Begini Prospek Ekonomi RI di Tahun 2025 Menurut Schroders
Demi Ermansyah | 11 Desember 2024, 18:31 WIB

AKURAT.CO Tahun 2024 menjadi saksi gejolak besar di pasar global, didorong oleh faktor politik dan ekonomi dari berbagai belahan dunia.
Dengan latar belakang tahun politik global dan eskalasi konflik di beberapa wilayah, baru-baru ini Schroders Indonesia kembali memaparkan pandangan mereka terhadap peluang dan tantangan yang akan dihadapi Indonesia pada tahun 2025.
Pemotongan suku bunga oleh The Fed pada tahun 2024 membawa optimisme bagi pasar keuangan global, namun dinamika lain seperti kebijakan ekonomi AS di bawah Presiden Donald Trump menghadirkan tantangan baru.
Dimana menurut laporan Schroders, kebijakan pro-pertumbuhan AS, seperti pemotongan pajak korporasi dan tarif impor, diprediksi akan menekan perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Ketika ekonomi AS tumbuh kuat, arus keluar portofolio dari pasar negara berkembang dapat terjadi, menciptakan tekanan pada neraca pembayaran Indonesia,” tulis Schroders dalam laporan terbarunya yang diterima di Jakarta, Rabu (11/12/2024).
Baca Juga: Ada Perang Dagang, Ini Saran Schroders Soal Strategi Moneter, Fiskal dan Perdagangan RI di 2025
Selain itu, pertumbuhan ekonomi China yang tertahan oleh lesunya sektor properti dan tekanan tarif AS akan berdampak pada volume ekspor Indonesia ke negara tersebut. Kendati demikian, kenaikan harga komoditas yang mungkin terjadi dapat menjadi penyeimbang untuk memperbaiki neraca perdagangan.
Kemudian, dalam laporan tersebut, Schroder melihat pasar obligasi Indonesia menghadapi tantangan besar di tahun 2025. Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga pada akhir 2024, tetapi fleksibilitas kebijakan BI masih tergantung pada kondisi nilai tukar Rupiah yang cenderung rentan terhadap arus keluar modal asing.
Instrumen Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi salah satu strategi penting untuk menarik minat asing. Hingga Oktober 2024, kepemilikan asing atas SRBI mencapai Rp 262 triliun, sebuah indikasi kuat akan keberhasilan instrumen ini dalam menarik modal asing.
Namun, jika inflasi global meningkat akibat kebijakan AS, ruang gerak BI dalam memangkas suku bunga lebih lanjut akan terbatas. Schroders menyoroti pentingnya stabilitas Rupiah sebagai prioritas utama.
Tak sampai disitu, Schroders juga menggarisbawahi bahwa pasar saham Indonesia memiliki peluang untuk bertumbuh meskipun menghadapi risiko volatilitas tinggi. “Kami melihat belanja fiskal di tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran akan menjadi penggerak utama pertumbuhan domestik,” jelas laporan tersebut.
Anggaran tahun 2025 menyoroti alokasi yang lebih besar untuk program pangan dan kenaikan gaji PNS, yang dapat memacu konsumsi domestik. Namun, kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% mungkin menjadi tantangan bagi daya beli masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










