AKURAT.CO CEO Tesla, Elon Musk, kembali menjadi sorotan setelah Rosa DeLauro selaku anggota Partai Demokrat yang berpengaruh di Komite Anggaran DPR AS, menuduhnya melakukan lobi politik untuk menghapus aturan penting terkait investasi AS di China. Langkah ini diduga dilakukan Musk untuk melindungi bisnis Tesla di pasar China yang menguntungkan.
Dilansir dari Reuters, Senin (23/12/2024), DeLauro mengklaim Musk menggunakan pengaruh besarnya untuk mempengaruhi politisi Republik agar mendukung pencabutan aturan yang mengatur investasi AS di sektor teknologi China.
Namun, Musk merespons tudingan itu dengan keras melalui platform X, bahkan menyerukan agar DeLauro dicopot dari Kongres. Kontroversi ini mencerminkan bagaimana hubungan bisnis dan politik sering kali berbenturan, terutama dalam isu strategis seperti investasi lintas negara.
Tesla dan Bisnisnya di China adalah salah satu pasar terbesar Tesla, dengan penjualan Model Y dan Model 3 yang terus meningkat. Pada November 2024, Tesla mencatat penjualan hingga 73.490 unit di negara tersebut, menandakan kebangkitan dari tantangan awal tahun.
Meski menghadapi persaingan ketat dari produsen lokal seperti BYD Co., Tesla tetap berhasil mempertahankan momentum penjualannya. Pabrik Gigafactory di Shanghai menjadi pusat produksi penting bagi Tesla, mempertegas peran strategis China dalam operasional global perusahaan.
Dimana dirinya menyoroti hubungan Tesla yang kuat dengan China, termasuk keberadaan Gigafactory Tesla di Shanghai yang menghasilkan sekitar 50% produksi mobil Tesla secara global.
DeLauro juga menyebut bahwa koneksi Tesla dengan Partai Komunis China (CCP) berpotensi menambah risiko terhadap keamanan nasional AS. “Ini bukan sekadar bisnis. Ini tentang melindungi rantai pasokan dan keamanan nasional kita,” tegasnya.
DeLauro juga menyebut bahwa koneksi Tesla dengan Partai Komunis China (CCP) berpotensi menambah risiko terhadap keamanan nasional AS. “Ini bukan sekadar bisnis. Ini tentang melindungi rantai pasokan dan keamanan nasional kita,” tegasnya.
Namun, Musk merespons tudingan itu dengan keras melalui platform X, bahkan menyerukan agar DeLauro dicopot dari Kongres. Kontroversi ini mencerminkan bagaimana hubungan bisnis dan politik sering kali berbenturan, terutama dalam isu strategis seperti investasi lintas negara.
Tesla dan Bisnisnya di China adalah salah satu pasar terbesar Tesla, dengan penjualan Model Y dan Model 3 yang terus meningkat. Pada November 2024, Tesla mencatat penjualan hingga 73.490 unit di negara tersebut, menandakan kebangkitan dari tantangan awal tahun.
Meski menghadapi persaingan ketat dari produsen lokal seperti BYD Co., Tesla tetap berhasil mempertahankan momentum penjualannya. Pabrik Gigafactory di Shanghai menjadi pusat produksi penting bagi Tesla, mempertegas peran strategis China dalam operasional global perusahaan.
Namun, hubungan erat ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang bagaimana bisnis besar dapat mempengaruhi kebijakan strategis negara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T










