Prabowo Diharapkan Wujudkan Pemerintah Bersih pada Kabinet Gemoy
Hefriday | 17 Oktober 2024, 16:45 WIB

AKURAT.CO Pidato presiden terpilih Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya integritas dan transparansi dalam pemerintahan mendapat sorotan luas. Pidato ini dianggap sebagai angin segar bagi publik yang menginginkan tata kelola pemerintahan yang bersih.
Namun, di balik janji-janji tersebut, muncul beberapa indikasi yang dinilai kontraproduktif terhadap upaya menciptakan pemerintahan yang bebas dari korupsi.
Menurut Dosen Universitas Paramadina, Septa Dinata, komposisi kabinet Prabowo yang cenderung "super gemuk" memunculkan kekhawatiran. Kabinet yang besar, banyak diisi oleh tokoh-tokoh dari partai politik, dianggap sebagai konsekuensi logis dari koalisi yang dibangun untuk mengamankan kemenangan pemilu.
“Jika dibandingkan dengan negara-negara besar, maka Indonesia akan mencetak sejarah karena menyusun kabinet terbesar di dunia,” ujar Septa pada seminar INDEF, Rabu (16/10/2024).
Baca Juga: Ekonom Ingatkan Kabinet Gemoy Prabowo Agar Tak Main-main dengan APBN
Septa Dinata menilai bahwa kabinet yang dipenuhi oleh kader partai politik berpotensi memperlemah independensi para menteri. Ia mengungkapkan, mayoritas menteri yang terlibat dalam kasus korupsi sejak era reformasi merupakan kader partai.
Septa Dinata menilai bahwa kabinet yang dipenuhi oleh kader partai politik berpotensi memperlemah independensi para menteri. Ia mengungkapkan, mayoritas menteri yang terlibat dalam kasus korupsi sejak era reformasi merupakan kader partai.
"Selama ini, pasca reformasi 98 sampai hari ini, mayoritas para menteri yang terlibat korupsi adalah para kader partai. Jadi masalahnya memang lebih banyak pada desain politik kelembagaan kita," jelasnya.
Koalisi besar ini juga mengancam lenyapnya peran oposisi dalam pemerintahan. Jika Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akhirnya masuk ke dalam pemerintahan, Indonesia mungkin tidak akan memiliki oposisi yang berfungsi dengan efektif. Tanpa oposisi, mekanisme pengawasan terhadap pemerintahan bisa semakin lemah, memperbesar risiko penyalahgunaan anggaran.
Septa juga menggarisbawahi bahwa tindakan "main-main" dengan APBN diprediksi akan terus terjadi. Pembiayaan partai politik seringkali dibebankan kepada para menteri yang memiliki latar belakang partai. Dalam konteks pemilu yang sangat mahal di Indonesia, tekanan finansial ini semakin memperbesar risiko penyalahgunaan wewenang.
"Harapan sebagaimana disampaikan oleh presiden terpilih Prabowo akan menjadi sulit. Tindakan ‘main-main’ APBN disinyalir akan terus terjadi," tegas Septa. Kelembagaan politik di Indonesia, menurutnya, menciptakan peluang besar bagi para oknum untuk memainkan anggaran negara demi kepentingan pribadi dan partai.
Selain itu, Septa menyoroti adanya "missing linkages" antara DPR dan konstituen. Dalam proses pengesahan anggaran, pelibatan publik sangat minim, sehingga pengawasan anggaran negara menjadi sesuatu yang relatif "gelap". Dunia politik yang elitis ini mempersempit peluang publik untuk berperan aktif dalam memastikan anggaran dikelola secara benar dan transparan.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Septa mengusulkan penguatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurutnya, KPK harus diberdayakan kembali untuk mengawasi jalannya pemerintahan.
Koalisi besar ini juga mengancam lenyapnya peran oposisi dalam pemerintahan. Jika Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akhirnya masuk ke dalam pemerintahan, Indonesia mungkin tidak akan memiliki oposisi yang berfungsi dengan efektif. Tanpa oposisi, mekanisme pengawasan terhadap pemerintahan bisa semakin lemah, memperbesar risiko penyalahgunaan anggaran.
Septa juga menggarisbawahi bahwa tindakan "main-main" dengan APBN diprediksi akan terus terjadi. Pembiayaan partai politik seringkali dibebankan kepada para menteri yang memiliki latar belakang partai. Dalam konteks pemilu yang sangat mahal di Indonesia, tekanan finansial ini semakin memperbesar risiko penyalahgunaan wewenang.
"Harapan sebagaimana disampaikan oleh presiden terpilih Prabowo akan menjadi sulit. Tindakan ‘main-main’ APBN disinyalir akan terus terjadi," tegas Septa. Kelembagaan politik di Indonesia, menurutnya, menciptakan peluang besar bagi para oknum untuk memainkan anggaran negara demi kepentingan pribadi dan partai.
Selain itu, Septa menyoroti adanya "missing linkages" antara DPR dan konstituen. Dalam proses pengesahan anggaran, pelibatan publik sangat minim, sehingga pengawasan anggaran negara menjadi sesuatu yang relatif "gelap". Dunia politik yang elitis ini mempersempit peluang publik untuk berperan aktif dalam memastikan anggaran dikelola secara benar dan transparan.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Septa mengusulkan penguatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurutnya, KPK harus diberdayakan kembali untuk mengawasi jalannya pemerintahan.
“KPK tidak akan berjalan sesuai dengan khittahnya, kalau tidak ada political will dari pucuk kepemimpinan nasional," ungkapnya. Sinyal yang kuat dari presiden terkait komitmen anti korupsi sangat penting untuk mendorong ekosistem pemerintahan yang bersih.
Sinyal yang tegas dari pucuk kepemimpinan akan berdampak besar terhadap seluruh birokrasi. Jika presiden memberikan contoh baik dengan tindakan nyata anti korupsi, maka birokrasi di bawahnya akan mengikuti. Sebaliknya, jika komitmen tersebut lemah, risiko penyalahgunaan kekuasaan semakin besar.
Sinyal yang tegas dari pucuk kepemimpinan akan berdampak besar terhadap seluruh birokrasi. Jika presiden memberikan contoh baik dengan tindakan nyata anti korupsi, maka birokrasi di bawahnya akan mengikuti. Sebaliknya, jika komitmen tersebut lemah, risiko penyalahgunaan kekuasaan semakin besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 34 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 4Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 5Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 6Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 7Asuransi Astra Serahkan Toyota Veloz Hybrid kepada Dommy Eriko, Pemenang Undian GASPOL 2026
- 8Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








