AKURAT.CO Donald Trump kembali hadir dengan ancaman kebijakan kerasnya, kali ini mengincar BRICS, kelompok negara berkembang yang terus menggemakan isu de-dolarisasi. Dalam pernyataan terbarunya, Trump menuntut komitmen BRICS untuk tidak menciptakan mata uang baru sebagai alternatif dolar AS. Jika tidak, tarif hingga 100% siap diberlakukan.
"BRICS tidak boleh mencoba menggantikan dolar. Kalau mereka nekat, mereka harus siap mengucapkan selamat tinggal pada akses ekonomi AS," tulis Trump di jejaring Truth Social, dikutip Senin (2/12/2024).
Ancaman tersebut tak hanya ditujukan pada BRICS, tetapi juga negara lain yang mempertimbangkan langkah serupa (dedolarisasi). Ancaman ini semakin relevan menjelang pelantikannya pada Januari mendatang. Dimana Trump dan timnya berencana untuk menghukum negara-negara yang mencoba menjauh dari dolar, termasuk melalui tarif perdagangan dan pengendalian ekspor.
Seperti yang diketahui, BRICS mulai membahas isu de-dolarisasi sejak 2023 lalu, usut punya usut isu ini nampaknya didorong oleh dominasi ekonomi AS dan sanksi yang diberikan terhadap Rusia. Meski ide ini menarik, realisasinya masih menghadapi hambatan besar. Bahkan, di pertemuan BRICS di Kazan, para peserta tetap mengandalkan dolar untuk transaksi karena keterbatasan alat pembayaran lokal.
Meski China dengan yuan-nya dianggap sebagai pesaing potensial, mata uang tersebut belum cukup kuat untuk menggantikan dominasi dolar. Infrastruktur keuangan global yang masih berbasis dolar menjadi tantangan terbesar bagi BRICS.
Pertaruhan di Panggung Global
Ketika Donald Trump menegaskan komitmennya untuk mempertahankan dominasi dolar AS, ia berbicara bukan hanya tentang mata uang semata, tetapi juga tentang posisi strategis Amerika Serikat di panggung global.
Dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia telah lama menjadi pilar kekuatan ekonomi dan geopolitik AS. Status ini memungkinkan Amerika mencetak uang dan memperdagangkannya secara global tanpa resiko langsung terhadap inflasi domestik yang berlebihan. Selain itu, dolar menjadi alat untuk mempengaruhi ekonomi negara lain melalui kebijakan seperti sanksi ekonomi.
Jika BRICS Menang
Namun, jika BRICS berhasil menciptakan mata uang alternatif yang cukup kompetitif, dampaknya akan signifikan bagi Amerika Serikat.
1. Erosi Kepercayaan terhadap Dolar
Jika negara-negara mulai beralih ke mata uang baru, permintaan global untuk dolar akan menurun. Akibatnya, AS mungkin harus menghadapi penurunan nilai dolar di pasar internasional, yang dapat memperburuk defisit perdagangan dan meningkatkan biaya impor.
2. Hilangnya Kendali Ekonomi Global
Salah satu kekuatan AS terletak pada kemampuannya mengontrol ekonomi global melalui dolar. Dengan mendominasi sistem pembayaran internasional seperti SWIFT, AS dapat memberikan sanksi atau mengendalikan arus uang ke negara-negara yang dianggap melanggar kebijakan mereka. Kehilangan status ini berarti AS akan kehilangan leverage penting dalam kebijakan luar negeri.
3. Ancaman pada Obligasi dan Keuangan Domestik
Dolar yang melemah bisa berdampak pada pasar obligasi AS. Negara-negara seperti China dan Jepang, yang memegang sebagian besar obligasi AS, mungkin akan menjual kepemilikan mereka jika kepercayaan terhadap dolar memudar. Ini berisiko meningkatkan biaya pinjaman AS, memengaruhi stabilitas fiskal, dan memaksa pemerintah mengambil langkah-langkah ekonomi yang sulit.
4. Kehilangan Dominasi Petrodollar
Salah satu pilar penting dominasi dolar adalah hubungannya dengan perdagangan minyak. Sebagian besar negara membeli minyak dalam dolar (petrodollar), memperkuat status dolar sebagai mata uang utama dunia. Jika BRICS menciptakan mekanisme untuk membeli minyak dengan mata uang baru, sistem petrodollar yang menopang perekonomian AS selama beberapa dekade terakhir bisa runtuh.
Secara tidak langsung Trump memahami bahwa status dolar lebih dari sekadar simbol ekonomi. Ini adalah alat diplomasi dan kekuatan geopolitik. Dengan dolar, AS memiliki akses ke berbagai keistimewaan global yang tidak dimiliki negara lain, seperti kebebasan memberikan pinjaman besar tanpa risiko besar terhadap nilai mata uang.
Hilangnya status ini akan memaksa AS bersaing di dunia multipolar, di mana pengaruhnya tidak lagi dominan. Oleh karena itu tidaklah heran, apabila Trump siap menggunakan segala cara untuk mempertahankan supremasi dolar, termasuk ancaman tarif yang bisa mengguncang perekonomian global.
“Kami meminta komitmen dari negara-negara ini bahwa mereka tidak akan menciptakan Mata Uang BRICS yang baru, maupun mendukung mata uang lain untuk menggantikan kekuatan Dolar AS, atau mereka akan menghadapi tarif 100%, dan harus siap untuk mengucapkan selamat tinggal pada penjualan ke ekonomi AS yang luar biasa,” ucap Trump melalui lansiran Bloomberg.
Langkah Trump tersebut tentunya menjadi pengingat bahwa dominasi dolar tak mudah digeser. Negara-negara BRICS perlu strategi jangka panjang untuk membangun mata uang yang cukup kompetitif. Namun, jika Trump benar-benar menerapkan tarif 100%, hubungan dagang BRICS dengan AS bisa menjadi medan pertempuran baru dalam ekonomi global.