Akurat

Prabowo Bidik Nol Persen Defisit APBN pada 2027-2028

Hefriday | 16 Agustus 2025, 18:55 WIB
Prabowo Bidik Nol Persen Defisit APBN pada 2027-2028

AKURAT.CO Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan harapannya agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia dapat mencapai posisi tanpa defisit atau balance budget pada 2027 atau 2028. 

Komitmen tersebut ia ungkapkan dalam pidato kenegaraan saat menyampaikan Pengantar Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2026 beserta Nota Keuangannya di Sidang Paripurna DPR RI, Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Kemarin (15/8/2025).
 
“Adalah harapan saya, adalah cita-cita saya, untuk suatu saat, apakah dalam 2027 atau 2028. Saya ingin berdiri di depan majelis ini, di podium ini, untuk menyampaikan bahwa kita berhasil punya APBN yang tidak ada defisitnya sama sekali,” kata Presiden Prabowo. 
 
Prabowo menegaskan defisit tersebut tetap ditopang pembiayaan yang prudent, inovatif, serta berkelanjutan. Pemerintah, kata dia, terus berupaya menjaga agar kondisi fiskal tetap terkendali dalam batas aman, sembari memastikan setiap belanja negara memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
 
Kepala Negara menekankan bahwa efisiensi belanja menjadi strategi utama untuk menekan defisit. Pemerintah berjanji akan memangkas belanja yang tidak produktif dan mengalihkan anggaran pada program prioritas, termasuk peningkatan kualitas layanan publik, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan daya beli masyarakat.
 
 
“Efisiensi adalah kunci. Dengan belanja yang lebih tepat sasaran, kita bisa menekan defisit anggaran sekecil mungkin,” ujar Prabowo.
 
Selama ini, defisit kerap dianggap wajar sebagai instrumen pembiayaan pembangunan. Namun, Prabowo ingin membuktikan bahwa disiplin fiskal tetap bisa berjalan beriringan dengan agenda pembangunan nasional.
 
“Defisit yang kita kelola hari ini adalah bagian dari proses menuju disiplin fiskal yang lebih kuat. Insya Allah, dalam beberapa tahun ke depan, kita bisa mencapai APBN tanpa defisit,” tukas Prabowo.
 
Merespons ini, Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani menilai perhitungan itu perlu dilakukan secara bertahap dengan melihat kondisi fiskal negara. Untuk saat ini, pihaknya akan fokus mengawal pelaksanaan APBN 2025 yang masih berjalan hingga empat bulan ke depan.

“Untuk balance budget 2-3 tahun, kita lihat dulu di 2026 ya. Belum mulai 2026 sudah memikirkan 2-3 tahun. Tapi, saya melihat sinyal dari Presiden, jadi nanti juga akan kami siapkan sesuai tadi yang diharapkan,” ujar Sri Mulyani.

Secara paralel, Kemenkeu akan mempersiapkan pelaksanaan APBN 2026 yang saat ini sudah memasuki tahap sidang tahunan untuk Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang APBN.

“Untuk arahan yang diminta oleh Presiden, untuk suatu saat Indonesia balance budget, saya rasa itu adalah sesuatu yang nanti harus kita terus hitung dan nanti pasti dilaporkan kepada Presiden,” tuturnya.

Postur RAPBN 2026

Dalam RAPBN 2026, pemerintah menetapkan pendapatan Rp3.147,7 triliun dan belanja negara sebesar Rp3.786,5 triliun. Dengan postur tersebut, defisit anggaran diperkirakan mencapai Rp638,8 triliun atau setara 2,48% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
 
Jika dirinci, pendapatan negara ditaksir mencapai Rp3.147,7 triliun, naik 9,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Target ini didorong oleh peningkatan penerimaan pajak serta optimalisasi penerimaan dari kepabeanan dan cukai, meski PNBP sedikit mengalami penurunan.

Dalam penjelasannya, Menkeu menyampaikan bahwa penerimaan pajak ditargetkan sebesar Rp2.357,7 triliun, atau naik 13,5%. Sementara penerimaan dari kepabeanan dan cukai diperkirakan mencapai Rp334,3 triliun, atau naik 7,7% . Di sisi lain, PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) mengalami penurunan sebesar 4,7% menjadi Rp455 triliun, terutama karena tidak lagi diperolehnya dividen BUMN.
 
Di sisi lain, belanja negara dipatok naik 7,3% dari outlook 2025 menjadi Rp3.786,5 triliun, dengan alokasi besar diarahkan untuk mendukung program prioritas pemerintah.
 
Belanja kementerian/lembaga naik signifikan sebesar 17,5% menjadi Rp1.498,3 triliun, sementara belanja non-KL mencapai Rp1.638,2 triliun, naik 18%. Transfer ke daerah Rp650 triliun.

Belanja akan difokuskan untuk genda prioritas seperti ketahanan pangan, energi, pendidikan bermutu, kesehatan berkualitas, pembangunan desa koperasi, pertahanan semesta dan percepatan investasi dan perdagangan global.

Di sisi pembiayaan anggaran RAPBN 2026, diperkirakan sebesar Rp638,8 triliun, turun 3,5% menjadi 2,45% dari PDB, lebih rendah dibandingkan tahun 2025 dengan fokus mengendalikan rasio utang dan mendorong efektivitas pembiayaan investasi.
 
Keseimbangan primer juga diperkirakan semakin mendekati nol, dengan desain defisit primer di angka Rp39,4 triliun pada 2026.
 
Postur RAPBN 2026
  • Pendapatan negara: Rp3.147,7 triliun (naik 9,8%)
  • Penerimaan perpajakan: Rp2.692 triliun (naik 12,8%)
  • Penerimaan pajak: Rp2.357,7 triliun (naik 13,5%)
  • Penerimaan kepabeanan dan cukai: Rp334,3 triliun (naik 7,7%)
  • PNBP: Rp455 triliun (turun 4,7%)
  • Belanja negara: Rp3.786,5 triliun (naik 7,3%)
  • Belanja pemerintah pusat: Rp3.136,5 triliun (naik 17,8%)
  • Belanja K/L: Rp1.498,3 triliun (naik 17,5%)
  • Belanja non K/L: Rp1.638,2 triliun (naik 18%)
  • TKD: Rp650 triliun (turun 24,8%)
  • Keseimbangan primer: Rp39,4 triliun (turun 64,2%)
  • Defisit APBN: Rp638,8 triliun (turun 3,5%)
  • Persentase terhadap PDB: 2,48%
  • Pembiayaan anggaran: Rp638,8 triliun (turun 3,5%)
 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa