Inflasi Tokyo Meningkat, BOJ Didesak Perjelas Arah Kenaikan Suku Bunga

AKURAT.CO Kenaikan inflasi di Tokyo menambah tekanan bagi Bank of Japan (BOJ) untuk memperjelas arah kebijakan moneternya.
Dengan inflasi inti mencapai 2,8% pada Oktober 2025, sebagian ekonom menilai saatnya bank sentral mulai menormalisasi kebijakan suku bunga ultra-rendah yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Mengutip dari laman bloomberg, hasil laporan Kementerian Dalam Negeri menunjukkan bahwa indeks harga konsumen (IHK) di luar makanan segar naik lebih cepat dari perkiraan, dipicu oleh berakhirnya subsidi air di ibu kota.
Baca Juga: Menkeu Purbaya: Inflasi RI Bukan Karena Ekonomi Kuat, tapi Karena Biaya Tinggi
Kenaikan harga air dan biaya hidup lainnya membuat inflasi Tokyo bertahan di atas target 2% BOJ selama 42 bulan berturut-turut—periode terpanjang sejak target itu ditetapkan pada 2013.
Namun Gubernur Bank of Japan (BoJ), Kazuo Ueda tetap berhati-hati. Dalam konferensi pers terbarunya, Ueda menyebut bahwa inflasi Jepang belum menunjukkan tren yang cukup kuat untuk mendukung kenaikan suku bunga secara agresif.
“Kami melihat tekanan harga masih didorong oleh faktor biaya, bukan oleh peningkatan permintaan yang berkelanjutan,” ujarnya.
BOJ memutuskan menahan suku bunga acuan pada Kamis (30/10), namun hasil survei Bloomberg menunjukkan separuh pengamat kini memperkirakan kenaikan berikutnya kemungkinan terjadi pada Desember.
Kenaikan tersebut, jika terjadi, akan menjadi langkah lanjutan setelah BOJ mengakhiri kebijakan suku bunga negatif awal tahun ini.
Baca Juga: Pemda Harus Kendalikan Inflasi Daerah
Berbeda dengan Amerika Serikat atau Eropa, BOJ tidak menghadapi tekanan politik besar terkait kebijakan moneternya. PM Sanae Takaichi, meski dikenal sebagai pendukung pelonggaran moneter, belum memberikan desakan eksplisit agar BOJ mempertahankan suku bunga rendah.
Meski begitu, pernyataannya tahun lalu bahwa kenaikan suku bunga adalah langkah “bodoh” masih membayangi hubungan antara pemerintah dan bank sentral.
Situasi ini membuat BOJ berada di persimpangan sulit: menaikkan suku bunga untuk menjaga kredibilitas di tengah inflasi tinggi, atau menahan kebijakan agar tidak menekan konsumsi dan investasi.
“BOJ tampaknya menunggu bukti nyata bahwa kenaikan upah dan inflasi berjalan beriringan sebelum mengambil langkah selanjutnya,” kata Takeshi Minami, ekonom utama di Norinchukin Research Institute.
Dengan tingkat pengangguran stabil di 2,6% dan rasio lowongan kerja 1,2, pasar tenaga kerja Jepang memang masih solid.
Namun jika inflasi terus bertahan di atas target tanpa diimbangi pertumbuhan upah, BOJ akan semakin sulit menjelaskan kebijakan longgarnya kepada publik dan pasar global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









