AKURAT.CO Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa deflasi yang terjadi pada Februari 2025 bukan disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat.
Sebaliknya, deflasi adalah hasil dari berbagai kebijakan strategis pemerintah.
"Banyak yang memberikan interpretasi bahwa kita mengalami deflasi karena masyarakat lesu. Tidak juga!" ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Maret 2025 di Jakarta, Kamis (13/3/2025).
Sri Mulyani menjelaskan bahwa penurunan inflasi terutama terjadi pada komponen harga yang diatur pemerintah (administered price).
Dimana beberapa kebijakan yang berkontribusi terhadap deflasi ini meliputi insentif pajak pertambahan nilai (PPN) untuk tiket pesawat dan diskon listrik 50% pada Januari–Februari 2025.
Kemudian diskon tarif tol menjelang Lebaran. Program mudik gratis juga membantu mengurangi pengeluaran masyarakat.
Menurutnya, deflasi ini adalah hasil intervensi pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi, bukan karena turunnya permintaan atau daya beli masyarakat.
"Justru, kebijakan-kebijakan ini membuat harga barang dan jasa lebih terjangkau bagi masyarakat," paparnya.
Dengan kondisi tersebut, Sri Mulyani menegaskan bahwa deflasi bukanlah pertanda krisis atau melemahnya daya beli masyarakat.
Sebaliknya, ini menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga di tengah tantangan ekonomi global.
"Jadi, ini adalah salah satu pencapaian Indonesia untuk stabilitas yang luar biasa bagus," tuturnya.
Seperti yang diketahui sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi tahunan sebesar 0,09% pada Februari 2025, yang merupakan deflasi tahunan pertama sejak Maret 2000.
Menurut Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti menyebutkan bahwa faktor utama yang menyebabkan deflasi adalah penurunan tarif listrik sebesar 50% bagi pelanggan PLN dengan daya 2.200 VA ke bawah.
Secara rinci, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami deflasi 9,02% (year-on-year), berkontribusi sebesar 1,77% terhadap deflasi keseluruhan.
Sementara itu, dua komponen lainnya, yaitu inflasi inti dan inflasi barang bergejolak (volatile food), masih menunjukkan kenaikan masing-masing 2,48%.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Prabowo dan El-Sisi Tingkatkan Kerja Sama Pendidikan, Mesir Beri Tambahan Beasiswa untuk Mahasiswa Indonesia
- 10Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun









