Rupiah Ditaksir Melemah ke Rp18.030 Seiring Fokus Pasar ke The Fed dan Konflik AS-Iran

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (30/9/2026).
Pelaku pasar akan mencermati sejumlah faktor eksternal, mulai dari arah kebijakan bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) hingga perkembangan negosiasi antara AS dan Iran yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar global.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah masih berpotensi bergerak dalam rentang Rp17.980 hingga Rp18.030 per USD pada perdagangan hari ini.
Baca Juga: Rupiah Ambruk 0,67 Persen, Begini Strategi BI Perkuat Mata Uang Garuda
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.980-Rp18.030," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (30/9/2026).
Pada perdagangan Selasa (29/9/2026), rupiah ditutup melemah tipis 3 poin ke level Rp17.981 per USD dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.978. Rupiah sempat mengalami tekanan lebih besar hingga melemah 40 poin sebelum berakhir pada level tersebut.
Pergerakan rupiah turut berlangsung di tengah penguatan indeks dolar AS. Dari eksternal, pasar mencermati perkembangan pembicaraan antara pejabat AS dan Iran yang berlangsung melalui pihak penengah.
Pembicaraan tersebut berkaitan dengan upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi mengatakan, Iran masih menunggu tanggapan AS terhadap proposal gencatan senjata yang diajukan Teheran.
Proposal tersebut antara lain mencakup penghentian permusuhan di Iran dan Lebanon, pencairan aset Iran, penghentian sanksi terhadap minyak Iran, serta pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian pasar karena setiap perubahan situasi geopolitik berpotensi memengaruhi harga komoditas energi dan sentimen terhadap aset keuangan global.
Di sisi lain, pasar juga mengantisipasi arah kebijakan The Fed. Tingginya harga minyak menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar karena dapat memberikan tekanan terhadap inflasi dan memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter AS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 5Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 6Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 7Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 8Prediksi Spanyol vs Kroasia di UEFA Nations League: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 9Harmonisasi Pendidikan dan Industri, Cara Cermat TBIG Merawat Jaringan Telekomunikasi dan Asa Anak Bangsa
- 10KPK Geledah Kantor Bela Parahiyangan Investindo, Terkait Suap Kementerian ATR/BPN









