Perang Dagang Kian Memanas! Ini Strategi China Hadapi Tekanan Tarif Tinggi AS

AKURAT.CO Hubungan dagang antara China dan Amerika Serikat memang tidak ada habisnya. Baru-baru ini Trump kembali mengancam China, dimana dirinya akan mengenakan kembali tarif tambahan sebesar 10% yang rencananya mulai berlaku 4 Maret 2025 nanti.
Meski tekanan AS yang semakin menjadi-jadi, tampaknya China memilih strategi main aman dan tetap fokus menjaga stabilitas ekonomi domestiknya.
Mengutip dari laman reuters, Presiden Xi Jinping beberapa waktu lalu meminta seluruh pejabat tinggi untuk tetap fokus menghadapi tantangan yang akan datang dari dalam maupun luar negeri.
Tentunya strategi tersebut bukan tanpa alasan, sikap ini diambil karena Beijing tidak mau gegabah dalam merespons tekanan dari AS.
Selain itu, langkah lain yang dilakukan adalah mempererat hubungan dengan sektor swasta. Belum lama ini, Xi sempat bertemu langsung dengan beberapa bos teknologi, termasuk Jack Ma dari Alibaba.
Baca Juga: AS Perketat Investasi, China Siap Ambil Tindakan!
Tujuannya jelas: membangun ulang kepercayaan para pengusaha dalam negeri agar mereka tetap semangat menggerakkan roda ekonomi.
Meski ekonomi China tumbuh lebih baik dari yang diperkirakan pada awal 2025 ini, berkat stimulus dan kenaikan ekspor, bukan berarti tantangan sudah selesai. Masalah domestik seperti melemahnya pasar tenaga kerja, konsumsi masyarakat yang masih seret, hingga krisis berkepanjangan di sektor properti jadi beban berat.
Tidak hanya itu, surplus perdagangan China yang hampir menembus USD1 triliun membuat negara-negara mitra dagang semakin waspada. Banyak yang menuding Beijing sengaja mendorong produksi berlebih lewat subsidi pemerintah, yang pada akhirnya menciptakan persaingan tidak sehat.
Alhasil, makin banyak hambatan dagang baru bermunculan, terutama buat produk andalan China seperti kendaraan listrik.
Baca Juga: Wacana Rekonsiliasi Dagang AS-China, Yuan dan Saham Kian Menguat
Seperti yang diketahui, perang dagang yang kian memanas ini membuat ekonomi China harus pintar-pintar menjaga diri. Dimana pemerintah setempat dihadapkan pada pilihan sulit, antara memperketat kebijakan proteksi atau mendorong konsumsi dalam negeri biar nggak terus bergantung sama ekspor.
Rencananya, dalam pertemuan parlemen nasional minggu ini, disebutkan akan ada kebijakan baru yang fokus pada dorongan konsumsi domestik. Tentunya hal tersebut menjadi salah satu strategi yang harus dilakukan, mengingat ekonomi China yang tidak hanya mengandalkan pasar luar negeri saja.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










