AKURAT.CO Dengan ancaman tarif baru dari Amerika Serikat (AS) yang kian mendekat, China kembali memperkuat strategi ekonominya.
Pemerintah, melalui Kementerian Keuangan, telah menyiapkan serangkaian kebijakan fiskal yang bertujuan tidak hanya untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi tetapi juga untuk mengantisipasi dampak tekanan global yang semakin nyata.
Dilansir dari Bloomberg, Selasa (24/12/2024), kembalinya Donald Trump sebagai Presiden AS ke-47 telah memicu kekhawatiran baru akan perang dagang. Selama masa jabatannya sebelumnya, kebijakan tarif Trump terbukti melukai perekonomian global, termasuk China.
Ancaman baru ini memberikan tantangan tambahan bagi ekonomi China yang sedang berjuang keluar dari perlambatan akibat pandemi dan krisis sektor properti.
Dalam konferensi nasional, Kementerian Keuangan China mengumumkan beberapa langkah antisipatif. Salah satunya adalah peningkatan belanja publik dengan fokus pada penguatan konsumsi domestik.
Baca Juga: Bitcoin Ngacir Tersulut Rencana Besar Trump
Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor, yang rentan terhadap fluktuasi kebijakan perdagangan internasional.
Pemerintah juga berkomitmen meningkatkan rasio defisit anggaran menjadi 4% dari PDB dan menerbitkan lebih banyak obligasi pemerintah.
Pemerintah juga berkomitmen meningkatkan rasio defisit anggaran menjadi 4% dari PDB dan menerbitkan lebih banyak obligasi pemerintah.
Hasil dari langkah ini akan digunakan untuk mendanai program-program strategis seperti pembangunan infrastruktur dan subsidi untuk sektor-sektor yang terdampak oleh ketegangan dagang.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi China saat ini adalah krisis sektor properti. Sektor ini, yang sebelumnya menjadi tulang punggung pertumbuhan, kini menghadapi tekanan besar akibat rendahnya permintaan dan tingginya utang pengembang.
Para ekonom memperingatkan bahwa tanpa langkah yang lebih agresif, China berisiko menghadapi spiral deflasi yang dapat memperparah krisis properti. Stimulus fiskal sebesar 2% dari PDB dipandang positif, tetapi para analis menilai angka ini masih belum cukup.
Strategi Ke Depan
Di tengah tekanan ini, pemerintah China juga berfokus pada diversifikasi pasar ekspor untuk mengurangi ketergantungan pada AS. Selain itu, upaya mendorong inovasi teknologi dan memperkuat sektor manufaktur lokal terus menjadi prioritas.
Dengan target pertumbuhan ekonomi 5% pada 2025, China harus bergerak cepat untuk mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang mampu menjawab tantangan domestik maupun global.
Strategi Ke Depan
Di tengah tekanan ini, pemerintah China juga berfokus pada diversifikasi pasar ekspor untuk mengurangi ketergantungan pada AS. Selain itu, upaya mendorong inovasi teknologi dan memperkuat sektor manufaktur lokal terus menjadi prioritas.
Dengan target pertumbuhan ekonomi 5% pada 2025, China harus bergerak cepat untuk mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang mampu menjawab tantangan domestik maupun global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi









