Akurat Logo

Ini Hubungan Kebijakan Politik dan Moneter AS dengan BI Rate

Demi Ermansyah | 20 Januari 2025, 10:28 WIB
Ini Hubungan Kebijakan Politik dan Moneter AS dengan BI Rate

AKURAT.CO Keterkaitan antara peta politik Amerika Serikat (AS) dan suku bunga Indonesia mungkin terdengar seperti dua hal yang terpisah jauh.

Namun, dalam dunia ekonomi global yang saling terhubung, keputusan politik di Washington dapat mempengaruhi kebijakan moneter di Jakarta. 

Seperti yang kita ketahui bersama, salah satu elemen utama dalam politik AS yang berdampak besar pada ekonomi global adalah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
 
Dimana The Fed memainkan peran sentral dalam menentukan suku bunga acuan AS, yang kemudian menjadi patokan bagi banyak negara di dunia, termasuk Indonesia.

Disaat The Fed menaikkan suku bunga, hal ini biasanya dilakukan untuk menekan inflasi domestik AS. Namun, dampaknya tidak berhenti di sana. Kenaikan suku bunga AS membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor global. 
 
 
Sehingga mengakibatkan, aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, seperti Indonesia, menuju AS. Tekanan ini sering kali menyebabkan nilai tukar mata uang negara berkembang melemah terhadap dolar AS, yang pada akhirnya mempengaruhi inflasi domestik.

Di sisi lain, ketika politik AS berada dalam ketidakpastian  seperti saat terjadi pergantian presiden atau kebuntuan legislatif di Kongres hal ini juga dapat mempengaruhi kebijakan ekonomi secara keseluruhan, termasuk keputusan The Fed.

Misalnya, pemerintahan yang condong pada kebijakan fiskal ekspansif dapat mendorong The Fed untuk bertindak lebih agresif menaikkan suku bunga guna menghindari overheating ekonomi.

Dampak FFR pada Suku Bunga Indonesia

Indonesia, sebagai bagian dari pasar negara berkembang, tidak dapat menghindari efek domino dari keputusan The Fed. Bahkan Bank Indonesia (BI) sering kali harus menyesuaikan suku bunga acuannya untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.

Ketika The Fed menaikkan suku bunga atau Fed Fund Rate (FFR), tekanan terhadap rupiah meningkat. Untuk mencegah pelemahan nilai tukar yang signifikan, BI biasanya menaikkan suku bunga acuan. Langkah ini dimaksudkan untuk menjaga daya tarik aset berbasis rupiah dan mencegah pelarian modal. 
 
Kemudian kenaikan suku bunga BI berdampak langsung pada biaya pinjaman domestik. Perbankan akan menaikkan suku bunga kredit, yang pada gilirannya mempengaruhi sektor usaha dan konsumsi masyarakat. Ini adalah dilema bagi BI, karena langkah tersebut dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Meskipun begitu, dengan menjaga stabilitas rupiah, BI juga dapat mengontrol inflasi. Pelemahan rupiah biasanya menyebabkan kenaikan harga barang impor, yang berdampak pada meningkatnya inflasi. Oleh karena itu, penyesuaian suku bunga menjadi alat penting untuk menjaga harga tetap stabil.
 
Kebijakan BI untuk menurunkan suku bunga BI 7 Days Repo Rate merupakan langkah yang konstruktif dan diharapkan dapat mendorong penurunan suku bunga kredit.
 
Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN), Hosianna Evalita Situmorang memprediksi, dengan adanya percepatan kebijakan tersebut di Januari mampu menjadi katalisator untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik ke depannya.
 
Tak sampai disitu saja, dirinya juga menjelaskan bahwa hasil rilis data ekonomi AS yang masih solid membuat pasar memperkirakan Fed Fund Rate (FFR) akan turut ditahan usai pada pertemuan bulan lalu dipangkas ke level 4,25%-4,5%.

Pengaruh Politik AS ke Kebijakan BI

Peta politik AS memberikan pengaruh besar terhadap kebijakan ekonomi negara tersebut. Sebagai contoh, saat Donald Trump menjabat, kebijakan perdagangan proteksionis dan pengurangan pajak besar-besaran memicu ketidakpastian global.

Hal ini mendorong The Fed untuk mengambil langkah lebih hati-hati dalam menentukan kebijakan suku bunga.
 
Fokus pada belanja pemerintah besar-besaran meningkatkan kebutuhan pembiayaan, yang dapat mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih cepat untuk mengontrol inflasi. Dampak dari kebijakan ini langsung dirasakan oleh pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memprediksi ketidakpastian global yang bersumber dari kebijakan inward-looking AS di bawah pemerintahan  Donald Trump, kemungkinan besar akan terus berlanjut.

“Sehingga hal tersebut akan membatasi fleksibilitas Fed untuk menurunkan Federal Funds Rate (FFR), sehingga membatasi kemampuan BI untuk menurunkan suku bunga acuan lebih awal,” ucapnya.
 
Sementara BI-rate diramal hanya akan turun 25 bps, Josua meramal FFR akan turun sekitar 50 bps di tahun 2025.

Sejalan dengan itu, Josua juga memperkirakan tingkat inflasi Indonesia bisa melonjak lebih dari 3%, disebabkan berbagai penyesuaian tarif pajak dan cukai, dan defisit neraca transaksi berjalan (CAD) dapat melebar di tahun 2025 di tengah kemungkinan Perang Dagang 2.0, sehingga menimbulkan tantangan yang signifikan.

“CAD yang melebar meningkatkan risiko twin deficit, terutama karena kebijakan fiskal 'pro-pertumbuhan' di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, yang selanjutnya membatasi sejauh mana BI dapat menurunkan suku bunga acuan,” ungkapnya.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.