Non Ducor Duco, Gaya Kepemimpinan Ala Trump
Demi Ermansyah | 8 April 2025, 14:03 WIB

AKURAT.CO "Non Ducor, Duco”. Ungkapan Latin yang artinya "Saya tidak dipimpin, Saya memimpin" tersebut bukan hanya terdengar megah dan berwibawa, tapi menyiratkan filosofi kepemimpinan yang kuat.
Ungkapan latin ini mengisyaratkan pemimpin yang tidak tunduk pada arah orang lain, melainkan menjadi arah itu sendiri.
Tentunya prinsip tersebut semakin menegaskan bahwa seorang pemimpin sejati tak hanya menempati posisi strategis, tetapi juga menentukan visi, keberanian, dan ketegasan dalam setiap langkah kebijakan.
Dalam konteks global, salah satu sosok yang tampaknya menjadikan “Non Ducor, Duco” sebagai prinsip tak tertulis dalam pemerintahannya adalah Presiden Amerika Serikat saat ini, Donald Trump.
Trump kini menjadi sorotan berkat manuver politik dan ekonominya yang kontroversial. Trump mematahkan rasionalitas, dan seolah ingin mengembalikan AS ke belakang sebelum era globalisasi atau pax americana yang dipopulerkan oleh AS sendiri.
Tentu gaya kepemimpinan Trump yang dominan, seringkali dianggap populis bahkan konfrontatif, memunculkan kembali perdebatan tentang makna sebenarnya menjadi pemimpin.
Gaya Tegas dengan Efek Mengguncang
Kembalinya Trump ke arena politik global dengan sejumlah kebijakan “America First” tidak hanya berdampak pada domestik AS, tetapi juga mengguncang tatanan ekonomi dunia.
Dikutip dari berbagai sumber internasional, salah satu yang paling kentara adalah kebijakan tarif impor terhadap negara-negara mitra dagang termasuk China, Meksiko, bahkan Indonesia.
Dengan alasan melindungi industri dalam negeri dan lapangan kerja Amerika, Trump mengenakan bea masuk tinggi terhadap produk asing.
Baru-baru ini, kebijakan tersebut diperluas hingga menyentuh sektor-sektor strategis seperti peralatan listrik dan teknologi.
Imbasnya, negara-negara seperti China langsung merespons dengan tarif balasan, memicu kembali perang dagang yang sempat reda.
Indonesia pun ikut terkena getahnya. Sejumlah produk kelistrikan Indonesia dikenakan tarif timbal balik sebesar 32%.
Asosiasi Produsen Peralatan Listrik Indonesia (APPI) telah menyuarakan keresahan, karena dampaknya bisa menggerus ekspor nasional, mengancam daya saing industri dalam negeri, hingga memperbesar peluang masuknya barang impor dari negara terdampak lainnya.
Trump, dalam hal ini, tampil sebagai simbol dari Non Ducor, Duco. Ia tak tunduk pada konsensus internasional, organisasi multilateral, bahkan kritik dalam negerinya.
Dirinya memimpin dengan narasi kuat, yakni Amerika di atas segalanya. Namun, pertanyaannya, apakah semua pemimpin yang berprinsip 'saya memimpin' otomatis baik?
Mengacu kepada hasil tulisan kepemimpinan Negara dalam Diskursus Pemikiran Politik Al-Farabi terdapat garis tipis antara menjadi pemimpin visioner dan menjadi penguasa absolut.
Seorang pemimpin ideal memimpin karena mendapat kepercayaan, mengayomi karena memahami konteks, dan bertindak berdasarkan prinsip keadilan, bukan hanya kepentingan sesaat.
Trump dikenal dengan pendekatannya yang agresif dan kadang unilateral. Ia percaya bahwa AS harus mengatur ulang hubungan dagang dan geopolitik berdasarkan kepentingan nasional semata.
Namun dalam praktiknya, kebijakan-kebijakan tersebut sering kali menimbulkan dampak domino yang luas yakmi merusak aliansi strategis, memicu ketidakpastian pasar, dan mengganggu stabilitas global.
Di titik ini, “Non Ducor, Duco” bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, pemimpin seperti Trump berhasil mengembalikan sentralitas AS dalam wacana global.
Akan tetapi di sisi lain, pendekatannya yang konfrontatif dapat menurunkan kepercayaan internasional dan menciptakan friksi di berbagai level kerja sama antarnegara.
Implikasinya bagi Indonesia
Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang.
Di tengah gempuran tarif tinggi dan kemungkinan limpahan produk dari negara lain, Indonesia harus sigap memperkuat sektor produktif, memperluas pasar ekspor non-tradisional, dan mengedepankan substitusi impor di dalam negeri.
Kebijakan makroekonomi seperti menjaga stabilitas fiskal, mempercepat hilirisasi industri, dan mengefektifkan belanja pemerintah menjadi sangat penting.
Selain itu, keberpihakan terhadap UMKM dan koperasi desa seperti inisiatif Kopdes Merah Putih juga dapat menjadi tameng sosial-ekonomi agar guncangan global tidak langsung menghantam rakyat kecil.
Di sisi lain, Indonesia juga perlu memiliki pemimpin yang mampu membaca peta kekuatan global, bukan hanya menjadi pengikut arus besar.
Di sinilah makna “Non Ducor, Duco” akan menjadi relevan bukan untuk menjadi dominan secara agresif, tetapi memiliki arah, keberanian, dan prinsip yang tidak mudah dipatahkan.
Secara tidak langsung mengadopsi filosofi “Non Ducor, Duco” dalam konteks modern membutuhkan kebijaksanaan. Tidak cukup hanya kuat secara retorika, tapi juga harus tajam secara strategi.
Sebab kepemimpinan bukan soal ego, melainkan kemampuan untuk menjadi kompas moral dan praktis dalam situasi kompleks.
Trump, dengan segala kontroversinya, adalah potret dari pemimpin yang tidak mau diarahkan dan ia menuai pujian serta kritik dalam kadar yang sama.
Oleh karena itu, Indonesia butuh pemimpin yang juga tak hanya mengikuti, tetapi membimbing dengan bijak, berorientasi rakyat, dan tidak semata-mata mengejar dominasi.
Sebab, di tengah pusaran dunia yang makin kompleks, yang paling dibutuhkan bukan sekadar pemimpin yang memimpin, tapi pemimpin yang tahu ke mana harus membawa bangsanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









