Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa peningkatan penjualan ini didorong oleh kelompok suku cadang dan aksesori, serta makanan, minuman, dan tembakau.
"Peningkatan ini sejalan dengan meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru," ujarnya di Jakarta, Jumat (10/1/2025).
Secara bulanan (month-to-month/mtm), penjualan eceran pada Desember 2024 tumbuh signifikan sebesar 5,1%, berbalik dari kontraksi 0,4% yang tercatat pada November.
Pertumbuhan tertinggi secara bulanan berasal dari subkelompok sandang dengan kenaikan 8,1%, diikuti makanan, minuman, dan tembakau (5,5%), serta suku cadang dan aksesori (3,4%).
Pada November 2024, IPR tercatat sebesar 209,7, meningkat 0,9% secara tahunan. Namun, pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan Oktober yang mencapai 1,5%.
Kinerja pada November terutama didukung oleh kelompok bahan bakar kendaraan bermotor yang tumbuh 8,8%, suku cadang dan aksesori 7,2%, serta makanan, minuman, dan tembakau 2,5%.
Meskipun secara tahunan meningkat, penjualan eceran November secara bulanan mengalami kontraksi 0,4%. Penurunan ini disebabkan oleh turunnya permintaan pada beberapa kelompok, seperti barang budaya dan rekreasi (-3,6%), suku cadang dan aksesori (-0,8%), serta makanan, minuman, dan tembakau (-0,7%).
Faktor cuaca yang kurang mendukung turut memengaruhi aktivitas masyarakat.
Namun, beberapa kelompok mencatat pertumbuhan positif. Peralatan informasi dan komunikasi meningkat 4,2%, sementara bahan bakar kendaraan bermotor naik 1,0% secara bulanan. Kedua kelompok ini menjadi penopang kinerja penjualan eceran di tengah kontraksi.
BI juga mencatat adanya tekanan inflasi yang diperkirakan meningkat dalam tiga bulan mendatang, tepatnya pada Februari 2025. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk Februari diproyeksikan naik menjadi 160,2, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya sebesar 157,8.
Peningkatan ini sejalan dengan pola historis kenaikan harga menjelang bulan Ramadan dalam tiga tahun terakhir.
Namun, inflasi untuk enam bulan mendatang pada Mei 2025 diperkirakan menurun. IEH Mei tercatat sebesar 151,1, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 165,4. Penurunan ini dihubungkan dengan normalisasi permintaan setelah HBKN Idul Fitri.
Secara keseluruhan, BI optimistis terhadap prospek penjualan eceran di Indonesia, terutama dengan adanya perayaan HBKN yang meningkatkan konsumsi masyarakat.
Meski demikian, tantangan seperti cuaca dan tekanan inflasi tetap menjadi perhatian utama dalam menjaga kestabilan ekonomi nasional.