Alasan Shell Balik Kanan dari Proyek Energi Terbarukan
Demi Ermansyah | 9 Januari 2025, 12:52 WIB

AKURAT.CO Shell terus mengurangi keterlibatan mereka dalam sektor energi terbarukan, termasuk menarik diri dari investasi baru di energi angin lepas pantai dan divisi listrik.
Kebijakan ini seolah menjadi penanda bahwa perusahaan sedang melakukan penyesuaian besar dalam strategi bisnis mereka.
Dalam laporan terbaru yang dirilis pada Rabu (8/1), Shell mencatatkan penurunan nilai aset nontunai pasca-pajak hingga USD3 miliar.
Penurunan ini sebagian besar berasal dari investasi energi terbarukan di Eropa dan Amerika Utara, menambah tekanan pada divisi yang selama ini dianggap sebagai masa depan transisi energi global.
Langkah ini menyusul pengurangan produksi gas alam cair (LNG) yang diperkirakan hanya mencapai 6,8 juta hingga 7,2 juta metrik ton pada kuartal IV-2024. Angka ini lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang berada di kisaran 6,9 juta hingga 7,5 juta metrik ton.
Melansir dari Reuters, usut punya usut banyak pihak mempertanyakan keputusan Shell untuk membatasi ekspansi di sektor energi terbarukan.
Padahal, transisi energi hijau semakin menjadi fokus global, terutama di tengah tekanan untuk mengurangi emisi karbon. Namun, Shell tampaknya lebih memilih untuk fokus pada efisiensi operasional dan stabilitas pendapatan.
Keputusan ini mungkin juga dipengaruhi oleh berakhirnya kontrak lindung nilai pada tahun 2022, yang mengakibatkan pendapatan dari perdagangan minyak dan gas kuartal IV-2024 lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









