Akurat

4 Tanda Suatu Negara Sukses Manfaatkan Bonus Demografi

M. Rahman | 2 Mei 2025, 22:56 WIB
4 Tanda Suatu Negara Sukses Manfaatkan Bonus Demografi

AKURAT.CO Bonus demografi mengacu ke kondisi negara saat mengalami pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari perubahan struktur usia populasi. Hal ini biasanya disebabkan oleh penurunan tingkat kesuburan dan kematian.

Mengutip Investopedia, Jumat (2/5/2025), sebuah negara yang mengalami tingkat kelahiran yang rendah bersamaan dengan tingkat kematian yang rendah akan menerima dividen ekonomi atau keuntungan dari peningkatan produktivitas penduduk yang bekerja.

Dengan semakin sedikitnya jumlah kelahiran yang tercatat, jumlah tanggungan usia muda menjadi lebih kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk yang bekerja.

Dengan lebih sedikit orang yang harus ditanggung dan lebih banyak orang yang masuk dalam angkatan kerja, sumber daya ekonomi dibebaskan dan diinvestasikan di bidang lain untuk mempercepat pembangunan ekonomi suatu negara dan kemakmuran masa depan penduduknya.

Tahapan Bonus Demografi

Untuk mendapatkan bonus demografi, sebuah negara harus melalui transisi demografi dimana negara tersebut beralih dari ekonomi agraris yang sebagian besar pedesaan dengan tingkat kesuburan dan kematian yang tinggi menjadi masyarakat industri perkotaan yang ditandai dengan tingkat kesuburan dan kematian yang rendah.

Pada tahap awal transisi ini, tingkat kesuburan turun, yang mengarah pada angkatan kerja yang untuk sementara waktu tumbuh lebih cepat daripada jumlah penduduk yang bergantung padanya.

Di samping itu, pendapatan per kapita juga tumbuh lebih cepat selama masa ini. Manfaat ekonomi ini merupakan dividen pertama yang diterima oleh negara yang telah melalui transisi demografi.

Baca Juga: Bonus Demografi RI Beban atau Aset Pembangunan?

Tahap awal bonus demografi biasanya berlangsung lama, sekitar lima dekade atau 50 tahun lebih. Namun pada akhirnya, penurunan angka kelahiran akan mengurangi pertumbuhan angkatan kerja.

Sementara itu, kemajuan di bidang kedokteran dan praktik kesehatan yang lebih baik menyebabkan populasi lansia yang terus bertambah, sehingga mengurangi pendapatan tambahan dan mengakhiri bonus demografi.

Pada tahap ini, semua hal lain dianggap sama, pendapatan per kapita tumbuh dengan laju yang melambat dan bonus demografi pertama menjadi negatif.

Di tahap kedua, bonus demografi bisa berlangsung sepanjang masa selama lansia berinvestasi di berbagai mesin investasi. Populasi pekerja yang lebih tua yang menghadapi masa pensiun yang lebih lama memiliki insentif yang kuat untuk mengumpulkan aset guna menghidupi diri mereka sendiri.

Aset-aset ini biasanya diinvestasikan di kendaraan investasi domestik dan internasional, menambah pendapatan nasional suatu negara. Peningkatan pendapatan nasional ini disebut sebagai bonus demografi kedua yang terus diperoleh tanpa batas waktu.

Bukan Jaminan

Meskipun banyak negara mengalami pergeseran dalam struktur usia, pergeseran ini tidak menjamin adanya bonus demografi. Berbagai negara di Benua Afrika, termasuk Afrika Selatan dan Benua Amerika Latin termasuk Brazil merupakan salah dua contoh negara yang gagal memanfaatkan bonus demografi.

Untuk itu, manfaat yang didapat dari transisi demografi sifatnya tidaklah otomatis atau terjamin. Setiap bonus demografi tergantung pada apakah pemerintah menerapkan kebijakan yang tepat di berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, tata kelola pemerintahan, dan ekonomi.

Selain itu, jumlah bonus demografi yang diterima suatu negara bergantung pada tingkat produktivitas orang dewasa muda yang, pada gilirannya, bergantung pada tingkat pendidikan, praktik ketenagakerjaan di suatu negara, waktu, dan frekuensi melahirkan anak, serta kebijakan ekonomi yang memudahkan orang tua muda untuk bekerja.

Manfaat bonus demografi juga terkait erat dengan produktivitas orang dewasa yang lebih tua yang bergantung pada insentif pajak, program kesehatan, dan kebijakan pensiun dan hari tua.

Tanda Sebuah Negara Berhasil Memanfaatkan Bonus Demografi 

Lantas, apa tandanya sebuah negara berhasil memanfaatkan bonus demografi? Setidaknya ada 4 indikator atau output yang bisa dilihat.

Pertama, peningkatan tabungan. Selama periode bonus demografi, tabungan pribadi tumbuh dan dapat digunakan untuk menstimulasi perekonomian.

Kedua, bertambahnya pasokan tenaga kerja. Lebih banyak pekerja ditambahkan ke dalam angkatan kerja, termasuk lebih banyak perempuan. 

Ketiga, sumber daya manusia meningkat. Dengan jumlah kelahiran yang lebih sedikit, orang tua dapat mengalokasikan lebih banyak sumber daya per anak, yang mengarah pada hasil pendidikan dan kesehatan yang lebih baik.

Terakhir, pertumbuhan ekonomi meningkat pesat. PDB per kapita meningkat karena penurunan rasio ketergantungan.

Berbagai negara termasuk China, India, Korea Selatan, Thailand dan Irlandia disebut berhasil memanfaatkan bonus demografi dengan kebijakan yang memadai dan tepat.

Sementara itu, Indonesia sendiri ditaksir mulai memetik bonus demografi pada tahun 2025-2037 dengan banyaknya penduduk usia produktif. Diperkirakan jumlah penduduk usia kerja akan mencapai 76% dari jumlah penduduk dan usia lanjut hanya mencapai 10,7%.

Momentum ini harus maksimalkan dengan baik untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, melesat dan keluar dari jebakan middle income trap. Bisa dibilang, ini jadi kesempatan terakhir jika Indonesia mau lepas landas menuju negara maju.

Kondisi statistik sumber daya manusia (SDM) saat ini yang sedang tidak baik-baik saja pun harus diatasi, mulai dari isu kurang gizi, TBC maupun akses terhadap lapangan kerja berkualitas yang belum merata.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa