China Siapkan Stimulus Fiskal CNY10 Triliun Untuk Dorong Perekonomian

AKURAT.CO China baru-baru ini kembali mempertimbangkan langkah-langkah ekonomi besar dengan penerbitan utang hingga CNY10 triliun (Rp21.957 triliun) sebagai upaya untuk meningkatkan dukungan fiskal bagi perekonomian yang mulai melemah.
Menurut ekonom senior sekaligus mantan kepala lembaga peneliti kementerian keuangan China, Jia Kang menyampaikan bahwa pemerintah harus meningkatkan kepercayaan publik dengan menggenjot investasi pemerintah dalam proyek-proyek publik.
Dalam wawancaranya dengan media lokal, Jia menyatakan bahwa peningkatan penerbitan obligasi antara 4 triliun hingga 10 triliun yuan tidak berlebihan mengingat pertumbuhan ekonomi China.
Baca Juga: Ekonomi Melesu, Bank Sentral China Siapkan Sederet Kebijakan Baru
"Tentunya peningkatan proyek publik akan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan warga, dan menghidupkan potensi konsumsi, sehingga menjadi solusi krusial dalam menghadapi perlambatan ekonomi," ucapnya dikutip Sabtu (5/10/2024).
Politburo China juga telah memberi sinyal untuk meningkatkan penerbitan obligasi kedaulatan ultra-panjang dan obligasi khusus lokal, dengan tujuan mendorong investasi. Tahun ini, Kementerian Keuangan berencana menerbitkan obligasi senilai CNY2 triliun, dana ini akan digunakan untuk menstimulasi konsumsi dan membantu pemerintah daerah menangani masalah utang. Langkah ini disebut sebagai salah satu upaya stimulus terbesar sejak krisis keuangan global.
Menurut Allan von Mehren, kepala ekonom China di Danske Bank A/S, dengan stimulus besar ini, proyeksi pertumbuhan ekonomi China untuk tahun depan telah direvisi menjadi 5,2% dari sebelumnya 4,8%.
Namun, langkah ini juga mendapat catatan kehati-hatian dari ekonom lainnya. Rasio utang terhadap PDB China telah naik ke rekor 286%, dan hal ini menjadi faktor yang harus diperhitungkan ketika pemerintah memutuskan skala ekspansi fiskal yang akan dilaksanakan.
"Meskipun tidak ada batasan yang keras, para pembuat kebijakan mungkin ragu memberikan stimulus besar karena tingkat utang publik yang tinggi," kata Chetan Ahya, kepala ekonom Asia di Morgan Stanley.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 4Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 5Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 620 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 7Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 8Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 9Enam Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, Total Sudah 32
- 10Prabowo Usut Tuntas Karhutla: Kali Ini Tidak Bisa Ditindak Biasa-biasa Saja









