbankan turut mengambil peran melalui skema pembiayaan yang dikenal dengan istilah green financing atau pembiayaan hijau.

Konsep ini semakin sering terdengar seiring meningkatnya kebutuhan pendanaan untuk proyek-proyek ramah lingkungan.

Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan green financing di perbankan? Bagaimana cara kerjanya, untuk siapa pembiayaan ini diberikan, dan sejauh mana dampaknya bagi masyarakat serta lingkungan?

Baca Juga: Era Suku Bunga Rendah, OJK Optimistis Kredit Perbankan di 2026 Tumbuh Kuat

Apa Itu Green Financing?

Green financing adalah skema pembiayaan yang disalurkan oleh bank atau lembaga keuangan untuk mendukung kegiatan usaha, proyek, maupun investasi yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.

Artinya, dana yang dikucurkan tidak hanya dinilai dari aspek keuntungan ekonomi, tetapi juga dari dampak ekologis yang ditimbulkan.

Dalam praktik perbankan, pembiayaan hijau diarahkan untuk aktivitas yang berkontribusi pada pengurangan emisi karbon, efisiensi energi, pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab, serta upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Dengan kata lain, green financing menjadi jembatan antara kebutuhan pembangunan ekonomi dan tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan.

Mengapa Green Financing Menjadi Penting Saat Ini?

Dorongan terhadap pembiayaan hijau tidak muncul tanpa alasan. Indonesia, seperti banyak negara lain, menghadapi tantangan besar terkait lingkungan mulai dari ketergantungan pada energi fosil hingga meningkatnya limbah industri.

Di sisi lain, pemerintah menargetkan pembangunan berkelanjutan jangka panjang, termasuk komitmen menuju netralitas karbon dalam beberapa dekade ke depan.

Di sinilah perbankan memainkan peran strategis. Bank tidak hanya berfungsi sebagai penyalur dana, tetapi juga sebagai gatekeeper yang menentukan ke mana arah aliran modal bergerak.

Dengan menerapkan prinsip green financing, bank dapat mendorong dunia usaha untuk bertransformasi ke arah yang lebih ramah lingkungan tanpa harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Pradoks Dana SAL di Perbankan dan Pelambatan Kredit Dunia Usaha

Apa Itu Pembiayaan Hijau dalam Perbankan?

Dalam konteks perbankan, pembiayaan hijau adalah kredit atau pendanaan yang diberikan dengan mempertimbangkan kriteria lingkungan tertentu. Artinya, tidak semua proyek bisa langsung memperoleh pembiayaan ini.

Bank akan menilai apakah kegiatan yang diajukan memiliki manfaat ekologis yang nyata atau setidaknya meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Pembiayaan hijau dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kredit investasi untuk pembangkit energi terbarukan, pembiayaan kendaraan listrik, pembangunan gedung hemat energi, hingga dukungan modal bagi usaha kecil yang mengusung konsep ekonomi sirkular.

Bahkan, sektor pertanian dan perikanan yang menerapkan praktik berkelanjutan juga termasuk dalam cakupan green financing.

Bagaimana Cara Kerja Green Financing?

Berbeda dengan kredit konvensional, green financing melewati proses penilaian tambahan. Selain analisis kelayakan usaha dan kemampuan finansial debitur, bank juga melakukan evaluasi terhadap dampak lingkungan dari proyek yang diajukan.

Penilaian tersebut biasanya mencakup:

  • Potensi pengurangan emisi atau pencemaran.
  • Efisiensi penggunaan energi dan sumber daya.
  • Kepatuhan terhadap regulasi lingkungan.
  • Komitmen jangka panjang pelaku usaha terhadap praktik berkelanjutan.

Jika proyek dinilai memenuhi kriteria, bank dapat memberikan pembiayaan dengan skema tertentu, termasuk tenor yang disesuaikan atau insentif lain yang mendorong keberlanjutan usaha.

Pembiayaan Hijau Itu Apa bagi Masyarakat?

Bagi masyarakat luas, pembiayaan hijau bukan konsep yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Skema ini bisa hadir dalam bentuk kredit kepemilikan kendaraan listrik, pembiayaan rumah dengan desain ramah lingkungan, atau dukungan modal bagi UMKM yang mengolah limbah menjadi produk bernilai tambah.

Dengan kata lain, green financing membuka akses pembiayaan bagi masyarakat yang ingin berkontribusi pada pelestarian lingkungan, namun sebelumnya terkendala biaya awal yang relatif tinggi. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh debitur, tetapi juga oleh lingkungan dan komunitas di sekitarnya.

Apa Itu Green Financing di Bank BRI?

Dalam praktiknya, sejumlah bank nasional telah mengintegrasikan prinsip pembiayaan hijau ke dalam kebijakan bisnis mereka, termasuk Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Green financing di BRI merujuk pada penyaluran pembiayaan yang mendukung kegiatan usaha berwawasan lingkungan, terutama di sektor produktif dan UMKM.

Melalui pendekatan ini, BRI mendorong pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.

Fokusnya mencakup sektor-sektor seperti pertanian berkelanjutan, energi terbarukan, pengelolaan limbah, hingga usaha mikro yang menerapkan prinsip ramah lingkungan dalam proses produksinya.

Siapa yang Diuntungkan dari Green Financing?

Manfaat green financing tidak hanya dirasakan oleh bank atau debitur. Lingkungan mendapatkan dampak positif melalui berkurangnya tekanan terhadap sumber daya alam.

Masyarakat memeroleh kualitas hidup yang lebih baik, sementara dunia usaha memiliki peluang untuk tumbuh secara berkelanjutan.

Bagi perbankan sendiri, pembiayaan hijau membantu mengelola risiko jangka panjang.

Proyek yang memperhatikan aspek lingkungan cenderung lebih adaptif terhadap perubahan regulasi dan tuntutan pasar di masa depan.

Menuju Ekonomi Hijau yang Lebih Nyata

Green financing menandai perubahan paradigma dalam dunia keuangan. Bank tidak lagi semata-mata berbicara soal laba, tetapi juga tentang keberlanjutan.

Melalui pembiayaan hijau, sektor perbankan berperan aktif dalam membentuk arah pembangunan yang lebih bertanggung jawab.

Ke depan, green financing diperkirakan akan semakin berkembang seiring meningkatnya kesadaran publik dan tuntutan global terhadap praktik ekonomi berkelanjutan.

Bagi masyarakat dan pelaku usaha, memahami konsep ini menjadi langkah awal untuk ikut terlibat dalam membangun masa depan yang lebih hijau bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk generasi mendatang.

Mutiara MY (Magang)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R