Dana Asing Rp10,49 Triliun Kabur dari RI, Mayoritas SRBI
Hefriday | 20 Juli 2025, 15:00 WIB

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) melaporkan adanya arus keluar modal asing senilai Rp10,49 triliun dari pasar keuangan domestik dalam periode 14–17 Juli 2025.
Dari jumlah tersebut, sebagian besar dana asing keluar dari instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), menandai adanya tekanan pada kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa nilai dana asing yang hengkang dari SRBI mencapai Rp8,95 triliun. Selain itu, pasar saham Indonesia juga mengalami tekanan dengan aliran keluar dana asing sebesar Rp1,91 triliun.
Hanya pasar surat berharga negara (SBN) yang mencatat aliran masuk asing sebesar Rp380 miliar dalam periode yang sama.
“Berdasarkan data transaksi 14 – 17 Juli 2025, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp10,49 triliun, terdiri dari jual neto sebesar Rp1,91 triliun di pasar saham dan Rp8,95 triliun di SRBI, serta beli neto sebesar Rp0,38 triliun di pasar SBN,” ujar Ramdan dalam keterangannya, Minggu (20/7/2025).
Secara kumulatif, sejak awal tahun hingga 17 Juli 2025, dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai Rp58,01 triliun.
Sementara itu, dari instrumen SRBI, dana asing yang keluar tercatat sebesar Rp48,07 triliun. Di sisi lain, pasar SBN mencatat pembelian bersih oleh investor asing senilai Rp59,97 triliun.
Tren arus keluar ini mengindikasikan adanya pergeseran preferensi investor global terhadap aset-aset keuangan Indonesia. Salah satu faktor yang memengaruhi adalah dinamika imbal hasil (yield) global, terutama dari pasar keuangan Amerika Serikat.
Tercatat, pada 17 Juli 2025, yield surat berharga negara (SBN) Indonesia tenor 10 tahun turun ke level 6,57%. Sebaliknya, yield US Treasury Note tenor 10 tahun naik menjadi 4,451%. Perbedaan imbal hasil ini turut memengaruhi keputusan investor dalam memilih aset dengan risiko dan keuntungan optimal.
Sementara itu, premi risiko investasi Indonesia yang tercermin dalam credit default swap (CDS) tenor 5 tahun justru menunjukkan perbaikan.
CDS Indonesia turun menjadi 73,49 basis poin dibandingkan posisi pekan sebelumnya yang sebesar 74,23 basis poin. Penurunan ini mencerminkan persepsi risiko kredit Indonesia yang sedikit membaik di mata investor global.
Di sisi nilai tukar, BI mencatat posisi kurs rupiah terhadap dolar AS berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) berada di level Rp16.301 per dolar AS pada Jumat (18/7/2025).
Meskipun masih berada pada level tinggi, stabilitas rupiah menjadi salah satu fokus kebijakan otoritas moneter.
Merespons dinamika ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan nilai tukar melalui berbagai langkah bauran kebijakan.
“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” kata Ramdan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










