Anindya Bakrie Dorong Strategi Konsolidasi dan Diversifikasi Hadapi Perang Dagang Global

AKURAT.CO Dalam menghadapi ketidakpastian global akibat perang dagang dan ketegangan ekonomi internasional, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk tetap tenang dan konsisten dalam menjalankan strategi ekonomi nasional.
“Menurut saya, kita sangat siap untuk bersaing secara global. Kita harus tetap tenang, jalankan rencana, dan nikmati prosesnya,” kata Anindya dalam keterangan tertulis, Rabu (23/4/2025).
Anindya menjelaskan bahwa dampak langsung dari perang tarif antara Amerika Serikat dan negara-negara lain terhadap Indonesia tidak separah yang kerap diberitakan. Namun, ia menekankan pentingnya strategi antisipatif melalui negosiasi bilateral dan kerja sama strategis lintas negara.
Baca Juga: Anindya Bakrie: Saatnya Indonesia Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Modern Agriculture
Dalam waktu dekat, Kadin akan bertolak ke Amerika Serikat untuk membahas relokasi impor migas senilai USD40 miliar yang diharapkan dapat menjembatani surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar USD18 miliar.
“Kalau negosiasi ini berhasil, tarif bisa kembali normal, bahkan ekspor kita bisa naik setidaknya 10 persen. Sektor seperti elektronik, alas kaki, dan pakaian bisa tumbuh lebih besar,” paparnya.
Namun, Anindya juga mengingatkan risiko yang mungkin muncul, termasuk ancaman terhadap sekitar 2,1 juta pekerja yang berpotensi terdampak dari perlambatan global. Oleh sebab itu, ia mendorong penguatan konsumsi domestik yang saat ini menyumbang 55–60% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
“Untuk menjaga pertumbuhan ekonomi 5-6 persen, kita butuh penciptaan 2-3 juta lapangan kerja tiap tahun. Jika 2 juta pekerja terdampak, ini jadi persoalan besar,” katanya.
Anindya juga menyebut pentingnya diversifikasi pasar ekspor sebagai langkah jangka panjang. Dirinya mencontohkan kunjungan Kadin ke Turki, Qatar, India, dan Brazil yang telah menghasilkan sejumlah kesepakatan investasi dan kerja sama strategis, termasuk pembentukan sub-fund senilai total 4 miliar dolar AS di Qatar.
Baca Juga: Kadin Gandeng Estonia, Buka Peluang Baru Digital dan Investasi Menuju Pasar Eropa
Sementara di sektor pertanian dan perikanan, Indonesia terus mempelajari praktik terbaik dari negara seperti India dan Vietnam. Salah satu yang menjadi fokus adalah budidaya lobster di NTT untuk pasar ekspor ke Amerika.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










