AKURAT.CO Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Selasa (30/6/2026). Rupiah ditutup melemah 55 poin ke posisi Rp17.906 per USD, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.851 per USD.
Pelemahan tersebut terjadi di tengah kombinasi sentimen global dan domestik, termasuk menguatnya indeks dolar AS serta menyusutnya surplus perdagangan Indonesia yang selama ini menjadi salah satu penopang ketahanan eksternal.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan dolar AS masih dipicu tingginya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.922
"Indeks dolar AS menguat karena pelaku pasar masih mencermati dinamika hubungan Amerika Serikat dan Iran. Ketidakpastian mengenai kemungkinan pembicaraan di Doha, ditambah sikap hawkish sejumlah pejabat The Fed, membuat investor kembali memburu aset berdenominasi dolar AS," kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (30/6/2026).
Ibrahim menjelaskan perhatian pasar masih tertuju pada perkembangan hubungan AS-Iran setelah kedua negara saling melancarkan serangan rudal pada akhir pekan lalu yang kembali menguji keberlangsungan gencatan senjata.
Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi menyatakan, Iran bersama Oman akan membahas redefinisi jalur pelayaran di Selat Hormuz, sementara Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei memastikan belum ada agenda negosiasi dengan Amerika Serikat dalam waktu dekat.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump juga mengatakan, hasil pertemuan yang direncanakan di Doha masih belum dapat dipastikan. Ketidakjelasan tersebut membuat pelaku pasar tetap bersikap hati-hati mengingat Selat Hormuz merupakan jalur strategis distribusi minyak dunia.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mulai mengantisipasi rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat. Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Juni diperkirakan menunjukkan penambahan sekitar 114.000 lapangan kerja, sedangkan tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di 4,3%. Data tersebut dinilai akan menjadi salah satu penentu arah kebijakan suku bunga The Fed pada paruh kedua tahun ini.
Namun tekanan terhadap rupiah kali ini tidak hanya berasal dari luar negeri. Dari dalam negeri, pasar mulai menyoroti semakin menyusutnya surplus perdagangan Indonesia yang berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan surplus neraca perdagangan kumulatif Januari-April 2026 hanya mencapai USD5,64 miliar, turun hampir separuh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih berada di atas USD10 miliar.
Penyusutan surplus tersebut dinilai mengurangi pasokan devisa dari sektor perdagangan sehingga kemampuan Indonesia menopang nilai tukar menjadi lebih terbatas. Pada kuartal I-2026, transaksi berjalan Indonesia juga telah mencatat defisit sekitar USD4 miliar, menandakan tekanan eksternal mulai meningkat apabila tidak diimbangi arus modal asing yang memadai.
Di sisi lain, inflasi domestik juga menjadi perhatian. Inflasi Mei tercatat mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia, terutama dipicu kenaikan harga pangan. Meski inflasi nasional masih tergolong terkendali, tekanan harga di sejumlah wilayah, khususnya Sumatra, tercatat lebih tinggi dibandingkan daerah lain akibat gangguan distribusi pangan, faktor cuaca, pola tanam yang belum sinkron, serta meningkatnya biaya logistik global.
Untuk perdagangan Rabu (1/7/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per USD, sembari menunggu rilis data ekonomi Amerika Serikat serta perkembangan data perdagangan Indonesia yang akan menjadi indikator penting bagi arah pasar selanjutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 5Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun
- 10Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara











