Purbaya Jadi Menkeu, Ekonom: Titik Balik Arah Kebijakan Fiskal

AKURAT.CO Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai ada dua aspek besar yang perlu dicermati pasca pergantian posisi Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati ke Purbaya Yudhi Sadewa.
Josua menyebut dua aspek bersar tersebut yakni arah kebijakan fiskal ke depan serta perkembangan kepercayaan pasar dan investor.
“Dari sisi rekam jejak, Purbaya dikenal sebagai ekonom teknokrat dengan pengalaman panjang di bidang stabilitas sistem keuangan, terutama saat memimpin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Karakter kebijakannya cenderung hati-hati dan berbasis analisis risiko,” kata Josua, Senin (8/9/2025).
Namun, Josua menekankan bahwa tantangan yang dihadapi Purbaya sebagai Menkeu berbeda dari pengalaman sebelumnya.
Baca Juga: Ekonom: Purbaya Harus Buktikan Konsistensi Jaga Disiplin Fiskal
Saat ini, Purbaya harus menavigasi beban fiskal besar akibat program-program prioritas pemerintah, mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), subsidi energi yang masih tinggi, pembangunan 3 juta rumah, hingga program Koperasi Merah Putih.
Apalagi, RAPBN 2026 sendiri diproyeksikan memiliki defisit sekitar 2,48% PDB, sehingga ruang fiskal relatif sempit untuk ekspansi baru.
“Ini berarti Purbaya harus menyeimbangkan antara keberlanjutan fiskal dengan tuntutan politik dan sosial untuk memperbesar belanja publik,” ujar Josua.
Menurutnya, salah satu langkah yang bisa diambil adalah realokasi belanja dari pos birokrasi dan pertahanan menuju sektor produktif seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan pekerja.
Jika strategi ini berhasil, kredibilitas kebijakan fiskal dapat meningkat karena lebih berpihak pada pembangunan jangka panjang.
Lebih lanjut, Josua mengingatkan bahwa Sri Mulyani dipandang sebagai jangkar disiplin anggaran oleh investor asing.
Kehadirannya selama ini menjadi alasan kuat mengapa pasar masih memberikan kepercayaan pada stabilitas fiskal Indonesia di tengah program belanja yang besar. “Karena itu, pergantian ini menimbulkan ketidakpastian yang langsung tercermin dalam gejolak pasar keuangan,” ucapnya.
Josua menuturkan kredibilitas Purbaya akan akan sangat ditentukan oleh beberapa faktor, seperti komitmen menjaga defisit tetap terkendali, strategi pembiayaan utang yang prudent tanpa terlalu membebani pasar SBN, dan kualitas komunikasi fiskal yang konsisten dan transparan.
“Jika ketiga hal ini dapat ditunjukkan dalam jangka pendek, pasar akan mulai merespons positif dan aliran modal asing dapat kembali stabil,” tutur Josua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








