Eks Staf Ahok Minta Anies Pakai Anggaran Formula E Bantu Anak Yatim yang Putus Sekolah

AKURAT.CO, Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PDIP Ima Mahdiah menentang gelaran Formula E pada 2022 mendatang.
Ima memiliki berapa alasan sehingga menentang gelaran Formula E. Pertama karena kondisi keuangan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang cekak. Dia mengatakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta sedang defisit. Ditambah lagi Pemprov DKI Jakarta hingga kini belum mendapat sponsor.
Ima menyarankan anggaran Formula E dialihkan ke program penanganan pandemi Covid-19. Misalnya, membantu anak yatim piatu karena orang tuanya meninggal akibat terpapar Covid-19.
"Dengan ABPD DKI yang defisit seperti ini kita (lebih baik) buat beberapa anak yatim piatu yang putus sekolah, mereka juga tidak bisa melanjutkan kuliah karena ortunya meninggal dunia karena Covid-19," kata mantan Staf Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) itu ketika dikonfirmasi, Jumat (27/8/2021).
Ima mendesak Anies lebih bijak dalam menggunakan anggaran. Dia ingin Anies bisa menentukan skala prioritas.
"Maka dari itu kami mengajukan interpelasi PDIP ingin agar gubernur lebih bijaksana, lebih mengatur keuangannya lebih penting untuk apa," tegas Ima.
Kedua, Ima menolak gelaran Formula E karena sikap jajaran Pemprov DKI Jakarta yang terkesan tertutup. Dia menyayangkan hal teknis, semisal uji kelayakan Formula E yang hasilnya tidak dibuka ke publik. Padahal komisi E dan B DPRD DKI Jakarta sudah berulang-ulang mendesak Anies Baswedan untuk memaparkannya.
"Sampai sekarang tidak pernah jawab, tidak pernah. Bahkan kami tanya terus, ada rekamannya juga. Tidak pernah disampaikan," tegas Ima.
Sementara itu, Fraksi PKS DPR DKI Jakarta pasang badan membela Gubernur Anies Baswedan atas interpelasi Formula E.
"Kami menganggap interpelasi ini masih prematur," kata Politisi PKS DPRD DKI Jakarta Abdul Aziz ketika dikonfirmasi Jumat (27/8/2021).
Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta itu mengatakan, masih ada cara lain untuk mempertanyakan anggaran-anggaran yang digunakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menghelat Formula E ketimbang menggulirkan interpelasi. Dia yakin Gubernur Anies Baswedan bakal memberi penjelasan terkait hal ini.
"Kalau kami gali keterangan, masih bisa kok pakai cara yang lain. Interpelasi ini kan seolah-olah gubernur begitu tertutup sehingga tidak bisa memberikan informasi lagi sehingga kita memerlukan cara-cara yang ada UU," tegasnya.
Aziz mengklaim, sejauh ini Anies Baswedan selalu terbuka dengan siapapun, gampang dihubungi dan diajak bicara, sehingga menurutnya interpelasi yang digulirkan sekarang ini kurang terpat dan terkesan berlebihan.
"Saya kira gubernur masih open kok. Saya kalau WA dijawab, mau ketemu anytime terbuka. Ya kenapa tidak pakai cara-cara seperti ini, karena kan kalo pakai cara interpelasi ini kan seolah-olah ada gap yang besar antara eksekutif dengan legislatif," tandasnya. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





