Penutupan Selat Hormuz Tekan Fiskal RI, Analis: Terlalu Dini
Camelia Rosa | 23 Juni 2025, 18:10 WIB

AKURAT.CO Iran berencana menutup Selat Hormuz sebagai imbas serangan Amerika Serikat (AS) ke 3 fasilitas nuklirnya. Penutupan ini akan dilakukan jika objek vital nasional Iran itu benar-benar terancam.
Lantas bagaimana dampaknya ke Indonesia apabila Selat Hormuz tersebut resmi ditutup Iran? Penutupan Selat Hormuz ini tentunya bakal berdampak terhadap distribusi minyak mentah dunia.
Hal ini lantaran Selat Hormuz menjadi salah satu rute perdagangan terpenting untuk minyak mentah di dunia.
Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Pri Agung Rakhmanto berpendapat masih terlalu dini jika penutupan Selat Hormuz dinilai berdampak terhadap pos subsidi harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.
"Agak terlalu dini sebenarnya jika (penutupan Selat Hormuz) langsung berdampak ke Fiskal RI seperti harga BBM, subsidi energi dan lain-lain, karena untuk fiskal perhitungannya tentu satu tahun rata-rata," jelasnya kepada media, Senin (23/6/2025).
Pri Agung menilai, penutupan selat Hormuz ini sejatinya akan merugikan Iran sendiri. Pasalnya, rute perdagangan ini juga dijadikan Iran sebagai jalur ekspor minyak ke Asia Pasifik hingga China.
Bahkan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, oman, Qatar, dan UAE juga menggunakan Selat Hormuz untuk transportasi migas mereka.
"Jadi, yang berkepentingan untuk tidak menutup Selat itu sebenarnya bisa dikatakan semua negara, termasuk Iran sendiri, dan juga China, partner perdagangan minyaknya yang utama. Dengan kata lain, peluang untuk itu secara matematika ekonomi sebenarnya relatif kecil. Itu mungkin lebih merupakan psywar sekarang ini," terangnya.
Meski demikian diakui Pri Agung, yang terjadi saat ini sudah cukup membuat sentimen harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan karena adanya kekhawatiran pasokan.
Apalagi lebih dari 20 juta barrel minyak atau setara dengan 20 persen konsumsi minyak dunia melewati Selat ini setiap harinya.
"Akan naik sampai berapa? Ya semua akan tergantung pada bagaimana ekskalasi perang itu. Apakah akan ter-contained sebatas Iran-Israel-AS atau akan meluas. Kalau terbatas, perlahan harga akan kembali turun ke fundamentalnya di kisaran USD60 sampai 70 per barel. Kalau perang meluas, ya tidak ada yg tahu berapa batas atasnya," tukas Pri Agung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 7KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 8Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 9KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah
- 10Geledah Kantor Pusat Djarum, KPK Dalami Penyimpangan Penerimaan Cukai Rokok








