MBG Terbukti Atasi Permasalahan Gizi di Indonesia
Demi Ermansyah | 11 Januari 2025, 22:16 WIB

AKURAT.CO Pemerintah terus menunjukkan keseriusannya dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama bagi anak-anak sekolah.
Melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), anggaran sebesar Rp71 triliun telah disiapkan untuk pelaksanaan program di tahun 2025, dengan kemungkinan adanya tambahan hingga Rp140 triliun.
Menurut Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa program ini tidak hanya sekadar memberikan makanan bergizi, tetapi juga bertujuan untuk membangun generasi muda yang sehat dan produktif.
“Kalau anggaran tambahan disetujui Presiden, kita bisa mencakup sampai 82,9 juta pelajar dengan makan siang bergizi,” ujar Zulkifli, di Pendopo Gubernur Banten, Serang.
Seperti yang diketahui, program MBG telah resmi diluncurkan pada Senin (6/1/2025) dan menyasar 26 provinsi di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, pemerintah memprioritaskan pelajar, balita, santri, siswa PAUD, hingga ibu hamil dan menyusui sebagai penerima manfaat.
Baca Juga: Jepang Tawarkan Paket Kerjasama Dukung Program MBG, Kirim Tenaga Ahli hingga Adakan Pelatihan
Pada tahap awal Januari hingga Maret 2025, sekitar 3 juta orang akan menerima manfaat program ini. Jumlah tersebut akan bertambah secara bertahap. “April sampai Agustus nanti akan mencapai enam juta penerima, dan di akhir tahun bisa naik jadi 15 juta sampai 17,5 juta penerima manfaat,” jelas Zulkifli.
Program MBG menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mengatasi masalah gizi buruk dan stunting yang masih menjadi tantangan di Indonesia. Dengan menyediakan makanan bergizi secara gratis di sekolah dan posyandu, pemerintah berharap anak-anak Indonesia bisa tumbuh sehat dan memiliki daya saing tinggi.
Tidak hanya itu, pemerintah juga berencana melakukan konsolidasi anggaran agar program ini berjalan lancar. Langkah ini mencakup pengelolaan dana yang lebih efisien dan identifikasi sumber pendapatan baru.
Dengan rencana tambahan anggaran hingga Rp140 triliun, pemerintah menunjukkan komitmen serius untuk memperluas jangkauan program ini. Targetnya, hampir 83 juta pelajar di seluruh Indonesia bisa merasakan manfaatnya.
Program ini juga mendapat sambutan positif dari berbagai pihak karena dianggap menjadi solusi konkrit untuk masalah gizi di kalangan pelajar.
"Program ini memberikan asupan gizi yang cukup untuk anak-anak, untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan otak mereka. Dengan makan bergizi, anak-anak diharapkan dapat fokus dalam belajar tanpa terganggu rasa lapar" ucap Anisa Rara Berliana, Mbak Gizi Polkesmar 2024, salah satu pihak yang mengapresiasi program ini.
Apresiasi dan evaluasi juga disampaikan oleh Ahli gizi, dr. Tan Shot Yen, M.Hum. Ia menyoroti kelompok anak-anak picky eater, dimana pada akhirnya program MBG tak bisa melayani seluruh selera anak yang mendapatkan makanan bergizi gratis.
"Ini ada beberapa kejadian yang berbarengan, dan katanya anak-anak yang enggak makan sayur, sayurnya disisihkan, maka kita harus punya upaya. Tapi, tentu saja kita tidak boleh pukul mundur bahwa sayurnya kita bikin jadi keripik, biar kriuk-kriuk dan anaknya jadi doyan, ya nggak ada gunanya makan sayur," ujar dr. Tan.
Ia menuturkan ahli gizi yang terlibat di daerah-daerah harus bisa 'putar otak' mengulik berbagai jenis sayur yang bakal diberikan pada anak. Menurutnya, ada banyak kombinasi sayur lain yang bisa dipadukan agar bisa dinikmati anak-anak. Misalnya mengolah ayam yang dirasa terlalu keras menjadi semacam rolade.
Evaluasi dengan anak menurutnya juga penting dilakukan setelah program MBG ini mulai berjalan. Ia mengatakan anak yang enggan menghabiskan makanan dari program MBG juga harus diajak berdialog untuk menemukan masalah yang sesungguhnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










