Akurat

Memanas, Giliran China Batasi Ekspor Sejumlah Material Super Keras ke AS

Demi Ermansyah | 7 Desember 2024, 16:55 WIB
Memanas, Giliran China Batasi Ekspor Sejumlah Material Super Keras ke AS

AKURAT.CO China kembali menggebrak panggung perdagangan internasional dengan melarang ekspor galium, germanium, antimon, dan material super keras lainnya ke Amerika Serikat. Di mana kebijakan ini menjadi langkah terbaru dalam eskalasi perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia, China dan AS.

Disebutkan bahwasanya mineral-mineral tersebut memiliki peran vital dalam aplikasi teknologi canggih dan militer untuk Amerika Serikat. Galium dan germanium, misalnya, digunakan dalam pembuatan semikonduktor, kabel serat optik, dan teknologi inframerah. Sementara itu, antimon menjadi bahan utama dalam produksi peluru, amunisi, dan senjata lainnya.

Melansir dari Reuters, larangan ini muncul sehari pasca Washington kembali memperketat aturan ekspor semikonduktor ke 140 perusahaan China. Menurut pernyataan Kementerian Perdagangan China, pembatasan ini didasarkan pada isu keamanan nasional dan memperkuat aturan yang telah diterapkan sejak tahun lalu. 

 
Tak hanya itu saja, perintah tersebut juga mengharuskan pengawasan lebih ketat terhadap ekspor grafit, bahan utama dalam baterai kendaraan listrik.

“China telah mengirimkan sinyal bahwa mereka tidak ragu mengambil langkah keras ini, tentunya hal ini memicu kekhawatiran bahwa China dapat memperluas pembebasan ke mineral penting lainnya seperti nikel atau kobalt," ucap Kepala Urusan Eksternal sekaligus Kepala Strategi Iklim di Talon Metals, Todd Malan.
 
Ketegangan ini tentunya tidak hanya mempengaruhi hubungan diplomatik kedua negara, tambahnya, akan tetapi juga memunculkan kekhawatiran tentang rantai pasokan global. Pasar global telah merespons dengan lonjakan harga antimon trioksida hingga 228% sejak awal tahun.
 
Bagi AS, langkah ini menyoroti urgensi diversifikasi rantai pasokan dan pengembangan sumber daya mineral dalam negeri. 
 
Senada dengan Malan, CEO Perpetua Resources, Jon Cherry menyebut tindakan ini sebagai akses persenjataan oleh China. “Oleh karena itu sudah saatnya AS berhenti bergantung pada China untuk mineral strategis ini,” tegasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.