Akurat

Harga Minyak Dunia Terus Nanjak Tersulut Sanksi Baru AS ke Rusia

Hefriday | 17 Januari 2025, 15:07 WIB
Harga Minyak Dunia Terus Nanjak Tersulut Sanksi Baru AS ke Rusia

AKURAT.CO Harga minyak mentah dunia kembali mencatat kenaikan pada perdagangan Jumat (17/1/2025), menandai minggu keempat berturut-turut penguatan. Hal ini didorong oleh kekhawatiran pasokan yang semakin ketat akibat sanksi baru dari Amerika Serikat terhadap produsen minyak Rusia.

Selain itu, sinyal dari pejabat Federal Reserve tentang kemungkinan pemangkasan suku bunga turut memberikan dorongan.  
 
Kontrak berjangka Brent naik 0,2% menjadi USD81,42 per barel pada pukul 08.13 WIB, setelah sempat turun 0,9% di sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 0,3% menjadi USD78,95 per barel, meskipun pada Kamis sempat merosot hingga 1,7%.  
 
 
Kendati mengalami tekanan di tengah pekan, kedua kontrak tetap berada di jalur untuk mencetak kenaikan mingguan keempat. Secara keseluruhan, Brent telah naik 9% sepanjang tahun ini, sedangkan WTI mencatat kenaikan sebesar 10%.  
 
Pasar minyak semakin tertekan dengan penerapan sanksi baru AS yang menyasar produsen minyak dan kapal tanker Rusia. Hal ini memicu peningkatan kekhawatiran pasokan global, terlebih Rusia adalah salah satu eksportir utama minyak dunia.  
 
Analis dari Fujitomi Securities, Toshitaka Tazawa, menjelaskan bahwa kombinasi sanksi tersebut dengan prospek pemulihan permintaan menjadi faktor utama yang menguatkan pasar. "Permintaan kerosin yang diperkirakan meningkat akibat cuaca dingin di AS juga menjadi faktor pendukung," ujarnya dalam lansiran Reuters, dikutip Jumat (17/1/2025).  
 
Sementara itu, langkah AS ini juga membuat pembeli utama minyak Rusia mulai mencari sumber pasokan baru, yang menyebabkan lonjakan tarif pengiriman minyak secara global.  
 
Selain kekhawatiran pasokan, pasar minyak juga didorong oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Gubernur Fed, Christopher Waller, menyatakan bahwa inflasi cenderung terus menurun. Hal ini membuka peluang bagi bank sentral AS untuk menurunkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan pasar sebelumnya.  
 
Optimisme ini mendorong para pelaku pasar untuk memproyeksikan permintaan minyak yang lebih tinggi, seiring dengan kemungkinan peningkatan aktivitas ekonomi. Cuaca dingin ekstrem di AS juga memainkan peran penting dalam mendukung harga minyak. Permintaan kerosin, yang banyak digunakan untuk pemanas, diperkirakan melonjak selama musim dingin.  
 
Bahkan, harga gas alam di AS naik sekitar 4% pada Kamis, mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Hal ini dipicu oleh perkiraan cuaca yang lebih dingin menjelang liburan Hari Martin Luther King Jr.  
 
Di Timur Tengah, Houthi di Yaman diperkirakan akan mengumumkan penghentian serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah. Langkah ini menyusul kesepakatan gencatan senjata di Gaza antara Israel dan kelompok Hamas.  
 
Namun, ketegangan tetap ada karena kelompok Houthi menyatakan akan memantau implementasi kesepakatan tersebut dan siap melanjutkan serangan jika terjadi pelanggaran. Gangguan ini telah mengakibatkan rute pengiriman global menjadi lebih panjang dan mahal, khususnya bagi perusahaan yang memilih menghindari kawasan tersebut.  
 
Meski pasar minyak menunjukkan tren positif, investor masih berhati-hati. Ketidakpastian atas implementasi gencatan senjata di Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan global terus menjadi perhatian utama.  Ke depan, pelaku pasar akan memantau perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi global yang dapat memengaruhi permintaan dan pasokan minyak.  
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa