Industri Rusia Tertekan, Migran Jadi Penyangga Ekonomi

AKURAT.CO Perang Rusia di Ukraina tidak hanya menelan biaya militer besar, tetapi juga memperparah krisis tenaga kerja di dalam negeri.
Kombinasi mobilisasi militer, ekonomi perang, dan eksodus warga usia produktif membuat sektor industri Rusia kesulitan beroperasi penuh.
Mengutip dari laman Reuters, ratusan ribu pekerja sipil ditarik ke industri pertahanan, sementara ratusan ribu lainnya meninggalkan negara itu sejak 2022. Kondisi ini menciptakan kekosongan besar di sektor pertambangan, galangan kapal, konstruksi, hingga layanan publik.
Dampaknya dirasakan langsung oleh dunia usaha. Perusahaan tambang raksasa MMC Norilsk Nickel PJSC kekurangan sekitar 10.000 pekerja di Siberia pada 2024, setara 10% dari total tenaga kerjanya. Hingga kini, kekurangan tersebut belum sepenuhnya teratasi.
Baca Juga: Serap 251 Ribu Tenaga Kerja, PIK 2 Perkuat UMKM dan Ekonomi Pesisir Tangerang
“Kekurangan tenaga kerja terampil tetap menjadi tantangan utama bagi industri Rusia,” ujar juru bicara perusahaan tambang terbesar di Rusia, Norilsk Nickel.
Situasi serupa dialami JSC Shipbuilding Corporation Ak Bars. Perusahaan pembuat kapal sipil dan militer itu kekurangan hingga 2.000 pekerja, memaksa operasional berjalan hanya sekitar setengah kapasitas, kata Direktur Utama Renat Mistakhov.
Untuk menutup celah tersebut, perusahaan Rusia semakin agresif merekrut tenaga kerja asing, terutama dari Asia. Selain jumlah yang melimpah, pekerja dari kawasan ini juga dinilai lebih murah. Seorang teknisi listrik terampil asal India, misalnya, dapat dibayar sekitar 25% lebih rendah dibanding pekerja lokal.
Agen perekrutan bahkan membangun pusat pelatihan di luar negeri. Intrud bekerja sama dengan Asosiasi Tukang Las Rusia membuka pusat pelatihan di Chennai, India, untuk menyiapkan pekerja sebelum dikirim ke Rusia.
Baca Juga: MBG Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja, Bappenas: Kunci Pembangunan Nasional
Rusia juga memanfaatkan hubungan dengan Korea Utara. Jumlah warga Korea Utara yang masuk ke Rusia meningkat sejak 2022, sebagian besar menggunakan visa pelajar. Jumlah pekerja Korea Utara di lokasi konstruksi Rusia diperkirakan mencapai 50.000 orang hingga akhir 2025.
Meski demikian, para ahli menilai ketergantungan pada tenaga kerja asing akan menjadi realitas jangka panjang. Dengan populasi yang terus menua dan tingkat kelahiran rendah, Rusia diperkirakan akan semakin terbuka terhadap migran untuk menjaga roda ekonominya tetap berputar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 6India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 7Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan








