Akurat

Hari Bumi 2025: Kemenag Luncurkan Program Ekoteologi dan Gerakan 1 Juta Pohon Matoa

Oktaviani | 22 April 2025, 22:29 WIB
Hari Bumi 2025: Kemenag Luncurkan Program Ekoteologi dan Gerakan 1 Juta Pohon Matoa

AKURAT.CO Memperingati Hari Bumi Internasional ke-55 yang jatuh pada Selasa (22/4/2025), Kementerian Agama Republik Indonesia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat komitmen menjaga kelestarian bumi.

Momentum ini dimanfaatkan dengan peluncuran Program Ekoteologi dan Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Matoa di seluruh Indonesia.

Hari Bumi sendiri ditetapkan oleh Majelis Umum PBB sejak 2009 sebagai International Mother Earth Day, yang bertujuan membangun kesadaran global terhadap pentingnya melindungi planet dan seluruh kehidupan di dalamnya.

Kepala Kanwil Kemenag Provinsi DKI Jakarta, Adib, menjelaskan, Program Ekoteologi merupakan pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kesadaran ekologis.

“Penguatan ekoteologi bukan sekadar ajaran, tapi aksi nyata. Lingkungan hidup adalah amanah yang harus kita rawat bersama,” tegasnya.

Adib menambahkan, pohon matoa dipilih karena merupakan tanaman endemik Papua yang memiliki nilai ekologis tinggi, adaptif terhadap berbagai kondisi lingkungan, dan menghasilkan buah yang kaya manfaat kesehatan.

Baca Juga: Paula Verhoeven Curhat ke Teman Pria Soal Baim Wong, Deddy Corbuzier Heran

“Penanaman pohon ini adalah manifestasi konkret dari ekoteologi,” katanya.

Gerakan ini melibatkan seluruh unit kerja Kemenag, organisasi keagamaan, tokoh lintas agama, dan komunitas lokal.

Di Provinsi DKI Jakarta saja, target penanaman mencapai 132.785 pohon, dengan rincian:

  • Kanwil Kemenag DKI Jakarta: 342 pohon

  • Kankemenag Kota Jakarta Pusat: 16.281 pohon

  • Kankemenag Kota Jakarta Utara: 22.759 pohon

  • Kankemenag Kota Jakarta Barat: 27.268 pohon

  • Kankemenag Kota Jakarta Selatan: 28.168 pohon

  • Kankemenag Kota Jakarta Timur: 35.466 pohon

  • Kankemenag Kab. Kepulauan Seribu: 2.501 pohon

Yang menarik, program ini didesain sebagai gerakan lintas iman. Semua agama besar di Indonesia memiliki landasan spiritual yang mendukung pelestarian lingkungan:

  • Islam: Menjaga bumi sebagai amanah khalifah fil ardh
  • Kristen & Katolik: Menjadi penatalayan ciptaan Tuhan
  • Hindu: Harmoni dengan alam melalui prinsip Tri Hita Karana
  • Buddha: Praktik welas asih dan karma baik
  • Khonghucu: Harmoni dengan Tian sebagai bentuk tanggung jawab moral

“Ini menegaskan bahwa menjaga bumi adalah tugas universal yang melampaui batas agama, suku, dan golongan,” kata Adib.

Sinergi lintas lembaga juga terlihat kuat. Ketua Baznas Bazis DKI Jakarta, Ahmad H. Abu Bakar, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap Kemenag atas sinergi dan kepeduliannya terhadap isu lingkungan.

“Menanam pohon bukan hanya tindakan fisik, tapi bentuk ibadah sosial yang memberi manfaat bagi seluruh ekosistem,” ujarnya.

Baca Juga: Cara Mudah Menyimpan Foto dari HP ke Google Drive

Baznas Bazis juga mendorong masyarakat untuk terus menunaikan zakat, infak, dan sedekah. Dana yang terkumpul bisa dimanfaatkan untuk mendukung program kemaslahatan umat, termasuk kegiatan pelestarian lingkungan seperti ini.

“Semakin besar kesadaran sosial kita, semakin luas pula dampaknya. Mari kita jaga bumi dan tingkatkan solidaritas melalui zakat,” tambahnya.

Gerakan 1 Juta Pohon Matoa dan penguatan nilai-nilai ekoteologi adalah langkah nyata menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Sinergi antara spiritualitas, kesadaran ekologis, dan solidaritas sosial ini menjadi bukti bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama.

“Gerakan ini bukan hanya soal menanam pohon, tapi menanam harapan, kesadaran, dan tanggung jawab spiritual. Kita tanam bersama, kita rawat bersama, demi bumi yang lestari dan generasi masa depan yang lebih baik,” tutup Adib.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.