Lensa yang Tak Mau Pensiun: Kisah Juru Foto Ragunan di Tengah Gempuran Teknologi

AKURAT.CO Di era ketika setiap momen dapat diabadikan hanya dengan satu sentuhan jari di layar ponsel, kamera bukan lagi barang langka. Hampir semua orang membawa “studio foto” di genggaman mereka.
Namun, di tengah laju teknologi yang kian cepat, masih ada sosok yang setia bertahan dengan cara lama—menjual kenangan, bukan sekadar gambar.
Di Taman Margasatwa Ragunan, tepatnya di depan kandang Pelikan Timor, Pak Sayadi duduk tenang di atas alas plastik.
Usianya telah melampaui tujuh dekade, tubuhnya tak lagi setegap dulu, tetapi semangatnya tetap bergelora.
Celana hitam, rompi sederhana, peci yang setia menutup kepala, dan sebuah kamera Nikon lama yang menggantung di lehernya—itulah identitas yang tak pernah ia tinggalkan sejak 1981.
Di depannya, beberapa hasil jepretan ia gelar, sebagian warnanya mulai memudar, namun ceritanya tetap hidup.
Tanpa teriakan, tanpa rayuan berlebihan. Hanya selembar kertas bertuliskan “Photo Langsung Jadi” berukuran kecil yang menjadi penanda jasanya.
Baca Juga: Pembunuh Balita Divonis 9 Tahun, Keadilan untuk Anak Dipertanyakan
“Pak, berapa harga fotonya?” tanya saya.
“Lima belas ribu,” jawabnya pelan, dengan senyum yang tak dibuat-buat.
Ketika ditanya soal pembayaran digital, ia menggeleng pelan.
“Belum bisa, neng. Bapak enggak ngerti,” katanya jujur.
Pak Sayadi adalah warga sekitar Ragunan. Fotografi bukan sekadar pekerjaan baginya, melainkan kegemaran yang tumbuh sejak muda.
Sejak lulus SMA, ia sudah menjajakan jasa foto di kebun binatang ini. Namun, perjalanan hidup membawanya sejenak meninggalkan dunia yang ia cintai.
Ia sempat berhenti berjualan ketika diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Pertanian.
Di sana pun, kamera tak pernah benar-benar lepas dari tangannya. Ia dipercaya menjadi fotografer dalam berbagai kegiatan pimpinan.
“Saya pensiun tahun 2013. Setelah itu, saya foto lagi sampai sekarang,” ujarnya, sambil sesekali membersihkan lensa kamera.
Zaman berubah. Kamera ponsel semakin canggih, dan pelanggan semakin berkurang. Pak Sayadi menyadari betul kenyataan itu.
“Sekarang paling cuma 10 persen pengunjung yang pakai jasa foto. Soalnya 90 persen sudah punya hape kamera sendiri,” katanya, tetap dengan senyum yang tak pudar.
Baca Juga: Jalur Terjal Ditembus Motor Trail, Pemerintah Pastikan Logistik Tiba ke Wilayah Terisolasi Aceh
Ia juga merasakan dampak sepinya libur Natal tahun ini. Menurutnya, jumlah pengunjung Ragunan pada Natal 2025 jauh lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya.
“Dari pagi sampai siang baru sedikit yang foto. Mudah-mudahan libur sekolah dan tahun baru nanti rame,” harapnya lirih.
Saat sesi foto dimulai, Pak Sayadi kembali ke dunianya. Dengan gerakan luwes, ia mengarahkan posisi, mencari sudut terbaik, dan memencet tombol rana dengan penuh keyakinan. Tak ada kesan terburu-buru.
Setiap klik adalah bentuk kecintaannya pada fotografi—hobi yang terus ia rawat meski zaman tak lagi memihak.
Di tengah gempuran teknologi, jasa foto cetak mungkin perlahan tergerus. Namun bagi Pak Sayadi, kamera bukan soal tren, melainkan cara hidup.
Selama masih ada orang yang ingin mengabadikan momen dengan cara sederhana, ia akan tetap duduk di sana—menjaga kenangan, satu foto pada satu waktu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










