BI Prediksi Ekonomi Global 2026 Tumbuh 3 Persen, Inflasi 4,6 Persen

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) menilai tekanan terhadap perekonomian global masih tinggi. Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan hanya sekitar 3%, sementara inflasi global meningkat hingga sekitar 4,6%.
Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan ketidakpastian pasar keuangan dan tingginya suku bunga global.
Gubernur BI, Destry Damayanti mengatakan, kondisi tersebut turut dipengaruhi oleh meningkatnya kembali tensi perang di Timur Tengah. Eskalasi konflik mendorong kenaikan harga minyak dunia yang sempat menyentuh USD132 per barel, sebelum kembali turun ke bawah USD100 per barel pada 22 September 2026.
Baca Juga: Caplok Asuransi Etiqa, Maybank Indonesia Mulai Beroperasi sebagai Grup Keuangan Terintegrasi
"Pertumbuhan ekonomi global 2026 diprakirakan masih lemah sekitar 3,0 persen dan diikuti tekanan inflasi yang meningkat menjadi sekitar 4,6 persen," kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Tekanan tersebut membuat arah kebijakan moneter global menjadi salah satu perhatian BI. Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, telah menaikkan suku bunga acuannya atau Fed Funds Rate (FFR) ke kisaran 3,75%-4% pada September 2026. BI melihat kemungkinan kenaikan suku bunga tersebut masih terbuka.
Kenaikan suku bunga AS juga diikuti peningkatan imbal hasil atau yield surat utang pemerintah AS atau US Treasury. Kondisi itu terjadi di tengah ekspektasi kenaikan FFR dan besarnya defisit anggaran pemerintah AS.
Bagi negara berkembang, kondisi tersebut dapat memengaruhi arus modal. BI mencatat preferensi investor global terhadap investasi portofolio di negara emerging market masih tertahan.
Pada saat yang sama, dolar AS tetap kuat terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang.
Tekanan tersebut menjadi salah satu alasan BI menekankan pentingnya memperkuat ketahanan eksternal Indonesia. Stabilitas nilai tukar dan kemampuan perekonomian menghadapi gejolak global menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi ekonomi domestik.
Baca Juga: Bank Indonesia Salurkan 32,5 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT
"Kondisi ini mengharuskan penguatan respon dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik," ujar Destry.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Trump Akui AS Kembali Serang Iran, Sistem Pertahanan Udara Dihancurkan dalam Hitungan Menit
- 2Moto3 Qatar, Hiroshi Aoyama Terima Penalti Veda Ega Pratama, Tegaskan 'Feeling' Pembalap Bagus
- 3Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 4Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 5Kalender Jawa 6 November 2026: Weton Jumat Pahing, Wataknya Dikenal Gigih dan Ambisius
- 6KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 7Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar










