Akurat

Modal Asing Rp5,96 Triliun Kabur dari RI, BI Terus Stabilisasi Rupiah

Hefriday | 24 Januari 2026, 13:55 WIB
Modal Asing Rp5,96 Triliun Kabur dari RI, BI Terus Stabilisasi Rupiah

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing keluar bersih dari pasar keuangan domestik sebesar Rp5,96 triliun pada pekan ketiga Januari 2026.

Data ini menjadi sorotan pelaku pasar karena mencerminkan dinamika global yang masih menekan arus investasi ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
 
Meski demikian, BI menegaskan stabilitas makroekonomi dan ketahanan eksternal tetap terjaga melalui koordinasi kebijakan yang konsisten.

Bagi investor dan masyarakat, pergerakan modal asing, nilai tukar rupiah, serta imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) menjadi indikator penting dalam membaca arah pasar keuangan Indonesia. Terlebih, isu arus modal dan pergerakan dolar AS masih menjadi kata kunci utama yang banyak dicari publik di tengah volatilitas global awal 2026.
 

Rincian Modal Asing Keluar di Saham, SBN, dan SRBI

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa aliran modal asing keluar tersebut terjadi pada periode transaksi 19–22 Januari 2026.

“Modal asing keluar bersih dari pasar keuangan domestik sebesar Rp5,96 triliun,” ujar Ramdan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (24/1/2026).

Arus keluar tersebut berasal dari tiga instrumen utama, yakni pasar saham sebesar Rp2,67 triliun, Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp1,44 triliun, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp1,85 triliun.

Sejak Awal 2026, Saham dan SBN Masih Catat Aliran Masuk

Meski terjadi arus keluar dalam jangka pendek, BI mencatat bahwa sejak awal tahun hingga 22 Januari 2026, investor asing masih membukukan modal masuk bersih di beberapa instrumen.

Modal asing masuk bersih tercatat yakni Pasar saham sebesar Rp8,02 triliun dan SBN sebesar Rp1,89 triliun. Sementara itu, SRBI mencatat modal asing keluar bersih sebesar Rp2,67 triliun secara year to date.

Data ini menunjukkan bahwa minat investor asing terhadap aset keuangan Indonesia belum sepenuhnya surut, meski diwarnai penyesuaian portofolio jangka pendek.

Premi Risiko Indonesia Naik, Rupiah Tetap Menguat Tipis

Dari sisi risiko investasi, credit default swaps (CDS) Indonesia tenor 5 tahun tercatat meningkat dari 70,86 basis poin (bps) pada 15 Januari 2026 menjadi 73,28 bps per 22 Januari 2026. Kenaikan CDS mengindikasikan kehati-hatian investor terhadap risiko global yang masih berlanjut.

Sementara itu, nilai tukar rupiah justru dibuka menguat tipis di level Rp16.850 per dolar AS pada Jumat (23/1/2026), dibandingkan penutupan Kamis (22/1) di level Rp16.880 per USD.

Dolar AS Melemah, Yield SBN Stabil

Penguatan rupiah sejalan dengan melemahnya indeks dolar AS (DXY) yang turun ke level 98,36 pada akhir perdagangan Kamis (22/1/2026). DXY mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, termasuk euro, yen Jepang, dan pound sterling.

Dari pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun tercatat relatif stabil di level 6,33% pada Jumat (23/1/2026), sedikit di atas posisi Kamis (22/1) di 6,32%. Sebaliknya, imbal hasil US Treasury Note 10 tahun meningkat ke level 4,245%, yang kerap menjadi faktor penekan arus modal ke emerging markets.

BI Tegaskan Komitmen Jaga Ketahanan Eksternal

Ramdan turut menegaskan bahwa Bank Indonesia terus mengambil langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” tegasnya.

Arus modal asing yang keluar pada pekan ketiga Januari 2026 mencerminkan dinamika global yang masih penuh tantangan. Namun, data BI menunjukkan fondasi pasar keuangan Indonesia tetap solid, ditopang stabilitas rupiah, imbal hasil SBN yang terjaga, serta komitmen kuat otoritas moneter.
 
Bagi investor dan pelaku pasar, perkembangan ini menjadi sinyal penting untuk terus mencermati arah kebijakan dan sentimen global ke depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa