Akurat

Dominasi Perdagangan China dan Tmur Tengah di Era Aliansi Baru

Demi Ermansyah | 7 Desember 2024, 16:51 WIB
Dominasi Perdagangan China dan Tmur Tengah di Era Aliansi Baru

AKURAT.CO Perubahan besar sedang terjadi dalam peta perdagangan dunia, dengan China dan negara-negara Timur Tengah berada di garis depan. Mengacu kepada laporan dari Asia House menunjukkan bagaimana aliansi baru ini menggeser pusat gravitasi ekonomi global, meninggalkan ekonomi Barat yang kini semakin proteksionis.

Pada tahun 2023, nilai perdagangan antara China dan Timur Tengah mencapai USD225 miliar. Angka ini diproyeksikan terus meningkat hingga USD325 miliar pada 2027. Bahkan, jika tren ini berlanjut, perdagangan Timur Tengah dengan ekonomi berkembang di Asia dapat mencapai USD682 miliar pada 2030. 

Dibandingkan dengan perdagangan antara negara-negara teluk (Timur Tengah) dengan AS, Inggris, dan Eropa hanya tumbuh perlahan meski telah mencapai USD250 miliar pada tahun yang sama.
 

“Saat ini,  adanya pergeseran pasar perdagangan dunia, ditandai dengan adanya Aliansi baru yang sedang terbentuk, aliansi ini tentunya akan ini mencakup berbagai kerjasama diplomatik, ekonomi, dan perdagangan yang lebih erat antara Timur Tengah dan negara-negara Asia yang berkembang pesat, seperti China. Tentunya langkah ini didorong oleh keinginan untuk menarik investasi asing dan mengoptimalkan ekspor minyak ke pasar-pasar utama," papar Kepala Eksekutif Asia House, Michael Lawrence melalui lansiran Reuters, Sabtu (7/12/2024).

Dua negara ini (Arab Saudi dan Uni Emirat Arab), lanjut Lawrence, akan berada di garis depan perubahan ini. Di mana kedua negara tersebut dikabarkan sudah menerima undangan untuk bergabung dalam BRICS, memperkuat hubungan mereka dengan Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan.
 
Langkah ini menegaskan pergeseran fokus Timur Tengah dari Barat ke Asia.

"Meskipun begitu, kebijakan proteksionis yang diterapkan oleh pemerintahan Trump masih akan menjadi tantangan besar bagi aliansi baru ini. Dimana proteksionisme ini akan berpotensi menghambat pertumbuhan perdagangan antara China dan negara-negara Teluk. Meskipun demikian, tren ini menunjukkan bagaimana dinamika perdagangan global terus berkembang di tengah tantangan geopolitik," paparnya kembali

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.